Sekaten, hiburan rakyat yang sarat makna

id Sekaten solo

Sekaten, hiburan rakyat yang sarat makna

Muhari tengah membersihkan barang dagangannya di acara Sekaten Solo (Foto: Aris Wasita)

Solo (Antaranews Jateng) - Selain masih tetap memelihara ritual berdimensi religius, Sekaten yang digelar setahun sekali itu, sejak beberapa dekade juga menjadi ajang hiburan rakyat.

Berawal dari peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, kegiatan yang sering disebut dengan upacara hajat keraton ini mulai masuk ke Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada pertengahan abad ke-17.

Salah seorang perwakilan keraton Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Puger atau yang akrab disapa Gusti Puger mengatakan perayaan Sekaten masuk ke Jawa seiring dengan berdirinya kerajaan-kerajaan di Jawa.

"Pertama diadakan di zaman Kasultanan Demak dan dilaksanakan di halaman di Masjid Agung Demak setiap tahunnya," katanya.

Ia mengatakan pada waktu itu Sekaten merupakan upaya untuk memantapkan syiar agama Islam. Seiring dengan berjalannya waktu, di setiap tahunnya makin banyak orang yang datang untuk ikut memperingatinya.

"Akhirnya banyak pedagang yang datang, masyarakat yang datang juga makan di Alun-Alun Demak, sehingga kegiatan ini menjadi identik dengan pasar rakyat," katanya.

Ketika masuk ke Solo, tradisi Sekaten tersebut juga membawa serta gamelan dari Demak yang bernama Nogo Wilogo. Pada perjalanannya, gamelan ini terus dilengkapi oleh keraton-keraton lain.

"Kalau Nogo Wilogo sekarang ada di Kasultanan Cirebon. Sedangkan pada penambahan perangkat gamelan ini yang dari Keraton Mataram bernama Guntur Sari, sedangkan dari Keraton Solo bernama Guntur Madu," katanya.

Ia mengatakan kedua perangkat gamelan tersebut saat ini berada di dua bangsal dalam keraton, yaitu Bangsal Pradangga Utara dan Pradangga Selatan.

Selama acara Sekaten berlangsung, bahkan mulai H-7 dimulainya acara tersebut, gamelan selalu dimainkan secara bergantian. 

"Gending bakunya yang dimainkan yaitu Rambu dan Rangkung. Artinya kalau dalam bahasa Arab yaitu Rabbuna yang berarti melakukan perbuatan baik dan meninggalkan yang tidak baik. Meski begitu, agar lebih bervariasi dimainkan juga gending bonangan, jadi tidak ada sinden," katanya.

Puger mengatakan gamelan tersebut juga mengandung makna sendiri, yaitu harus adanya kekompakan dalam bekerja. 

"Kalau ada perselisihan antara penabuh tidak boleh jadi masalah pada saat menabuh gamelan. Mereka harus kompak, ajarannya harus bisa membedakan antara pekerjaan dengan pribadi, jadi jangan dicampur," katanya.

Ia mengatakan pesan tersebut juga berlaku di semua sektor kehidupan, termasuk dalam pemerintahan adalah urusan negara tidak boleh dicapur dengan pribadi. 

Adapun, gamelan tersebut dibunyikan mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB dan hanya berhenti ketika waktu salat tiba. Selain itu, gamelan tidak dimainkan pada Kamis malam atau malam Jumat.

"Hari Jumat adalah hari yang sakral bagi umat Islam, ini bentuk dari penghormatan tersebut," katanya.
 
Sarat Makna
Selain perangkat gamelan, Sekaten juga identik dengan berbagai ajaran kehidupan mulai dari kesehatan hingga perilaku sehari-hari. 

Puger mengatakan pesan mengenai kesehatan tersirat melalui tradisi makan sirih atau "nginang". Ia mengatakan pada zaman dahulu, orang menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi obat-obatan tradisional termasuk "nginang".

Ia mengatakan ada empat bahan yang digunakan pada tradisi ini, yaitu sirih yang memiliki fungsi sebagai antibodi, injet atau olahan dari tanah gamping sebagai antiseptik yang mampu membunuh bakteri dalam perut.

Selain itu, ada pula gambir yang berfungsi sebagai sumber nutrisi dan tembakau berguna untuk membunuh bakteri di dalam mulut. 

"Empat bahan ini dilengkapi dengan bunga kantil. Bunga ini membawa pesan supaya apa yang diajarkan oleh para wali bisa 'kumantil' (melekat, red), yaitu hanya menjalankan perintah yang baik dan meninggalkan yang tidak baik. Selain itu, bunga ini juga dipercaya membuat orang menjadi awet muda," katanya.

Selain itu, sekaten juga identik dengan permainan wayang golek yang dimainkan oleh anak-anak. Setelah gamelan yang dijadikan sebagai ajang dakwah, dikatakannya, golek ini diartikan sebagai "nggoleki" atau mencari sesuatu yang baik dalam kehidupan.

"Ada pula gangsing atau disebut dengan cokro penggilingan, artinya hidup itu berputar. Bagaimana sebagai manusia kita bisa menjalani dan menjembatani antara atas dan bawah," katanya.

Sementara itu, ada satu makanan yang juga selalu ada dalam pelaksanaan sekaten, yaitu teluar asin atau orang Jawa menyebutnya telur amal.

"Ini menjadi simbol bahwa sebagai manusia kita tidak boleh lupa untuk beramal. Selain itu, ada pula pecut yang menjadi simbol untuk tetap bersemangat, harus optimistis, tidak boleh menjadi orang yang mudah pesimistis terhadap sesuatu," katanya.

Rezeki Pedagang
Selain menjadi ajang hiburan bagi masyarakat, Sekaten juga mampu menjadi ajang "ngalap berkah" atau mengais rezeki bagi para pedagang kecil.

Salah satunya bagi Muhari. Pria renta yang berasal dari Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara ini tidak pernah absen berjualan di acara sekaten setiap tahunnya.

Ia yang selalu datang bersama istri sudah berjualan di Sekaten sejak tahun 1970. Hingga saat ini, tidak sekalipun ia melewatkan acara tersebut.

Meski terlihat tidak istimewa, barang yang dijualnya selalu ditunggu oleh anak-anak, yaitu berbagai jenis mainan masak-memasak yang terbuat dari tanah liat.

Ia juga tidak mematok harga tinggi untuk barang-barang yang dijualnya, yaitu untuk berbagai jenis mainan dijual dengan harga Rp2.000/barang.

Selain itu, ia juga menjual celengan berbentuk buah, tokoh semar, dan ayam dengan harga mulai dari Rp20.000-25.000. Ada juga kendi atau tempat minuman air putih yang terbuat dari tanah liat.

Untuk kendi ini jika ukurannya kecil dijual dengan harga Rp15.000, sedangkan untuk ukuran yang lebih besar dijual dengan harga Rp25.000.

Meski setiap hari ada saja barang yang terjual, ia mengakui untuk tahun ini penjualannya tidak seramai tahun sebelumnya.

"Sekarang satu hari hanya cukup untuk makan, kalau dulu dalam satu hari bisa sampai Rp400.000," katanya.

Ia mengakui penurunan penjualan tersebut karena saat ini ia hanya diberikan lokasi jualan di pinggir jalan, karena kawasan dalam Alun-Alun Lor digunakan untuk pasar darurat Pasar Klewer.

"Kalau dulu di dalam, orang mau berhenti terus beli, kalau sekarang kebanyakan hanya lewat," katanya.
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar