Mencetak anak Genius pada era digital

id hari anak

Mencetak anak Genius pada era digital

Ilustrasi - Anak-anak PAUD belajar menanam sayuran di lahan Kelompok Tani Wanita "Kartini" Kelurahan Wates, Kota Magelang, Jumat (27/4). (Foto: Hari Atmoko)





     Purwokerto (Antaranews Jateng) - Peringatan Hari Anak Nasional 2018 mengangkat tema "Anak Indonesia, Anak GENIUS" yaitu anak Indonesia yang Gesit, Empati, Berani, Unggul, dan Sehat.

     Untuk mencetak generasi GENIUS, tentu memerlukan peran serta dari berbagai pihak, khususnya dari orang tua.

     Pasalnya, keluarga merupakan wahana pertama dan utama dalam pendidikan karakter.

     Meskipun tidak dapat dipungkiri, membentuk karakter anak juga memerlukan sinergitas antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

     Penanaman nilai-nilai karakter sejak dini, akan berdampak positif pada tumbuh kembang anak, selain itu akan membentuk karakter anak dengan nilai religius, nasionalis, integritas, gotong royong, mandiri, dan lain sebagainya.

     Terlebih lagi, pada era digital seperti saat ini, internet dan media sosial menjadi tantangan terbesar dalam pendidikan anak.

     Untuk itu, orang tua dan pihak terkait lainnya, diharapkan dapat terus membentuk "daya imun" anak dari kemungkinan paparan konten negatif yang ada di internet dan media sosial, melalui pembentukan karakter.

     Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Edi Santoso, mengatakan internet dan media sosial memang merupakan tantangan, karena bisa berdampak positif atau sebaliknya berdampak negatif.

     "Ketika kita menjadi bagian dari budaya digital. Internet dan media merupakan tantangan, karena ibarat pisau bermata dua, bisa berdampak positif atau sebaliknya, negatif. Sayangnya, yang saat ini lebih kuat gejalanya, adalah dampak negatif pada perkembangan anak," katanya.

     Menurut dia, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan diwaspadai oleh orang tua. Pertama, penggunaan media pada saat ini semakin personal.

     Dia mencontohkan, sebelumnya, penggunaan media lebih berdimensi sosial karena dipakai bersama-sama, misalkan satu pesawat televisi ditonton bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga. Dengan demikian kontrol akses media lebih mudah dilakukan.

     Sementara pada saat ini, banyak keluarga yang masing-masing anggotanya memiliki telepon pintar sehingga kontrol terhadap akses media bagi masing-masing anggota keluarga makin sulit dilakukan karena sifatnya yang personal.

     Kedua, perluasan akses internet tanpa penguatan literasi. Menurut dia, pada dasarnya, akses internet bisa berdampak positif, karena akan membawa pada dunia tanpa batas.

     Kendati demikian, tanpa adanya literasi, yakni kesadaran untuk memanfaatkan media secara konstruktif maka akan menimbulkan dampak yang negatif.

     "Sekarang, di banyak tempat disediakan fasilitas 'free wifi', mulai dari tempat perbelanjaan, hingga ruang publik, Yang dikhawatirkan adanya anak-anak yang menggunakan fasilitas tersebut bukan untuk belajar melainkan menggunakan internet untuk 'game online' atau membuka aplikasi youtube. Bahkan dikhawatirkan mereka mengakses konten negatif seperti kekerasan atau pornografi," katanya.

     Ketiga, kata dia, adalah rendahnya kesadaran orang tua akan bahaya media bagi anak-anak.

     Dia menambahkan, banyak orang tua yang khawatir anaknya terdampak negatif dari pergaulan sehari-hari dalam masyarakat, namun apakah para orang tua tersebut juga khawatir anak mereka akan terpapar konten negatif dari media.

     Bahkan, menurut dia, yang dikhawatirkan adalah adanya orang tua yang menjadikan gadget sebagai alat agar anaknya betah di rumah atau agar anaknya tidak rewel.

     Dia berharap tidak ada orang tua yang menyediakan fasilitas internet hanya agar anaknya betah di rumah atau agar anaknya tidak rewel.

     Karena itu, dia berharap pemerintah terus memperkuat program untuk pemanfaatan akses media bagi pendidikan.

     "Yang perlu menjadi perhatian pada saat ini bukan hanya bagaimana upaya memperluas akses internet sampai ke desa-desa, namun juga bagaimana memperkuat pemanfaatan untuk pendidikan. Pada saat ini sebagian besar masyarakat masih menjadi konsumen konten media, belum menjadi produsen. Kita masih semata jadi pengguna aplikasi, belum jadi programer," katanya.

     Karena itu, Hari Anak Nasional, kata dia, dapat menjadi momentum untuk memperkuat pemanfaatan media secara positif.

     Dengan demikian, perlu upaya reduksi dampak negatif media, sebagai tantangan dalam pendidikan, sambil terus mengoptimalkan manfaat positifnya.

     Hari Anak Nasional, kata dia, bisa menjadi momentum untuk mewujudkan media yang sehat untuk anak. Dengan tetap mengedepankan tanggung jawab orang tua, sekolah, pembuat konten, dan juga pemerintah sebagai regulator.



Peran Keluarga



     Sementara itu, Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto Muridan, mengatakan Hari Anak Nasional perlu menjadi momentum untuk memperkuat peran keluarga.

     Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat, menurut dia, merupakan bagian fundamental bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

     Keluarga, kata dia, memiliki peran strategis untuk mencetak generasi emas, dengan menanamkan karakter yang baik, yang akan menjauhkan anak dari bahaya penyalahgunaan narkoba, radikalisme, dan berbagai problematika lainnya.

     Orang tua, kata dia, harus mengajarkan anak agar jadi karakter yang penyayang bukan karakter pembenci.

     "Fitrah menyayangi bukan membenci, fitrah berbagi bukan meminta, fitrah saling berbagi bukan individualis.

Membangkitkan fitrah sabar daripada fitrah marah, fitrah berbaik hati hati bukan menyakiti, dan bangkitkan fitrah kerja keras bukan pengeluh," katanya.

     Dia menambahkan, orang tua dapat mengawal perkembangan anak agar mampu menjadi pribadi yang komunikatif dan pandai bermasyarakat. Sekaligus pribadi yang terbuka, toleran, dan adil.

     Dia menambahkan, secara psikologis orang tua memiliki peran strategis dalam membangun jiwa anak yang religius, periang, dan gembira.

     Untuk memperkuat pendidikan karakter pada anak, kata dia, perlu mengedepankan pendidikan yang mengembangkan ideologi yang moderat dan humanis.

     Sementara itu, dia juga menambahkan, mengingat begitu besarnya peran keluarga dalam mencetak generasi emas, kata dia, maka pemerintah perlu memberikan perhatian yang besar terhadap keluarga dengan terus memperkuat sektor kesehatan dan pendidikan yang terjangkau oleh masyarakat.
Pewarta :
Editor: Zuhdiar Laeis
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar