Semarang (Antaranews Jateng)) - Dua siswa yang dikeluarkan dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Semarang belum melanjutkan pindah ke sekolah lainnya sebagaimana difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah.
"Sampai hari ini, yang bersangkutan belum menghubungi kami. Kami terbuka menerima mereka asalkan mau mematuhi aturan dan tata tertib sekolah," kata Kepala SMA Negeri 11 Semarang Supriyanto di Semarang, Senin.
Sebagaimana diwartakan, SMA Negeri 1 Semarang mengeluarkan dua siswanya, yakni AN dan AF, karena dugaan kekerasan yang dilakukan terhadap juniornya saat kegiatan latihan dasar kepemimpinan (LDK).
Dua siswa itu merupakan pengurus OSIS yang menangani kegiatan LDK yang berlangsung November 2017. Mereka bersama dengan sembilan siswa pengurus OSIS lainnya yang terkena sanksi skorsing dari sekolah.
Disdikbud Jateng menyatakan langkah sekolah dengan mengeluarkan dua siswa itu sudah sesuai dengan prosedur. Akan tetapi, harus ada solusi untuk kelanjutan pendidikan karena keduanya kelas XII yang sebentar lagi mengikuti ujian nasional (UN).
Dengan pertimbangan itu, Disdikbud Jateng memfasilitasi kedua siswa tersebut untuk melanjutkan pendidikan pindah ke dua SMA negeri terdekat tempat tinggalnya, yakni SMAN 11 dan SMAN 13 Semarang.
Supriyanto mengaku mendapatkan amanah dari Disdikbud agar siswa tersebut bisa mengikuti UN, apalagi mereka sudah duduk di kelas XII yang sebentar lagi akan menghadapi pelaksanaan UN.
"Intinya, kami siap memfasilitasi, apalagi mau ujian sekolah dan UN. Tujuannya, ya, agar secepatnya bisa melanjutkan kegiatan belajar mengajar yang sempat tertinggal," katanya.
Oleh karena itu, dia mengimbau siswa yang bersangkutan untuk segera menghubungi dan mendatangi sekolah sebab pertengahan Maret 2018 sudah diselenggarakan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) dan pada bulan April 2018 sudah UN.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 13 Semarang Endah N. Wardani mengaku tidak masalah dengan bertambahnya satu siswa yang telah dikeluarkan dari SMAN 1 Semarang, apalagi Disdikbud Jateng sudah memberikan arahan langsung.
"Kami tidak masalah, mereka kan masih punya masa depan. Akan tetapi, sampai sekarang mereka memang belum menghubungi kami. Padahal, waktu ujian sudah makin dekat," katanya.
Endah berharap siswa tersebut segera mengonfirmasi agar bisa secepatnya melanjutkan sekolah sebab pelaksanaan USBN dan UN juga makin dekat sehingga membutuhkan persiapan dan pembekalan.
Sebelumnya, Kepala Disdikbud Jateng Gatot Bambang Hastowo mengatakan bahwa pihaknya tidak mungkin untuk mengubah kebijakan SMAN 1 Semarang yang sudah mengembalikan kedua anak tersebut kepada orang tua atau dikeluarkan.
"Solusinya, pindah sekolah lain. Kami sudah berikan fasilitasi, diterima atau ditolak silakan. Kalau diterima, segera diurus karena waktunya terbatas. Tidak bisa molor-molor karena kaitannya dengan pendataan peserta UN sebelum difinalisasi," katanya.

