BPBD: 24 orang tewas dan 69 hilang akibat banjir di Luwu Utara

id banjir luwu utara,banjir sulawesi,dampak banjir

BPBD: 24 orang tewas dan 69 hilang akibat banjir di Luwu Utara

Arsip Foto. Petugas SAR gabungan dan warga mengevakuasi jenazah korban banjir bandang yang ditemukan di Desa Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7/2020). Petugas SAR masih berupaya menemukan warga yang dilaporkan hilang akibat bencana yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan rumah penduduk tersebut. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/wsj.

Makassar (ANTARA) - Banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Kabupaten Luwu Utara di Sulawesi Selatan tercatat telah menyebabkan 24 orang meninggal dunia dan 69 orang hilang menurut data terkini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

"Fokus pada hari ini pada pencarian orang hilang. Dari data yang ada, 69 orang yang hilang, kemudian yang ditemukan meninggal itu ada 24 orang," kata Kepala BPBD Luwu Utara Muslim Muchtar dalam keterangan persnya pada Kamis.

Menurut Muslim, BPBD dan Kantor Pencarian dan Pertolongan sudah mengerahkan petugas untuk menemukan warga yang dilaporkan hilang akibat bencana banjir bandang di Luwu Utara.

Pada Senin (13/7), banjir melanda Kecamatan Masamba, Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat di Kabupaten Luwu Utara.

Banjir di wilayah itu menyebabkan 4.930 rumah terendam, 10 rumah hanyut, 213 rumah tertimbun pasir bercampur lumpur, satu Kantor Koramil 1403-11 terendam air dan lumpur, jembatan antar desa terputus, dan jalan lintas provinsi tertimbun lumpur.

Menurut data BPBD, banjir memaksa 156 kepala keluarga yang terdiri atas 655 orang mengungsi dan berdampak pada 4.202 keluarga yang terdiri atas 15.994 orang.

Muslim mengatakan bahwa ada 39 titik pengungsian korban banjir di Luwu Utara. Pemerintah daerah menyiapkan 20 tempat pengungsian bagi korban banjir.

Korban banjir masih membutuhkan bantuan makanan hingga dua atau tiga hari ke depan serta perangkat sanitasi portabel dan alat berat untuk membersihkan area terdampak banjir.

"Kenapa ini penting karena kita sekarang semua infrastruktur rusak, termasuk sanitasi karena itu sanitasi portabel dibutuhkan. Karena sering mati (listrik), maka kita butuh lampu portabel," kata Muslim.
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar