"Lewat tulisan dan gagasan jurnalis dalam media, publik kemudian menjadi memiliki pandangan baru bagaimana seharusnya kondisi ideal dalam bermasyarakat dan berbangsa," katanya mewakili Rektor Undip Prof Sudharto Prawata Hadi kala membuka seminar bertajuk jurnalisme bertajuk "From Zero to Hero" di Gedung Fisip Undip Semarang, Sabtu.
Menurut aktivisi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tersebut, beberapa media nasiona sudah menerapkan prinsip dan cara pemberitaan dan menyajikan gagasan dalam media seperti itu.
Namun, kata Adi dalam keterangan tertulisnya, penting juga jurnalis memiliki rasa sebagai seorang pahlwan sehingga jurnalis menempatkan dirinya pada posisi penting yang diharapkan publik dan memiliki misi mulia.
Seminar yang diadakan LPM Manunggal juga menghadirkan pembicara Bekti Nugroho dari Dewan Pers, Farid Gaban yang merupakan pegiat film dokumenter/mantan jurnalis, serta "News Anchor" RCTI Gustav Aulia.
Rektor Undip mengapresiasi gagasan LPM Manunggal membahas tema transformatif ini dalam kerangka kampus sebagai agen-agen pembaharuan dan penempaan ide dan gagasan aktual, yang memberi kontribusi bagi kemajuan dunia jurnalisme di tanah air.
Dalam pada itu anggota Dewan Pers Bekti Nugroho memaparkan, perlunya media dan jurnalis tanggap dengan perubahan yang ada di masyarakat termasuk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang membawa implikasi bagi cara wartawan bekerja.
"Mungkin ke depan seorang wartawan harus sekaligus memiliki keahlian yang selama ini terpisah, bisa saja misalnya sekaligus wartawan yang bersangkutan tidak sekedar dapat menulis, tetapi juga mengambil gambar visual dengan kamera dan teknik mengirimkannya ke media," kata Bekti Nugroho, yang alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi Undip itu.
Hal yang dikemukakan itu sejalan dengan era konvergensi media, yang menuntut wartawan kemampuan yang berbeda jika dibandingkan dengan kondisi sepuluh tahun yang lalu ketika ia menjadi wartawan media di sebuah media cetak.
Pada saat itu, bisa menulis sudah cukup baik dan masuk krtiteria menjadi wartawan media, tetapi mungkin di era sekarang ini tidak cukup lagi seperti itu, papar Bekti Nugroho.
Gustav Aulia memaparkan tantangan liputan sebagai seorang jurnalis yang pernah dialaminya dan menjadikannya menjadi matang, sedangkan Farid Gaban, pekerja film dokumenter yang berhasil menyajikan karya-karya jurnalisnya dan menjadi pencerahan bagi publik untuk lebih memahami sisi lain ke Indonesian. (tz)

