Solo (ANTARA) - Dalam laporan publikasi Bank Dunia yang berjudul “Job, East Asia and Pacific Economic Update, 2025” yang terbit bulan Oktober 2025 memberikan Gambaran tentang situasi ketenagakerjaan di beberapa negara Asia Timur dan Pasifik.
Dalam publikasi tersebut disampaikan salah satu hal menarik yang terjadi di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara yaitu paradoks pekerjaan (job paradox). Paradoks pekerjaan adalah suatu kondisi di suatu negara, pada saat pertumbuhan ekonominya stabil, namun tidak disertai dengan adanya lapangan pekerjaan yang berkualitas, produktif dan memadai bagi angkatan kerja di negara tersebut.
Pekerjaan berkualitas rendah yang terjadi di beberapa negara Asia Timur dan Asia Tenggara adalah pekerjaan di sektor jasa dengan produktivitas rendah dan bersifat informal. Sebagai contoh di Indonesia adalah pertumbuhan pengemudi ojek online yang merupakan bagian dari pekerjaan jasa dan sering masuk dalam kategori gig economy.
Kondisi paradoks pekerjaan juga ditandai dengan tingginya angka pengangguran pada angkatan kerja pada usia muda. Di Indonesia dan Tiongkok disebutkan bahwa satu dari tujuh anak muda usia produktif mengalami kesulitan menemukan pekerjaan yang berkualitas.
Dalam laporan “Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia” yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Mei dan November 2025, jumlah pengangguran usia 15-24 tahun pada bulan Februari 2025 mencapai 1.238.360 orang atau 16,6 persen dari total angka tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia.
Penurunan kualitas pekerjaan dan tingginya angka pengangguran di Kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang disebabkan perang tarif dalam perdagangan internasional, serta ketidakstabilan geo politik global.
Perlambatan pertumbuhan ekonomi global belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan sejak pandemi COVID-19. Kedua, perkembangan teknologi terkait dengan otomatisasi dan kecerdasan buatan. Fenomena ini menyebabkan jutaan pekerjaan lama hilang, meskipun ada jutaan pekerjaan baru, namun lambatnya penyesuaian keahlian tenaga kerja berdampak pada tingginya angka pengangguran.
Ketiga, perbedaan demografi. Beberapa negara di Asia Timur dan Asia Tenggara mengalami penuaan penduduk seperti Tiongkok, Vietnam dan Thailand, pada sisi lain negara-negara seperti Indonesia, Philipina dan Kamboja mengalami lonjakan jumlah penduduk usia muda yang membutuhkan jutaan lapangan pekerjaan baru.
Pergeseran Skill SDM
Pada bulan Januari 2025, World Economic Forum(WEF) menyusun laporan berjudul The Future of Jobs Report 2025 yang menyebutkan bahwa pasar tenaga kerja global mengalami transformasi besar yang didorong oleh perkembangan teknologi (terutama perkembangan kecerdasan buatan dan digitalisasi), transisi hijau (pembangunan dan bisnis berkelanjutan), fragmentasi geo ekonomi (negara-negara melakukan kebijakan proteksionisme untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka), ketidakpastian ekonomidan perubahan demografi.
Kondisi disrupsi ini menyebabkan hilangnya 92 juta pekerjaan, namun juga melahirkan 170 juta jenis pekerjaan baru. Disrupsi ini akan mempengaruhi 22 persen dari pekerjaan yang ada saat ini.
Dalam publikasi tersebut disebutkan bahwa sampai dengan tahun 2030 ada beberapa pekerjaan yang tumbuh cepat dan menjadi dominan, yaitu: big data specialist, spesialis teknologi keuangan, spesialis kecerdasan buatan dan machine learning, pengembang aplikasi dan perangkat lunak, serta spesialis manajemen keamanan siber.
Pekerjaan-pekerjaan lain yang tumbuh absolut sampai tahun 2030 adalah pekerjaan-pekerjaan pertanian berkelanjutan yang terkait dengan ketahanan pangan dan pekerjaan yang terkait dengan diversifikasi energi serta energi hijau. Pada sisi lain pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan administratif dan pekerjaan repetitif (berulang).
Pekerjaan-pekerjaan baru yang muncul sampai dengan tahun 2030 itu memerlukan jenis keterampilan baru. Ketrampilan utama yang diperlukan untuk pekerjaan-pekerjaan baru itu adalah kombinasi dari keterampilan kognitif, teknologi dan social-emosional. Ketrampilan kognitif yang dibutuhkan adalah keterampilan untuk memecahkan masalah, yang terdiri dari berpikir analitis dan berpikir kreatif. Berpikir analitis diperlukan untuk mengevaluasi informasi dan menemukan solusi dari masalah yang kompleks. Berpikir kreatif penting untuk mengembangkan ide-ide baru.
Ketrampilan teknologi dan digital yang diperlukan antara lain literasi teknologi, kecerdasan buatan dan pemahaman big data serta ketrampilan keamanansiber. Ketrampilan social-emosional yang diperlukan untuk pekerjaan masa depan antara lain ketahanan, fleksibilitas dan agility (kelincahan).
Tiga keterampilan ini diperlukan untuk mengantisipasi perubahan situasi yang cepat. Ketrampilan social-emosional selanjutnya yang diperlukan adalah rasa ingin tahu, pembelajaran jangka panjang, kolaborasi, kerja sama tim, kepemimpinan dan pengaruh social.
Respons Dunia Pendidikan
Pergeseran ketrampilan SDM yang diperlukan untuk pekerjaan masa depan menjadi tantangan bagidunia pendidikan di Indonesia. Kebutuhan keterampilan yang merupakan kombinasi dari ketrampilan kognitif, teknologi dan social emosional memerlukan respons segera dari dunia pendidikan Indonesia, baik pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi.
Dunia pendidikan Indonesia harus merespons perubahan kebutuhan tenaga kerja melalui transformasi kurikulum yang berpusat pada integrasi kompetensi kognitif, teknologi, dan sosial-emosional secara simultan. Pembelajaran tidak boleh lagi terjebak pada metode hafalan, melainkan harus beralih ke pendekatan berbasis masalah yang secara alami mengasah ketajaman berpikir analitis serta kreativitas siswa.
Seiring dengan itu, literasi digital perlu ditingkatkan melebihi sekadar pengoperasian dasar menuju pemahaman mendalam terhadap kecerdasan buatan dan analisis data agar lulusan mampu berkolaborasi dengan teknologi masa depan.
Terakhir, ekosistem sekolah harus dirancang sebagai laboratorium sosial yang menumbuhkan ketahanan, fleksibilitas, dan kelincahan melalui proyek kolaboratif yang melatih kepemimpinan serta pengaruh sosial. Keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada keberanian institusi pendidikan untuk mempererat sinergi dengan dunia industri guna memastikan relevansi keterampilan yang diajarkan dengan dinamika lapangan kerja yang terus berevolusi.
*Guru Besar Ilmu Manajemen Fak Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Surakarta

