Upacara Sadranan di lereng Merapi diikuti ratusan warga

id Warga lereng Merapi gelar upacara tradisi sadranan

Upacara Sadranan di lereng Merapi diikuti ratusan warga

Ratusan warga Lereng Gunung Merapi saat doa bersama dalam acara tradisi sadranan di tempatv pemakaman Dukuih Mlambong Desa Sruni, Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali, Selasa. (Foto:Bambang Dwi Marwoto)

     Boyolali (Antaranews Jateng) - Ratusan warga lereng Gunung Merapi mengikuti upacara tradisi sadranan untuk mendoakan para leluhurnya dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di tempat pemakaman Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali, Selasa.
     Warga mengikuti upacara tradisi sadranan dengan membawa tempat makanan khas desa setempat yang disebut "Tenong" atau berbentuk bundar, untuk dimakan bersama-sama usai melakukan doa bersama sebagai rasa syukur atas limpahan rejeki yang diberikan dari Tuhan Yang Maha Esa.
     Menurut Hadi Sutarno (65) salah satu tokoh masyarakat Desa Sruni ada ratusan tenong yang dibawa warga dalam acara sadranan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Setiap kepala keluarga membawa tenong dengan mengisi berbagai jenis makanan khas desa setempat. Dan tradisi ini, sudah berlangsung turun temurun sejak nenek moyang, yang terus dilestarikan hingga sekarang.
     Ratusan warga yang hadir di tempat pemakaman desa setempat tersbeut, kata Hadi Sutarno, dengan tujuan untuk mendoakan kepada para leluhur dan sanak keluarganya yang telah meninggal dunia, agar diampuni dosa-dosanya dan mendapat tempat yang layak disisi Tuhan YME.
     "Makanan yang dibawa dengan tempat tenong itu,  sebagai bentuk syukur kepada Tuhan YME atas rejeki yang telah dilimpahkan," kata Sutarno.
     Menurut dia, acara sadranan di desanya tersbeut menjadi agenda tetap yang dilaksanakan setiap bulan Maulud (kalender jawa), sehingga oleh warga biasa disebut "Muludan". Dan, juga dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. 
     Pada acara sadranan tersebut, kata dia, diawali bersih-bersih tempat pemakaman desa setempat, dan kemudian baru digelar tradisi sadranan. Tradisi ini, semua warga yang hadir melakukan doa bersama, dan makanan yang dibawa kemudian dimakan bersama-sama serta saling tukar makanan.
     Zaeni seorang tokoh Agama Desa Sruni mengatakan kegiatan sadranan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.  Maulud ini, merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
     Selain itu, kata Zaeni, upacara tradisi sadranan tersebut juga untuk mengingatkan warga kepada para leluhur yang telah meninggal dunia dan mendoakannya agar mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT. 
      "Jika warga ingat para leluhur, juga diharapkan makin meningkatkan ketaqwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar