Djarum Kudus dari Olimpiade ke Olimpiade

id djarum kudus dari olimpiade ke olimpiade

Djarum Kudus dari Olimpiade ke Olimpiade

Pebulutangkis Indonesia, Tantowi Ahmad (kanan) mencium bendera merah putih disaksikan Menpora Andi Mallarangeng (kiri) dan Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo (kedua kiri) saat acara pengukuhan kontingen Indonesia untuk Olimpiade Londo



Indonesia, salah satu negara peserta, akan memberangkatkan 21 atlet dari tujuh cabang olahraga, seperti renang, bulu tangkis, angkat besi, panahan, menembak, dan atletik.

Pada Olimpiade di London mendatang, Indonesia mengincar medali emas, dan itu diharapkan dari cabang olahraga bulu tangkis (meskipun cabang olahraga lain juga memiliki peluang yang sama).

Berbicara soal bulu tangkis tentunya tidak bisa lepas dari Perkumpulan Bulu Tangkis Djarum Kudus yang berdiri 1974 (sebelumnya pada 1969 untuk berlatih karyawannya) dan diketuai oleh Setyo Margono.

Klub bulu tangkis ini sudah mencetak pemain berkelas dunia seperti Liem Swie King, Haryanto Arbi, Hastomo Arbi, Fung Permadi, Antonius Ariyanto, Denny Kantono, Gunawan, Rudy Haryanto, Eddy Hartono, dan lain sebagainya.

Bahkan, klub ini selalu menyumbangkan pemainnya untuk nasional yang berlaga dari mulai SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade, termasuk kejuaraan bulu tangkis perorangan seperti All England, kemudian beregu Piala Thomas dan Uber, serta Sudirman.

Sejak cabang ini dipertandingkan pertama kali pada Olimpiade (memperebutkan medali) di Barcelona, Spanyol, 1992, klub ini selalu memberikan kontribusi prestasi bagi kontingen Indonesia.

Pada Olimpiade Barcelona 1992, pemain asal Djarum Kudus Allan Budikusuma dan Ardy B Wiranata berhasil menciptakan "all Indonesia final". Pada waktu itu Allan yang sekarang menjadi suami dari ratu bulu tangkis Indonesia Susi Susanti berhasil meraih medali emas setelah mengalahkan Ardi B Wiranata dengan dua set langsung 15-12 dan 15-13 (saat itu masih dengan game 15).

Pemain Djarum Kudus lainnya berhasil menyumbangkan medali perak melalui ganda putra pasangan Eddy Hartono/Gunawan setelah dikalahkan ganda kuat Korea Selatan --saat tu-- Kim Moon Soo/Park Joo Bong dengan dua set langsung 11-15,7-15.

Saat itu tim bulu tangkis Indonesia juga meraih medali medali emas melalui Susi Susanti yang mengalahkan tunggal putri Korea Bang Soo Hyun dengan rubber set 5-11,11-5, dan 11-3.

Tradisi menyumbangkan medali juga dilakukan oleh PB Djarum Kudus pada Olimpiade Atlanta 1996, ketika pasangan Denny Kantono/Antonius Aryanto meraih medali perunggu setelah dikalahkan ganda putra Malaysia Chaeh Soon Kit/Yap Kim Hock dengan dua set langsung, 10-15,14-15.

Pada Olimpiade tersebut, tim bulu tangkis Indonesia juga meraih medali emas melalui pasangan Ricky Subagja/Rexy Mainaky.

Kemudian pada Olimpiade Sydney 2000, Minarti Timur yang berpasangan dengan Trikus Haryanto (ganda campuran) meraih medali perak setelah dikalahkan ganda China Zhang Jun/Gao Ling dengan tiga set 1-15,15-13, dan 15-11.

Pada saat itu tim bulu tangkis Indonesia juga meraih medali emas melalui pasangan ganda putra Candra Wijaya/Tonny Gunawan.

Pada Olimpiade Athena 2004, pemain Djarum Kudus Eng Hian yang berpasangan dengan Flandy Limpele berhasil meraih medali perunggu. Pada babak semifinal mereka dikalahkan ganda Korea Selatan, Kom Dong Moon/Ha Ta Kwon dengan dua set langsung 15-8,15-2.

Saat itu kembali tim bulu tangkis juga menyumbangkan medali emas untuk kontingen Indonesia melalui Taufik Hidayat di nomor tunggal putra.

Yang terakhir adalah Olimpiade 2008 Beijing, kembali pemain Djarum Kudus menyumbangkan medali perunggu melalui nomor tunggal putri Maria Kristin Yulianti. Pada perebutan tempat ketiga, Maria Kristin menang atas unggulan ketiga --saat itu-- Lu Lan dari China dengan tiga set 11-21,21-13,21-15.

Olimpiade 2012
Pada Olimpiade London 2012 yang tinggal beberapa hari ini, kembali PB Djarum menaruh harapan kepada tiga pemainnya yang masuk kontingen Indonesia, yaitu Tontowi Ahmad (ganda campuran berpasangan dengan Liliyana Natsir), Muhammad Ahsan (ganda putra berpasangan dengan Bona Septano), serta Meiliana Jauhari (ganda putri berpasangan dengan Greysia Polii).

Mantan pebulutangkis nasional Sigit Budirato berpendapat nomor ganda campuran berpeluang mempertahankan tradisi meraih emas pada Olimpiade London mendatang.

"Kalau saya melihat pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir lebih berpeluang untuk meraih medali emas dibandingkan nomor yang lain," katanya.

Menurut Sigit (berpasangan dengan Chandra Wijaya saat masih di pelatnas), memang peluang nomor yang lainnya memang ada. "Kalau hanya meraih medali semua nomor berpeluang," katanya.

Tetapi, kata Sigit Budiarto yang kini menjadi pelatih ganda taruna PB Djarum Kudus tersebut, kalau untuk meraih medali emas, yang paling besar peluangnya adalah pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

Pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir saat ini menempati peringkat keempat dunia di bawah ganda campuran China Zhang Nan/Zhao Yunlei dan Xu Chen/Ma Jin (China), serta Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen (Denmark).

Prestasi terakhir yang diraih pasangan ini adalah Juara All England, juara Swiss Open Grand Prix Gold, dan juara India Open Super Series, tetapi pada Djarum Indonesia Super Series 2012 hanya menjadi runner up kalah dari pasangan Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam (Thailanda).

Ia menyatakan, saingan terberat mereka bakal datang dari pasangan China (Zhang Nan/Zhao Yunlei dan Xu Chen/Ma Jin), Denmark (Joachim Fisher Nielsen-Chritinna Pedersen), serta ganda campuran Korea (Lee Yong Dae/Ha Jung Eun).

Siapkan Bonus
PB Djarum Kudus menyiapkan bonus kepada pemainnya yang berhasil meraih medali pada Olimpiade London, Inggris.

Memang Djarum Kudus belum menyebutkan nilai nominalnya bonus yang didiberikan jika pemainnya meraih medali emas, perak, atau perunggu.

"Jauh-jauh hari kita sudah sosialisasikan soal bonus kepada pemain Djarum yang tampil pada Olimpiade mendatang," kata Ketua PB Djarum Kudus, Yoppy Rosimin.

Menurut dia, besarnya bonus yang diberikan kepada pemain Djarum Kudus lebih besar dibandingkan yang diberikan saat Tontowi Ahmad (berpasangan dengan Liliyana Natsir) menjadi juara All England 2012.

Ia menjelaskan, ketika menjadi juara All England 2012, Tontowi Ahmad menerima bonus Rp200 juta. "Mengingat Olimpiade tingkatannya lebih tinggi maka bonusnya juga lebih besar dari itu," katanya.

"Kita memang berharap pemain Djarum Kudus bisa meraih medali emas, kalau pun dapat perak atau perunggu tentunya bonusnya juga lebih besar dari juara All England," katanya menegaskan.
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar