Semarang (ANTARA) - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi membeberkan strategi untuk menekan sejumlah kenaikan harga bahan pokok yang sudah melampaui harga acuan pemerintah (HAP), terutama dengan pemerataan pasokan.
"Ini untuk menghindari inflasi, dengan memaksimalkan potensi wilayah. Jadi koordinasi antardaerah," katanya di sela Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara daring, Senin.
Caranya, kata dia, dengan pemerataan pasokan pangan antardaerah kabupaten/kota berbasis potensi wilayah, baik untuk bahan pangan antara lain daging, telur ayam ras, cabai, kentang dan bawang merah
Rapat yang diikuti juga secara regional di kompleks Kantor Gubernur Jateng itu diikuti anggota Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), termasuk organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Dalam strategi itu, ia mencontohkan, apabila suatu kabupaten/kota punya kekhususan produksi pangan tertentu maka disesuaikan kebutuhan daerah lain yang kurang.
"Kalau harga bawang merah tinggi, hasil (panen) di Brebes digeser (daerah lain). Cabai juga geser, tinggal koordinasi kebutuhan logistik-nya. Saya yakin dinas kita bisa intervensi ke sana sehingga bisa pemerataan," katanya.
Dengan pemerataan kebutuhan pangan itu, ia yakin deviasi harga bahan pokok antarwilayah bisa diintervensi langsung sehingga inflasi akan mudah dikendalikan.
"Kita harus bisa, selama ini kan itu jadi kendala," katanya.
Adapun terkait adanya gejolak kenaikan harga untuk sejumlah komoditas saat ini, kata Luthfi, ada sejumlah faktor yang memengaruhi, di antaranya bertambah konsumsi masyarakat jelang momentum Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah.
Faktor lainnya, lanjut dia, curah hujan tinggi dan hama patek yang tidak hanya berdampak pada harga di Jateng, melainkan juga kenaikan harga secara nasional.
"Harga bahan pokok penting kalau dilihat dari HAP, tidak terlalu naik signifikan, kecuali cabai rawit merah keriting yang mencapai Rp85 ribu," katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan bahwa hama patek di sejumlah daerah dan curah hujan tinggi berdampak pada kuantitas dan kualitas hasil panen.
Secara nasional, curah hujan tinggi, terjadi di Jateng, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.
"Posisi Jateng saat ini, Indeks Perkembangan Harga (IPH) 2,23 persen. Pemicu cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras," katanya.
Amalia membeberkan, ciri inflasi Ramadhan 2024 dan 2025 hampir sama, di antaranya pada daging ayam ras dan bawang merah saat Lebaran.
"Tahun ini sampai pekan ketiga, yang perlu diwaspadai (lonjakan harga) cabai rawit," katanya.