"Selain tersedia anggaran sebesar Rp3,95 miliar, perencanaan juga sudah dianggarkan pada tahun anggaran 2014 sebesar Rp50 juta," kata pelaksana tugas Kepala Dinas Perdagangan Pasar dan Pengelolaan Pasar Kudus Sudiharti di Kudus, Jumat.
Dengan demikian, kata dia, tahapan berikutnya menunggu penandatanganan dokumen pelaksana anggaran (DPA).
"Jika tidak ada permasalahan, tentunya dalam waktu dekat sudah bisa dilelangkan," ujarnya.
Lokasi pembangunan pasar burung tersebut, kata dia, akan menempati lahan pasar hewan yang ada di Jalan Kudus-Undaan, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus yang memiliki luas sekitar 2,6 hektare.
Di lokasi yang sama, para pedagang ternak masih tetap bisa berjualan karena masih tersedia lokasi yang memadai.
Nantinya, kata dia, pasar tersebut akan ditempati para pedagang burung yang selama ini menempati Pasar Wergu Kudus.
Berdasarkan aturan, lanjut dia, pasar burung harus terpisah dengan pasar kebutuhan pokok masyarakat.
Untuk menambah kesan sejuk dan bersih, di lokasi pasar akan dibuatkan taman.
"Kesan di masyarakat bahwa pasar burung di Kudus terkesan kumuh harus diubah karena nantinya memungkinkan menjadi objek wisata baru di Kudus," ujarnya.
Tingkat kebersihan pasar burung yang ada saat ini diakui masih kurang, karena lokasinya berada satu kompleks dengan pasar yang menyediakan berbagai komoditas pokok masyarakat.
Selain itu, lokasinya itu juga masih menggunakan lahan milik PT Kereta Api Indonesia dengan biaya sewa yang cukup mahal.
"Kami ingin meniru pasar burung yang ada di Yogyakarta, karena bisa dijadikan objek wisata tersendiri bagi pecinta burung," ujarnya.
Di lokasi pasar tersebut juga akan disediakan tempat gantungan sangkar burung yang memungkinkan menjadi ajang perlombaan burung berkicau.
Keberadaan pasar tersebut, nantinya tidak hanya menampung pedagang burung di Pasar Wergu Kudus yang berjumlah 175 pedagang, melainkan pedagang burung yang berada di tepi jalan maupun yang belum memiliki tempat menetap juga akan ditampung.

