Bangka (Antaranews Jateng) - Pengembangan wisata kota lama Banyumas, Jawa Tengah, perlu dimaksimalkan seperti halnya Kampung Gedong di Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, kata Wakil Ketua DPRD Kabupaten Banyumas Supangkat.
"Kalau yang seperti ini (Kampung Gedong, red.) memang kalau kita lihat itu di (kota lama) Kecamatan Banyumas ya, masih banyak bangunan tua khususnya yang dahulu dihuni oleh orang-orang Tionghoa," katanya di sela studi komparasi pengelolaan wisata Kampung Gedong di Desa Lumut, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Kamis.
Turut dalam studi banding tersebut, di antaranya Wakil Ketua DPRD Kabupaten Banyumas Slamet Ibnu Ansori, anggota Komisi C DPRD Kabupaten Banyumas Nanung Astoto, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Banyumas Dodet Suryandaru, Sekretaris DPRD Kabupaten Banyumas Agus Nur Hadie beserta staf, dan sejumlah awak media yang bertugas di Kabupaten Banyumas.
Supangkat mengatakan jika seandainya di Kecamatan Banyumas ada sentra industri yang menarik seperti di Kampung Gedong yang menghasilkan kerupuk kemplang, itu merupakan suatu hal yang sangat menarik untuk menjadi alternatif wisata kuliner.
"Jadi wisata kuliner itu diciptakan memang makanan-makanan yang ada di situ apa," katanya.
Ia mengatakan warga Kampung Gedong yang sebagian besar merupakan keturunan Tionghoa dan menghuni rumah-rumah tempo dulu seperti yang banyak terlihat di Kecamatan Banyumas pada tahun 1970-an, menciptakan kerupuk kemplang yang menjadi ciri khas daerah itu sehingga menarik.
Menurut dia, seandainya di kota lama Banyumas ada pembinaan untuk pengembangan industri rumah tangga yang memproduksi makanan khas seperti di Kampung Gedong, kemudian ada beberapa blok untuk pemasaran produk-produknya akan mampu menarik kunjungan wisatawan.
"Dengan model pemasaran seperti ini, menjadi alternatif bahwa orang ke Banyumas tidak hanya langsung menuju kawasan wisata, tapi di Banyumas bisa mampir ke sentra industri. Bukankah itu menarik," katanya.
Ia mengakui Kampung Gedong sangat menarik karena dihuni warga keturunan Tionghoa tempo dulu yang hidup secara berkelompok dengan mempertahankan adat dan tradisi budaya salah satunya bangunan rumah.
Menurut dia, warga Kampung Gedong dalam menjalankan kehidupannya berbaur dan menyatu dengan warga suku bangsa lainnya yang hidup di daerah itu untuk bersama-sama menciptakan usaha yang menjadikan perekonomian berjalan.
"Ini saya lihat pemerintahan desa ternyata proaktif untuk mempersiapkan seperti itu. Kalau di Banyumas akan diciptakan seperti itu, dari Disperindag harus mempromosikan terus dengan camat dan kepala desa, tapi harus ada khasnya, jadi tidak lepas dari kekhasannya itu," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Lumut Dicky Julianto mengatakan jumlah warga desanya sekitar 2.000 jiwa dari 620 keluarga, sedangkan di Dusun/Kampung Gedong terdapat sekitar 50 keluarga.
Menurut dia, industri kerupuk kemplang di Kampung Gedong ada dua unit, salah satunya masih dilakukan secara tradisional dengan memberdayakan masyarakat sekitar sehingga sering dikunjungi wisatawan.
"Gedong saat ini sudah disebut sebagai desa wisata. Rencana kami ke depan akan mengembangkan wisata hutan mangrove sehingga wisatawan yang datang ke sini, akan kami ajak jalan-jalan ke hutan mangrove," kata dia yang keturunan Tionghoa.
Terkait rumah-rumah tempo dulu yang dihuni warga Kampung Gedong, dia mengatakan ada salah satu rumah warga yang rencananya akan diambil alih oleh pemerintah untuk dijadikan sebagai benda cagar budaya karena merupakan bangunan kuno yang dibangun sekitar tahun 1700 dan merupakan rumah pemilik tambang timah pada zaman penjajahan Belanda.
Akan tetapi, kata dia, pemilik rumah tersebut tidak mengizinkan pemerintah untuk mengambil alih bangunan bersejarah itu.
Kepala Dusun Gedong A Men mengatakan mayoritas warganya merupakan keturunan Tionghoa yang nenek moyangnya diperkerjakan di tambang timah Bangka oleh pemerintah kolonial Belanda.
"Leluhur kami memang Tionghoa, namun kami tetap menjunjung NKRI," katanya.
Sementara Pelaksana Tugas Camat Belinyu Restu Ing Handayani mengharapkan setelah melakukan studi komparasi, rombongan DPRD Kabupaten Banyumas yang di dalamnya terdapat awak media dapat turut mempromosikan potensi wisata yang ada di Kecamatan Belinyu.
"Paling tidak dengan bercerita dari mulut ke mulut," ujar dia yang berasal dari Kalibagor, Kabupaten Banyumas.


