Semarang (ANTARA) - Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Daerah Jawa Tengah Andang Wahyu Triyanto mengatakan bahwa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih harus dikelola secara modern agar berhasil dan mampu mengangkat ekonomi desa.
"Kalau ingin Kopdes Merah Putih berkelanjutan, maka harus ada reorganisasi berkesinambungan," kata Andang yang juga anggota DPRD Jateng, di Semarang, Rabu.
Hal tersebut disampaikan dalam diskusi Semarang Trending Topic bertema "Mampukah Koperasi Desa Merah Putih Mengangkat Potensi Ekonomi Lokal?" yang diselenggarakan Radio Idola Semarang.
Menurut dia, Koperasi Merah Putih akan mampu angkat potensi ekonomi lokal dengan syarat pengurus kopdes memiliki "sense of business", mau belajar, dan pengurus jeli melihat potensi lokal.
"Manajemen harus bagus, SDM (sumber daya manusia) yang mengelola harus kapabel. Kami akan bergerak di masing-masing wilayah sesuai peran kami. Untuk menyukseskan program Presiden ini," katanya.
Kepala Balai Pelatihan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Balatkop UKM) Jateng Dwi Silo Raharjo menyebutkan setidaknya terdapat 8.523 Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih di provinsi tersebut.
Dari jumlah itu, 11 koperasi di antaranya menjadi proyek percontohan yang sudah aktif beroperasi dan diresmikan Presiden Prabowo Subianto, Senin (21/7) lalu.
"Dari 8.000-an Kopdes Merah Putih di Jateng, sebagian sudah memiliki berbagai gerai untuk memenuhi kebutuhan warga. Mulai dari gerai pupuk/sarana pertanian, kantor pos/logistik, sembako, simpan pinjam, klinik desa, dan apotek desa," katanya.
Dengan adanya Koperasi Merah Putih, ia berharap dapat mengatasi berbagai persoalan, mulai dari rantai distribusi panjang kebutuhan pokok, keterbatasan modal usaha, hingga fluktuasi harga.
Ia juga yakin keberadaan Koperasi Merah Putih mampu mengangkat potensi ekonomi lokal, apalagi digarap secara berbarengan lintas kementerian.
"Tentu yakin bisa. Karena Kopdes Merah Putih tak hanya Menteri Koperasi dan UKM yang ditugasi. Tercatat, ada 14 kementerian yang juga ikut gabung untuk mengeroyok program ini agar sukses," katanya.
Ketua Koperasi Desa Merah Putih Desa Pakopen Bandungan, Kabupaten Semarang, Setio Budi mengatakan koperasinya sudah aktif berjalan dengan potensi usaha sayur-mayur.
"Selama ini petani hanya jualan di pasar tradisional yang harganya relatif masih rendah. Selain itu, harapannya ke depan pengurus bisa membimbing para petani yang nanti menjadi anggota untuk dibuatkan pola tanam yang stabil setiap tahun sehingga tetap bisa menjaga pasokan sayuran," katanya.
Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes) Bayu Bagas Hapsoro mengatakan bahwa hampir semua Koperasi Merah Putih berfokus pada berproduksi.
"Tetapi, yang lebih penting 'siapa yang membeli?'. Soal pasar ini penting. Saya berharap dalam pengembangan koperasi ini orientasi pengelola pada 'market'. Dan perlu diperhatikan, pasar sekarang beda dengan lima tahun lalu," katanya.

