Tim KPI Cilacap datang bersama tenaga kesehatan dan Relawan Pertamina Peduli (Relpi). Mereka menyapa para pengungsi tanpa jarak, menanyakan kondisi, dan mengajak bercakap santai. Di sudut lain, beberapa anak mulai tersenyum ketika relawan mengajak bermain. Di antara keriuhan kecil itu, seorang nenek memejamkan mata sejenak sambil digenggam tangannya oleh relawan, seakan menemukan tempat untuk meletakkan cemasnya.
Pendampingan psikososial menjadi bagian penting dalam kunjungan itu. Ada tawa kecil yang perlahan mencairkan kecanggungan. Ada obrolan pendek yang menenangkan. Bagi warga yang kehilangan rumah, perhatian kecil semacam itu menjadi jembatan untuk menata ulang keberanian.
Menjelang siang, perhatian bergeser ke MTs PP Cibeunying. Di sekolah yang berdiri tak jauh dari area longsor itu, 75 siswa dari SD, SMP/MTs, hingga SMA berkumpul. Mereka akan mengikuti pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), program yang diinisiasi KPI Cilacap bersama BPBD Kabupaten Cilacap.
“Ini inisiatif pertama SPAB di Kabupaten Cilacap,” kata Sunaryo Adi.
Di hadapan para siswa, ia menegaskan bahwa pengetahuan bencana bukan sekadar teori. Tinggal di wilayah rawan longsor berarti mereka harus memahami risiko, mengenal jalur evakuasi, menyiapkan tas siaga, serta terbiasa mengikuti simulasi penyelamatan.
Materi kemudian dilanjutkan oleh Rubino Sriadji, Analis Kebencanaan Ahli BPBD Cilacap. Ia mengingatkan berbagai bahaya yang bisa mengancam: gempa, longsor, banjir, angin kencang, kebakaran, hingga bencana akibat kegagalan teknologi atau ancaman biologis seperti pandemi.
Menurutnya, SPAB adalah fondasi penting agar sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang yang aman bagi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan. “Tujuannya memastikan keberlangsungan layanan pendidikan meski berada di wilayah risiko,” ujarnya.
Plt Korwil Kecamatan Majenang, Eko Sartono, menyambut baik kehadiran SPAB.
“Inisiatif ini bukan hanya membantu warga bangkit, tetapi membekali generasi muda agar siap dan tidak gamang menghadapi risiko bencana. Desa seperti Cibeunying sangat membutuhkan pendekatan semacam ini,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, KPI Cilacap membagikan 134 paket peralatan sekolah berisi tas, sepatu, buku, dan alat tulis. Anak-anak memeluk tas baru mereka dengan ekspresi antusias, seakan menemukan kembali rutinitas yang sempat hilang saat bencana datang.
Menjelang sore, desa kembali lengang. Namun hening kali ini tidak sama dengan hening yang menyelimuti setelah longsor terjadi. Ada langkah lebih ringan ketika warga meninggalkan balai desa membawa bantuan sembako. Ada suara anak-anak yang mempelajari modul SPAB sambil berjalan menuju tenda pengungsian.

