Solo (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bukan sekadar lembaga pendidikan tinggi yang berdiri megah di tengah kota. Ia ibarat pohon tua yang akarnya menembus tanah masyarakat bawah, menyerap aspirasi, menumbuhkan gagasan, lalu menyalurkan buahnya dalam bentuk kesejahteraan sosial. UMS tidak membangun menara gading akademik, tetapi meniti jalan sunyi: membangun kesejahteraan dari akar rumput, tanpa banyak gemerlap seremoni.
Bagi UMS, kesejahteraan masyarakat bukanlah proyek karitatif yang datang dari atas, melainkan hasil pendidikan yang menumbuhkan kesadaran dan kemandirian. Di sinilah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) memainkan peran kunci.
Fakultas ini menjadi jantung yang memompa nadi pendidikan berbasis pengabdian. Para mahasiswanya setiap tahun turun ke desa-desa, bukan hanya untuk praktik mengajar tetapi juga belajar hidup bersama masyarakat. Mereka mendirikan taman baca di dusun, mengajar anak-anak petani membaca Al-Qur’an, atau mengajari warga menulis surat kepada pemerintah desa. Pendidikan dalam tradisi FKIP UMS bukan soal nilai akademik, melainkan tentang keberanian turun tangan di tanah yang nyata.
Di banyak tempat, mahasiswa FKIP menjadi pelopor gerakan literasi masyarakat. Mereka mengubah balai desa menjadi ruang belajar sore, mengajak anak-anak bakul HIK berbincang tentang cita-cita, dan memotivasi remaja agar tidak terjebak dalam putus sekolah. Dari aktivitas sederhana itu tumbuh bibit kesejahteraan baru, yakni rasa percaya diri dan optimisme sosial.
Pendidikan di tangan FKIP UMS bukan sekadar transfer ilmu, tetapi transformasi martabat manusia. Kesejahteraan yang dibangun dari bawah ini sering kali sunyi, karena tidak mudah diukur dengan angka statistik. Namun, dari sinilah kekuatan sesungguhnya tumbuh. Ketika seorang anak desa berani bermimpi kuliah karena bertemu mahasiswa FKIP, di situlah kesejahteraan sejati mulai bersemi.
Bukan uang yang mereka bagi, tetapi harapan. Dan harapan adalah mata uang sosial paling berharga di tengah ketimpangan yang lebar. UMS memahami bahwa kesejahteraan harus bersumber dari pengetahuan dan nilai-nilai profetik. Karena itu, model pendidikan yang dikembangkan tidak hanya menyiapkan guru profesional, tetapi juga insan berakhlak sosial. Dalam berbagai kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan KuliahKerja Nyata (KKN), mahasiswa FKIP diarahkan untuk membaca “teks sosial”, memahami konteks kehidupan masyarakat dengan empati.
Seorang calon guru UMS diharapkan mampu menyapa murid, memahami keluarga mereka, dan ikut merasakan denyut kehidupan desa. Dari situ tumbuh kesadaran bahwa kesejahteraan bukan hasil bantuan, tetapi buah dari keberdayaan.
Pendekatan akar rumput yang dilakukan FKIP sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang berpihak pada kaummustadh’afin, mereka yang lemah secara ekonomi dan sosial. FKIP UMS melahirkan ribuan guru yang tersebar di pelosoknegeri. Mereka tidak hanya mengajar membaca dan menulis, tetapi juga menggerakkan masyarakat. Di tangan para alumninya, sekolah menjadi pusat pemberdayaan warga: ada koperasi sekolah, pelatihan wirausaha kecil, hingga pengelolaan sampah terpadu.
Inilah bentuk nyata kesejahteraan berbasis pendidikan yang jarang mendapat sorotan media, tetapi terus hidup dalam denyut masyarakat. Namun, perjalanan membangun kesejahteraan dari akar rumput bukan tanpa tantangan. Dunia hari ini begitu pragmatis. Banyak orang lebih tertarik pada program bantuan instan ketimbang proses pendidikan panjang. Di tengah arus kapitalisasi pendidikan, UMS memilih jalannya sendiri: tetap teguh pada prinsip dakwah bil hal, berdakwah melalui tindakan nyata. Jalan ini sunyi karena tidak menawarkan popularitas cepat, tetapi hasilnya lestari karena tumbuh dari kesadaran.
Peran FKIP UMS semakin penting di era digital yang sering kali melahirkan keterasingan sosial. Di banyak tempat, teknologi memperlebar jurang antara yang tahu dan yang tidak tahu. Karena itu, FKIP menyiapkan guru yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu memanusiakan murid di tengah gempuran algoritma.
Kesejahteraan yang ditawarkan UMS bukan sekadar kesejahteraan material, melainkan kesejahteraan spiritual dan sosial: masyarakat yang cerdas, beriman, dan saling menolong.
Membangun kesejahteraan dari akar rumput adalah pekerjaan panjang. Ia tidak lahir dari pidato, tetapi dari kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan. UMS dengan FKIP-nya memilih menjadi bagian dari proses itu. Para dosen dan mahasiswa menanam benih perubahan di sawah sosial yang luas, meski tahu panennya tidak selalu dapat mereka nikmati sendiri.
Tetapi bukankah kesejahteraan sejati memang demikian, tumbuh tanpa pamrih, mengalir tanpa bising?
Suatu hari nanti, ketika masyarakat desa mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana, ketika seorang ibu mampu membaca resep dokter tanpa bantuan orang lain, atau ketika anak-anak di pelosok mampu berdialog kritis dengan dunia luar, maka di situlah buah kerja FKIP UMS terasa. Itu semua mungkin tidakakan masuk headline berita, tapi menjadi cerita abadi di hati masyarakat.
UMS, lewat jalan sunyinya, terus menegaskan bahwa universitas sejati bukan yang paling besar kampusnya, melainkan yang paling luas manfaatnya. Jalan itu memang sunyi, tapi dari kesunyian itulah kesejahteraan dari akar rumput tumbuh pelan, pasti, dan tulus.
*Dosen Pendidikan Akuntansi, Ketua Program Magister Administrasi Pendidikan

