Perbarindo: Teknologi finansial tidak bisa ditolak

id Perbarindo, fintech

Perbarindo: Teknologi finansial tidak bisa ditolak

Ketua Perbarindo Soloraya Azis Soleh (Foto: Aris Wasita)

Solo (Antaranews Jateng) - Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) menyatakan penerapan teknologi finansial menjadi tantangan bagi BPR karena harus ada peningkatan layanan agar bisa bersaing.

"Terkait hal ini BPR harus siap untuk mengembangkan diri. Teknologi finansial ini tidak bisa ditolak kehadirannya karena masyarakat memang membutuhkan," kata Ketua DPD Perbarindo Jawa Tengah Dadi Sumarsana di Solo, Jumat.

Ia mengatakan salah satu upaya yang dilakukan yaitu BPR harus memperkuat sisi permodalan serta mengembangkan teknologi. Dengan demikian, pihaknya optimistis BPR akan mampu bersaing di era teknologi finansial tersebut.

"Kami juga melakukan kerja sama dengan bank umum. Khusus di Jawa Tengah kami menjadi percontohan nasional. Dalam hal ini kami tergabung dalam Apex BPR, salah satunya bersama Bank Jateng tengah mengkaji fasilitas ATM untuk BPR," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama BPR Argo Dana Ungaran Pangarso Yoga Mutodo mengatakan teknologi finansial atau akrab diistilahkan "fintech" mau tidak mau harus diikuti dengan perubahan pola pelayanan dari BPR kepada nasabah.

"Salah satunya adalah pola silaturahmi yang berfungsi untuk saling mengenal antara nasabah dan BPR. Bagi kami, pola ini yang paling tepat untuk makin dekat dengan nasabah karena seperti 'fintech' tidak dapat menerapkan cara ini," katanya.

Menurut dia, era "fintech" tidak dapat ditolak karena banyak orang yang membutuhkan cara pelayanan tersebut.

"Yang penting bagaimana kita bisa menjaga nasabah, kalau sejauh ini kehadiran 'fintech' tidak memberikan pengaruh signifikan," katanya.

Sebelumnya, Ketua Perbarindo Soloraya Azis Soleh mengatakan sejauh ini teknologi finansial tidak berdampak pada kinerja BPR secara umum. Ia mengatakan untuk di Soloraya memasuki semester dua tahun 2018 realisasi penyaluran kredit meningkat antara 10-15 persen dari periode sama tahun sebelumnya.

Meski enggan menyampaikan angka pasti, dikatakannya, sektor yang memberikan kontribusi paling besar yaitu modal kerja.

"Kebanyakan mereka mengakses plafon di bawah Rp100 juta. Kalau sampai saat ini nasabah BPR kebanyakan masih pelaku UMKM," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar