Semarang, ANTARA JATENG - Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang tengah menyeleksi bangunan-bangunan di kawasan Kota Lama yang menjadi bagian jalur pedagangan gula dunia.
"Ya, memang `Kota Perdagangan Gula Dunia` adalah tema yang disiapkan untuk `world heritage` kawasan Kota Lama," kata Ketua BPK2L Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu di Semarang, Kamis.
Semasa zaman Belanda, kata dia, kawasan Kota Lama Semarang pernah menjadi pusat perdagangan gula terbesar di dunia dengan tokoh sentralnya, yakni Oei Tiong Ham yang dikenal sebagai Raja Gula.
Gedung yang merupakan bekas kantor Oei Tiong Ham yang juga dikenal sebagai tuan tanah di Semarang masih ada, lanjut dia, yakni yang sekarang jadi Kantor PT Rajawali Nusindo dan PT Samudera Indonesia.
Akan tetapi, kata Ita, sapaan akrab Hevearita menjelaskan bukan hanya Oie Tiong Ham yang berperan dalam jalur perdagangan gula dunia saat zaman Belanda dulu.
"Makanya, kami masih memilih tempat-tempat mana saja yang jadi bagian dari jalur gula ketika itu, misalnya bangunan yang sekarang jadi Kantor Perusahaan Gas Negara (PGN)," katanya.
Di kantor milik badan usaha milik negara (BUMN) itu, kata dia, terdapat gardu pandang yang konon dulu merupakan kantor syahbandar, termasuk bangunan-bangunan lain," kata Wakil Wali Kota Semarang itu.
Dari 105 bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, kata dia, nantinya akan dipilih beberapa sentral bekas "jalur gula" yang akan dioptimalkan revitalisasinya.
"Kan tidak semuanya 105 bangunan itu harus direvitalisasi semua. Harus ada `stressing` di titik-titik tertentu yang merupakan bagian dari jalur gula. Masih kami telusuri," katanya.
Hanya saja, diakuinya kesulitan yang dihadapi adalah pengumpulan dokumen untuk menguatkan sejarah, termasuk menentukan bangunan-bangunan mana yang paling berperan sebagai jalur gula.
Penelusuran sejarah, kata dia, bisa dilakukan dari dokumen dan data yang berisi fungsi dan status kepemilikan masing-masing gedung yang kebanyakan masih "Eigendom" (status kepemilikan zaman Belanda).
"Menurut informasi, semua data ada di Belanda. Makanya, kami minta dukungan dari PM Belanda saat berkunjung ke sini. Ya, kami kan harus `collecting` dokumen-dokumen pendukungnya," katanya.

