Telaah - Magelang, kampung besar Pancasila

id magelang kampung pancasila,alun alun kota magelang

Telaah - Magelang, kampung besar Pancasila

Keramaian masyarakat saat tradisi pengajian Minggu Pahingan di jalan raya kawasan barat alun-alun, di depan Masjid Agung Kauman Kota Magelang. (ANTARA/Muhammad Nafi)

Magelang (ANTARA) - Pemahaman akan keadilan sosial, inklusi sosial, serta keteladanan sangat memengaruhi hubungan sosial masyarakat secara langsung. 

Suri teladan juga merupakan bagian utama dalam penyemaian dan pembudayaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia. 

Perihal keteladanan merupakan satu hal yang paling terasa dalam kehidupan masyarakat. Kurangnya tindakan maupun perilaku sosial, baik dalam konteks individu maupuan lembaga, berhubungan langsung dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Magelang yang posisinya di pertengahan jalur utara dan selatan Jawa merupakan kota yang sangat unik serta mempunyai kekhasan, yang tidak bisa ditemukan di daerah lain. 

Salah satunya adalah adanya alun-alun kota yang selain menjadi pusat aktivitas kota juga cermin nyata dari nilai-nilai Pancasila. 

Posisi rumah-rumah ibadah dari beragam agama yang ada di seputar Alun-Alun Kota Magelang menunjukkan tingginya toleransi beragama di kota tersebut. Hal itu terkait dengan cermin sila pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa".

Sila kedua tercermin dalam beragam fasilitas publik yang bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat, antara lain adanya jalur khusus untuk difabel di pusat kuliner Tuin Van Java.

Begitu juga dengan trotoar sekeliling alun-alun menunjukkan tingginya jiwa kemanusiaan dalam membangun peradaban yang lebih baik ke depannya.

Seringnya agenda yang diikuti masyarakat luas dari Magelang dan sekitarnya menjadi cermin dari semangat persatuan dan kesatuan masyarakat yang tinggi. 

Tetap diperbolehkannya para pedagang pasar tiban "Pahingan" berjualan walaupun sekarang di jalan sisi barat alun-alun, menjadi cermin adanya musyawarah mufakat untuk mewujudkan perubahan. 

Aktivitas pedagang yang sempat akan dipindahkan oleh Pemerintah Kota Magelang ini, masih bisa berjalan rutin saat pengajian di Masjid Agung Kauman Alun-Alun Kota Magelang yang digelar setiap 35 hari sekali.

Baca juga: Pemkot Magelang Hidupkan Tradisi Pasar Paingan Masjid Kauman

Cermin nilai dari sila kelima Pancasila adalah setiap orang bisa mengakses alun-alun dengan mudah. 

Pelayanan pemerintah kota juga sangat penting untuk diapresiasi. Ada banyak fasilitas yang bisa diakses oleh umum, seperti adanya "tab" atau keran air layak minum di area dekat Watertoren (Menara Air), fasilitas "free wifi" yang bisa diakses umum mencerminkan upaya untuk pemerataan akses informasi bagi semua, termasuk bagi yang tidak mempunyai kuota. 

Pancasila dan nilai-nilainya dengan jelas tergambar dalam keberadaan Alun-Alun Kota Magelang. Alun-alun itu penanda atau "landmark" secara nyata atas pembumian nilai-nilai Pancasila. 

Dalam artikel di "Buku Magelang Kampung Pancasila" yang ditulis dr. Reno Ranuh disebutkan bahwa Alun-Alun Kota Magelang merupakan jantung kota, bukan sekedar pusat kota. Jantung yang mendenyutkan dinamika kota, termasuk mengalirkan nilai-nilai kehidupan bersama yang beragam.

Magelang sebagai kampung besar Pancasila adalah tempat menyatu berbagai aspirasi warga kota untuk tumbuh dan berkembang dalam kedamaian secara hakiki. 

"Sejak lahirnya, Magelang, salah satu kota terkecil di Indonesia ini, dirawat dalam suasana rukun, diharapkan selalu menghadirkan suasana damai hingga generasi-generasi selanjutnya," demikian salah satu kutipan artikel dokter senior di Kota Magelang berdarah Bali yang sudah puluhan tahun tinggal di kota ini.

Hanya saja, kedamaian yang selama ini terbangun di Kota Magelang sedikit terusik dengan adanya aksi demo dengan tajuk "Magelang Bergerak" pada 26 September 2019, yang berakhir ricuh. 
 
Unjuk rasa massa di salah satu ruas jalan Kota Magelang, Kamis (26/9/1029). (ANTARA/Muhammad Nafi)

Banyak spekulasi bermunculan setelah kejadian tersebut, termasuk pengaruh dari situasi politik nasional menjelang pelantikan Presiden terpilih melalui Pemilu 2019 lalu. 

Melalui siaran pers, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menyayangkan terjadinya insiden pelemparan batu dan perusakan sejumlah barang milik Pemkot Magelang oleh massa aksi pada Kamis (26/9) sore itu. 

Seharusnya aksi demonstrasi untuk menyuarakan aspirasi dilakukan dengan cara damai dan santun.

Kalau demo di kota ini berujung rusuh massa, hal tersebut sebagai mengherankan berbagai pihak. Selama ini, nyaris tidak terjadi kerusuhan jika terjadi unjuk rasa di daerah setempat

Hal itu, tentunya terkait dengan semangat memiliki dan menjaga kota agar tetap "sejuk" dan damai yang tertanam di sanubari masyarakat setempat.

"Tentu sangat kami sayangkan. Yang demo kan mahasiswa, mahasiswa itu kan kaum intelektual, harusnya tidak terjadi hal seperti itu. Namun, saya menduga yang rusuh kemarin bukan dari mahasiswa, mungkin ada kelompok lain yang menunggangi," ujar Wali Kota Sigit.

Diakuinya bahwa sebelumnya sudah ada sinyal akan terjadi demonstrasi yang berjalan tidak semestinya. 

Namun, ia masih memiliki prasangka baik bahwa aksi akan berjalan tertib dan damai sejak awal sampai dengan akhir.

"Eh benar kejadian. Saya dilapori, ada juga anak-anak pelajar SMK bahkan SMP yang ikut. Anak-anak SMP ini kok bisa ikut-ikutan, arahnya demo untuk apa barangkali tak tahu. Gimana masa depan mereka kelak kalau yang dewasa sudah mengajak aksi-aksi seperti ini," katanya dengan nada sedih.

Baca juga: 20 orang jadi tersangka kasus demo ricuh di Magelang

Penyampaian aspirasi masyarakat sebagai hal yang biasa dan sah di negara demokrasi. Akan tetapi, caranya tidak dengan anarkis. 

Pemkot Magelang pun akan melakukan evaluasi secara keseluruhan dengan seluruh anggota forum pimpinan daerah setempat supaya aksi serupa yang mungkin akan terjadi pada masa mendatang tidak berujung rusuh.

Magelang sebagai kampung besar Pancasila merupakan ide besar pembumian dan penerapan nilai-nilai luhur bangsa yang terkandung dalam Pancasila itu, secara nyata dan langsung ada di jantung masyarakat. 

Nilai-nilai yang harus selalu dijaga dan dipelihara agar dapat menginspirasi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda, dalam bertindak dan berperilaku.

Jarak antargenerasi yang nampak melebar, sebagaimana terlihat dalam gaya hidup bermedia sosial dan keteladanan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, butuh diperhatikan lebih serius.

Kalau secara simbolik-lanskap, nilai-nilai Pancasila telah diwujudkan melalui wajah pusat Kota Magelang.


*) Muhammad Nafi, Koordinator Komunitas Pinggir Kali Kota Magelang, Sekretaris Dewan Kesenian Kota Magelang (2010-2014), dan Ketua Forum Komunikasi Media Tradisional (FK-Metra) Kota Magelang (2016-2019).

Baca juga: Wali Kota: Magelang boleh tua, wajah kota harus muda
Baca juga: Rombongan Kirab Satu Negeri tiba di Kota Magelang

 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar