"Ide pembuatan boneka Jokowi-Ahok dari Didi Kempot, beberapa minggu lalu, tetapi untuk pembuatannya saya yang merancang dan melakukan. Boneka itu dibuat dua macam yaitu pasangan Jokowi-Ahok ukuran besar dan Jokowi-Ahok ukuran kecil," kata Melani Wibisono di bengkel pembuatan boneka tersebut di Solo Baru, Rabu.
Ia mengatakan, awal mula ide membuat boneka Jokowi-Ahok sebenarnya datang dengan ketidaksengajaan.
Melani menuturkan, sekitar beberapa minggu lalu pihaknya berbincang-bincang dengan penyanyi campursari kondang asal Solo, Didi Kempot.
Dalam perbincangan itu, penyanyi yang tenar lewat lagu "Stasiun Balapan" itu mengajaknya membuat boneka Jokowi-Ahok. "Saya lalu mencoba untuk mendesain sendiri hingga jadilah bentuk boneka Jokowi-Ahok seperti sekarang ini," katanya.
Pada boneka Jokowi, belahan rambut dibuat ke kanan, agar mirip aslinya. Sedang boneka Ahok, diberi kaca mata agar juga serupa dengan aslinya. Wanita lulusan teknik arsitektur ini bisa mendesain boneka karena memang dikenal sebagai penyuka dan pembuat boneka sejak masih kuliah.
Melani mengatakan untuk pembuatan boneka Jokowi mengaku sempat mendapat protes. "Pak Jokowi memang sempat protes untuk boneka Jokowi kok gemuk, padahal Pak Jokowi kan kurus," kata Melani sambil menambahkan bahwa protes itu hanya bercanda saja.
Ia mengatakan, promosi dan pemasaran dilakukan secara online. Pemesan kebanyakan berasal dari luar Solo. Namun ada juga pemesan lokal yang menjual lagi boneka tersebut di sejumlah pasar tradisional.
"Kami sudah membuat sebanyak dua ribu boneka. Pesanan lewat online terus berdatangan. Kemarin saya dapat pesanan 1.500 boneka dari bos asongan di Jakarta. Tapi saya belum bisa memenuhi permintaan tersebut," katanya.
Boneka kecil yang digunakan untuk gantungan kunci dijual Rp15 ribu per pasangnya. Sedang boneka besar dijual Rp35 per pasang. Dalam sehari ia bisa memproduksi 200-an boneka. Namun jika melibatkan ibu-ibu di sekitar rumahnya yang berjumlah 50 orang, produksi per hari bisa menembus 2.000 boneka.
Mengenai bahan baku, Melani mengaku pertama sempat mengalami kesulitan untuk mendapatkan kain kotak-kotak, tetapi sekarang sudah tidak masalah karena bisa disablon. "Jadi untuk masalah bahan baku sekarang sudah bisa diatasi dan tidak ada masalah," katanya.

