Pada pembukaan "Pameran Nasional Eksotika Ragam Hias Kain Tradisional Nusantara 2013" itu, di Semarang, Kamis, sudah dipadati ratusan pengunjung yang didominasi pelajar untuk melihat kain tradisional warisan budaya leluhur.
Kain-kain tradisional berasal dari berbagai daerah itu, terpajang sesuai zona yang diatur, seperti Zona Jawa, Zona Sumatera, Zona Kalimantan, dan Zona Sulawesi sehingga memudahkan pengunjung mengetahui asal daerahnya.
Di zona Sumatera, tampak di antaranya kain ulos, Gobar Debata, Sadum, dan Ulos Pinunsaan khas masyarakat Batak, kemudian kain Songket, Salendang Songket dari Jambi, serta Salendang Balapak dari Padang.
Zona Sulawesi memiliki kekhasan tersendiri, antara lain dengan kain Sawu Mbineulu, Lipa Mbineulu, dan Sarung Bia-Bia dari Sulawesi Tenggara, serta kain Lipa Sa'be, dan Sekomandi dari Sulawesi Barat.
Menurut Kepala Seksi Pengkajian dan Pelestarian Museum Ranggawarsita Semarang Budi Santosa, pameran itu menampilkan koleksi kain berasal dari 36 museum provinsi dan kabupaten yang tersebar di wilayah Indonesia.
"Ada pula kain tradisional yang menjadi koleksi pribadi (orang, red.), dipamerkan juga. Kami ingin menggugah rasa kecintaan generasi muda terhadap kain tradisional yang menjadi warisan leluhurnya," katanya.
Ia menyebutkan pembagian zona untuk tata letak pameran itu, untuk memudahkan pengunjung dalam mencari dan membedakan ciri khas dan keunikan kain-kain tradisional dari masing-masing daerah.
"Semua jenis kain tradisional ada di sini (dipamerkan, red.). Bahkan, kain yang usianya sudah mencapai ratusan tahun. Ada pula kain-kain tradisional yang sekarang ini sudah hampir punah ditelan zaman," kata Budi.
Penjelasan masing-masing kain juga ditampilkan sehingga pengunjung bisa mengetahui seluk-beluk kain itu, termasuk asal dan fungsinya, mulai dari kain untuk pengantin hingga upacara kematian.
Duta Museum Jateng 2012 Tyas Windu Manisa mengatakan generasi muda memang perlu digugah kecintaan dan kebanggaannya terhadap kebudayaan tradisional, termasuk berupa kain dari berbagai macam budaya.
"Kebetulan, saya suka batik dan bangga mengenakannya. Kebanggaan itulah yang harus dimiliki generasi muda terhadap kebudayaan warisan leluhur," kata gadis cantik kelahiran Cilacap, 23 November 1992 itu.

