Pembangunan pasar darurat yang menggunakan lahan di Alun-Alun Utara seizin penguasa Keraton Kasunanan Surakarta Pakoe Boewono (PB) XIII, kata Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo kepada wartawan di Solo, Kamis.
"Pada 15 Juni 2015 digelar selamatan dan 16 Juni 2015 pedagang bisa mulai berjualan di pasar darurat yang dibangun menghabiskan dana Rp23 miliar lebih itu," katanya.
Ia mengatakan selamatan itu memang dilakukan sebelum pedagang mulai berjualan di pasar darurat. Kegiatan itu dimaksudkan sebagai wujud syukur atas selesainya pembangunan pasar darurat, yang prosesnya cukup berbelit. Maklum, negosiasi Pemkot dan Keraton Surakarta selaku pemilik lahan sempat berjalan alot hingga akhirnya peletakan batu pertama dilakukan 6 April.
"Jadi kalau pedagang mulai berjualan di pasar darurat tanggal 16 Juni, artinya mereka bisa beraktivitas seperti biasa sebelum bulan puasa". Pembagian kios maupun los di lokasi tersebut, akan dilakukan dinas terkait. Meski demikian, pemkot tetap mengutamakan pemegang surat hak penempatan (SHP), dalam pembagian tersebut.
"Ya untuk urusan kami hanya dengan pedagang yang ber-SHP. Kami tidak ada hubungannya dengan penyewa los atau kios di Pasar Klewer lama," kata FX Hadi Rudyatmo yang akrab dipanggil Rudy.
Ia mengatakan, kendati jumlah kios pasar darurat telah bertambah menjadi 1.420 unit dari rencana semula sebanyak 1.300 unit, namun Pemkot bertekad agar pembagian kios bisa merata. "Yang penting tiap pedagang dapat satu kios dulu. Sisanya diatur kemudian," katanya.
Kepala Dinas Pengelola Pasar (DPP) Pemkot Surakarta Subagiyo menambahkan, pihaknya terus berkomunikasi dengan perwakilan pedagang, sebelum menempatkan mereka ke dalam kios atau los darurat. "Kami tidak ingin ada masalah di kemudian hari," katanya.
Pasar Klewer Solo yang merupakan pusat perdagangan tekstil terbesar di Jawa Tengah itu, habis terbakar pada tanggal 27 Desember 2014.

