ANTARA TV | TWITTER | Facebook | SIGN IN
Minggu, 23 April 2017

Munir Usung "Pintu yang Bergeming" di Tiga Kota

| 901 Views
id pentas monolog, panggung smk 17 kota magelang, munir syalala, pintu yang bergeming
Munir Usung
Suasana pentas perdana monolog "Pintu yang Bergeming" oleh seniman Munir Syalala di Ruang Panggung SMK 17 Kota Magelang, Senin (20/3) malam. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Hari Atmoko)
Magelang, ANTARA JATENG - Seniman yang juga Koordinator Forum Kilometer Nol Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Munir Syalala, mengusung pentas monolog "Pintu yang Bergeming" di tiga kota, yakni Magelang, Yogyakarta, dan Solo, Jawa Tengah.

"Setelah pentas di Kota Magelang malam ini (20/3), akan dilanjutkan di Yogya dan Solo," kata penulis naskah dan sutradara pentas monolog "Pintu yang Bergeming" Teguh Mahesa di Magelang, Senin (20/3) malam usai pementasan perdana itu oleh Munir Syalala.

Pementasan di Kota Magelang berlangsung di Ruang Panggung SMK 17 Kota Magelang, sedangkan pada 22 Maret mendatang di Laboratorium Teater Universitas Negeri Yogyakarta, dan pada 26 Maret di Taman Budaya Surakarta.

Para penikmat seni dan pelaku seni di Magelang dan sekitarnya, serta beberapa lainnya datang dari Yogyakarta dan Temanggung hadir dalam pementasan perdana dengan durasi sekitar satu jam itu.

Dalam pementasan itu, penata panggung Arief Sulaiman, penata musik Sigit Jodokemil, penata artistik Mang Yani, penata suara Budiyono, dan kurator Damtoz Andreas.

Teguh menyebut persiapan pementasan tersebut selama satu bulan terakhir dijalani oleh Munir Syalala dan tim kreatif.

"Lakon monolog ini menjadi potret lamat-lamat dalam suasana buram kehidupan saat ini. Lakon ini menyampaikan pesan tentang 'kasunyatan' kemelekatan batin dari perilaku ego manusia. Kita semua diajak untuk merefleksikan kehidupan saat ini," katanya.

Penggalan lakon monolog "Pintu yang Bergeming" juga bercerita tentang isteri mantan seorang pejabat penting, yang masih terbuai oleh masa lalu posisi suaminya itu.

Kehidupannya saat ini yang menjadi berbeban dan penuh galau, dilakonkan oleh Munir yang juga seniman musik puisi itu melalui awal pementasannya yang mengusung properti sebagai benda berat masuk panggung.

Sang tokoh diceritakan sebagai pribadi rapuh yang menjalani jalan sepi dan gamang untuk mencari tempat istirahat, sebagai dunianya sendiri.

"Diharapkan menjadi refleksi kehidupan sebagian besar orang, mungkin dengan cara pandang yang berbeda-beda. Bagi saya sendiri pertunjukan ini bagian dari proses diri yang berkelanjutan," kata Munir.

Setelah pementasan perdana itu, dilanjutkan sarasehan oleh para penonton untuk membahas pertunjukan monolog "Pintu yang Bergeming" dengan dipandu seniman Gepeng Nugroho.

Editor: M Hari Atmoko

COPYRIGHT © ANTARA 2017


Komentar Pembaca