Pelari top nasional dan mancanegara bersaing dalam Semarang 10K

id Semarang 10K, lomba lari, 2019

Pelari top nasional dan mancanegara bersaing dalam Semarang 10K

Dokumentasi. Sejumlah pelari mengikuti lomba lari Semarang 10K di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (16/12/2018). Ajang lomba lari dengan menyusuri sejumlah bangunan bersejarah di Kota Semarang itu diikuti sebanyak 2.000 peserta dari 6 negara yang terbagi dalam dua kategori yaitu 10 kilometer (10K) Open dan 10 kilometer (10K) Nasional. ANTARA/Aji Styawan/tom.

Semarang (ANTARA) - Sejumlah pelari elite nasional dan mancanegara, baik di nomor putra maupun putri, bakal bersaing dalam lomba lari Semarang 10K yang digelar pada Minggu (15/12).

Penyelenggara lomba Budiman Tanuredjo, Jumat, mengatakan pihaknya bangga dan terhormat dipercaya kembali untuk yang kedua kalinya oleh Pemerintah Kota Semarang sebagai mitra dalam penyelenggaraan Semarang 10K.

Adapun pelari papan atas kelompok putra, antara lain, James Karanja (Kenya), Tariku Demelash Abera (Ethiopia), Agus Prayogo (Indonesia), dan Nur Shodiq (Indonesia).

Pelari elite perempuan di antaranya adalah Jackline Nzivo (Kenya), Isabellah Kigen (Kenya), Odekta Elvina Naibaho (Indonesia), dan Triyaningsih (Indonesia).

Para pelari top tersebut merupakan bagian dari sebanyak 2.000 peserta yang akan bersaing dalam lomba lari Semarang 10K pada Minggu (15/12) besok pukul 06.00 WIB.

Pelari mengambil start dan finis di depan Balai Kota Semarang. Mengusung konsep Sport and Heritage Tourism, peserta dapat berlari melintasi rute budaya dan arsitektur kota lama Semarang.

Semarang 10K tahun ini terbagi dalam 3 kategori, 10K Open sebanyak 26 persen, 10K Nasional sebanyak 72 persen, dan 10K Pelajar sebanyak 2 persen.

Peserta yang berasal dari luar Kota Semarang sebanyak 68 persen dengan total pelari asing sebanyak 13 peserta.

Semarang 10K selain diramaikan pelari elite yang terdiri atas 18 pelari elite putra dan 13 pelari elite putri, lomba lari ini juga menjadi ajang untuk memperbaiki catatan waktu/personal best.

Hal ini disebabkan karena rute lari yang relatif datar, steril dari kendaraan, dan ruas jalan yang lebar sehingga pelari dapat maksimal dalam pencatatan waktu.

Baca juga: Pelari Kenya terlalu tangguh bagi peserta Semarang 10K

“Bagi kami, Kota Semarang memiliki modal wisata yang sangat potensial, yakni kekayaan bangunan tua dan bersejarah. Selain gedung Lawang Sewu dan Tugu Muda, kawasan Kota Lama yang makin bersinar setelah proses revitalisasi, menjadi salah satu tujuan wisata ikonik di Semarang. Dengan konsep pariwisata olahraga (sport tourism), potensi wisata itu dikombinasikan dengan event lari Semarang 10K, yang mulai berlangsung sejak 2018,” kata Budiman di Semarang.

Rute Baru

Sementara itu Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, keberadaan Semarang sebagai kota yang mudah diakses, baik lewat udara, dan perjalanan darat, terutama setelah berfungsinya jalan tol dari Jakarta hingga Kota Semarang, membuat minat peserta Semarang 10K tidak memudar.

Baca juga: Sejumlah pelari nasional bakal adu cepat di Semarang 10K

Artinya, semangat Pemkot Semarang untuk menggairahkan kunjungan wisata terwujud dengan jumlah peserta yang berasal dari luar Semarang yang cukup signifikan, yaitu sebanyak 68 persen.

Lomba lari penutup tahun ini menggunakan rute baru pasca-revitalisasi. Kali ini peserta diajak melintasi lebih banyak jalur di kota lama Semarang. Ini tentu menjadi pengalaman seru dan berkesan bagi peserta. ***
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar