Hikmah Hari Merdeka Lebih Menggema

Pewarta : id Hikmah Hari Merdeka Lebih Menggema

Ilustrasi - Bendera Merah Putih berkibar di antara kerangka properti antik berupa atap joglo di tepi Jalan Raya Secang-Magelang, Kabupaten Magelang, menyemarakkan HUT Ke-72 Kemerdekaan Indonesia, Senin (14/8). (Foto: ANTARAJATENG.COM/Hari Atmoko)

Pada era 1945-an pekik "Merdeka!" begitu membahana di mana-mana. Ia bagaikan menguasai relung jiwa dan pikiran, menjadi oksigen yang menafasi kukuhnya persatuan, serta bagian kental dari darah yang mengaliri tubuh setiap warga bangsa.

Pekikan itu bukan lahir karena peristiwa instan, sebagaimana zaman kini dalam hampir setiap kegiatan ditandai "yel-yel" kreatif sebagai pemeriah suasana. Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, bukan peristiwa seketika.

Untuk peristiwa Jumat, sekitar pukul 10.00 WIB, 72 tahun lalu, di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta yang dikumandangkan Soekarno-Hatta itu, Indonesia harus menjalani terlebih dahulu dengan ulet titian panjang sejarahnya.

Segala daya upaya harus ditempuh untuk Indonesia merdeka. Sebut saja mulai dari kesadaran terhadap identitas bersama, penanaman dan penggalangan spirit kebangsaan, serta pengorbanan jiwa dan raga tanpa pamrih selama bertahun-tahun, untuk mencapai cita-cita pembebasan diri dari penjajahan. Lahirlah identitas Indonesia merdeka sebagai bangsa dan negara.

Kehendak merdeka muncul karena penjajahan membuat hidup belepotan dengan penderitaan dan kesusahan. Tekad merdeka karena kesamaan keinginan hidup untuk menjadi sejahtera, makmur, dan bermartabat. Tentu dengan penuh rida Allah Yang Maha Anugerah.

Periodisasi sejarah pencapaian kemerdekaan Indonesia dirumuskan menjadi peristiwa kesadaran kebangsaan melalui Hari Kebangkitan Nasional (1908), penguatan persatuan dan kesatuan sebagai Hari Sumpah Pemuda (1928), dan puncak perjuangan dalam wujud Hari Kemerdekaan Indonesia (1945).

Bung Karno menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan tidak cukup bagi Indonesia karena momentum tersebut baru sebatas jembatan untuk bangsa ini kemudian menjalani "lelakon" periodisasi perjuangan berikutnya, yakni mewujudkan Nusantara yang jaya dan mulia.

Sebagaimana perjuangan untuk sampai Hari Kemerdekaan yang tidak gampang, begitu pula Indonesia jaya dan mulia, bukan peristiwa instan yang begitu saja jatuh dari langit. Untuk mewujudkannya, jalan rumit dan tidak mudah harus dilalui dengan penuh kesadaran jiwa warga bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berbagai tantangan zaman harus tetap dihadapi bangsa ini. Perjuangan mencapai Indonesia merdeka dengan total, gigih, dan takzim menjadi pelajaran bernilai bagi setiap generasi.

Barangkali memang tidak eranya lagi ancaman berupa penguasaan atau penjajahan teritorial suatu bangsa oleh bangsa lain, meskipun kewaspadaan untuk ihwal tersebut tidak boleh sekejap pun luput.

Penjajahan teknologi dan informatika yang hanya membuat sikap individual makin mengental, penguasaan pasar kebutuhan segala aspek kehidupan yang membuat korupsi menggurita, pemerosotan moral dalam wujud serangan narkoba dan impor sembarangan ideologi tidak sesuai nilai-nilai keindonesiaan, atau sajian hedonisme yang menggiurkan hasrat dan meruntuhkan kearifan bangsa, mungkin itulah sejumlah contoh wujud serangan terhadap Indonesia merdeka zaman kini.

Serangan-serangan menghancurkan sendi-sendi keindonesiaan yang bisa saja datang dari luar maupun anasir Bumi Nusantara sendiri itu, harus dihadapi bersama-sama, menggunakan seluruh energi kewarasan bangsa ini.

Keuletan bangsa dan keteguhan berpijak pada nilai-nilai kearifan Indonesia menjadi gema hikmah kekinian atas pekik "Merdeka!" zaman ini, guna meniti jalan ke depan atas sejarah, Indonesia jaya dan mulia. Dirgahayu!

Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar