Widiyanta tokoh pemuda di Desa Mriyan, Musuk, Boyolali, Senin, mengatakan, kekeringan terus melanda wilayah lereng Gunung Merapi di Musuk, ada dua dukuh yakni Songgobumi dan Gumuk di Desa Mriyan yang kesulitan air bersih.
Menurut Widiyanto, warga yang mampu dapat membeli air bersih dengan mendatangkan tangki air milik swasta, tetapi harganya hingga ke Dukuh Songgobumi mencapai Rp260 ribu per tangki.
Namun, warga yang tidak mampu di daerah tersebut terpaksa harus mengambil di sumber air dasar jurang desa setempat, tetapi antreannya cukup panjang.
Karena, kata dia, debit di mata air di dasar jurang di desa setempat pada musim kemarau menurun dratis atau sangat kecil, sehingga harus antrean panjang.
Bahkan, warga di dukuh tersebut sebenarnya mengambil air dari sebuah sumber di lereng gunung. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Dukuh Songgobumi. Pada goa tersebut telah dibangun menggunakan tembok, yakni sendang Sido Rukun.
Namun, sendang tersebut selama musim kemarau ini, sumber airnya mengering.
Menurtut Asisten II Setda Boyolali Juwaris, Pemkab Boyolali melalui Bagian Kesra telah menyalurkan bantuan droping air bersih di daerah rawan kekeringan termasuk di Kecamatan Musuk.
Pemkab memberikan bantuan droping air bersih bekerja sama dengan dengan Perusahaan Daerah Air Minum, PMI Boyolali dan Bakorwil II wilayah Surakarta dan Kedu.
"Kami akan memperbanyak volume droping air bersih ke daerah yang mengalami kekurangan air bersih," katanya.

