Dua gajah latih sakit setelah 10 hari usir gajah liar

id gajah sumatera,konflik gajah dan manusia di riau,gajah sakit,BBKSDA Riau

Dua gajah latih sakit setelah 10 hari usir gajah liar

Tim BBKSDA Riau dan WWF bersama gajah jinak melakukan operasi penggiringan gajah sumatera liar di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. (Antaranews/HO-BBKSDA Riau)

Pekanbaru (ANTARA) - Tim gabungan terpaksa menarik Rahman dan Indro, dua gajah latih, dari operasi penghalauan gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) liar di Provinsi Riau akibat keduanya kelelahan dan sakit.

“Dua gajah Rahman dan Indro sudah dipulangkan pada Minggu malam lalu karena keduanya sakit dan ada indikasi kelelahan,” kata Kepala Bidang Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Andri Hansen Siregar, ketika dihubungi Antara dari Pekanbaru, Selasa.

BBKSDA Riau dalam operasi gabungan turut melibatkan Balai Taman Nasional Tesso Nilo dan WWF Program Riau. Dua gajah latih tersebut selama ini dipelihara Taman Nasional Tesso Nilo, dan merupakan bagian dari pasukan gajah Tim Flying Squad.

Rahman diperkirakan berumur sekitar 35 sampai dengan 40 tahun dengan berat kurang lebih 4 ton, sedangkan Indro berumur sekitar 30 sampai dengan 35 tahun dengan berat 3,5 ton. Keduanya merupakan gajah sumatera berjenis kelamin jantan,

Rahman dan Indro sebelumnya mulai bergabung ke tim operasi penggiringan gajah liar sejak 11 Juni 2019. Keduanya berada paling depan untuk menghalau empat ekor gajah liar yang masuk ke perkebunan warga di Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Operasi itu bertujuan untuk menggiring gajah liar masuk lagi ke area kantong gajah Tesso Nilo.

Namun, hingga berlangsung sekitar 10 hari operasi penggiringan tidak berjalan mulus karena berbagai kendala. Akhirnya, gajah latih sakit akibat kelelahan. Selain itu, dari analisa di lapangan, diduga kedua gajah latih itu mengalami kekurangan asupan gizi dan sumber makanan yang tidak sesuai dengan yang seharusnya. Jadi harus ada penanganan khusus agar kedua gajah bisa pulih seperti sediakala.

“Ada indikasi gajah mengalami kelelahan dan gangguan pencernaan karena kotorannya berwarna hitam dan ada cacingnya. Ini karena asupan makanan untuk kedua gajah latih yang tidak terkontrol,” katanya.

Ia mengatakan lamanya waktu operasi juga mengakibatkan kelelahan pada personel BBKSDA Riau. Karenanya, sejumlah personel yang sudah tujuh hari berada di lapangan digantikan oleh yang lainnya agar bisa beristirahat.

Hansen mengatakan, sejauh ini operasi penghalauan gajah liar belum berhasil mencapai kantong gajah Tesso Nilo. Total ada enam gajah liar yang sejak sebelum Idul Fitri masuk ke perkebunan di Inhu, yakni empat ekor di Kecamatan Peranap dan dua ekor di Kecamatan Kelayang.

Penghalauan di Kecamatan Kelayang sudah mencapai sekitar 70 persen berhasil, sedangkan di Kecamatan Peranap melenceng dari rute seharusnya. Dengan bantuan dua gajah latih, tim gabungan baru bisa menggiring gajah liar ke daerah Cerenti Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).

“Melenceng sekitar satu kilometer dari rute seharusnya karena warga di Kuansing kurang kooperatif dan menembakkan mercon dari arah berlawanan,” kata Hansen.

Dengan minus dua gajah latih yang sebelumnya jadi andalan, lanjutnya, proses penggiringan  mengandalkan personel manusia di tim gabungan. Gajah liar berteduh di kebun karet tua yang tidak terawat di daerah itu, dan pada malam hari memakan tanaman kelapa sawit warga yang baru berusia 3-4 tahun. Ia mengatakan tidak ada jangka waktu dalam operasi penggiringan gajah liar tersebut.

 

Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar