Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebutkan setidaknya 5.004 siswa terfasilitasi dalam program sekolah kemitraan sebagai upaya mempercepat pemerataan layanan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Sadimin, di Semarang, Minggu, menjelaskan bahwa program sekolah kemitraan dilaksanakan bersamaan dengan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Sekolah Kemitraan adalah program Pemprov Jateng untuk membiayai siswa miskin secara gratis di sekolah swasta (SMA/SMK mitra) terpilih dengan dana APBD.
Program tersebut menargetkan siswa dari keluarga kurang mampu (DTKS P1-P3) yang tidak lolos sekolah negeri,
Diakuinya, daya tampung SMA dan SMK negeri belum mampu mengimbangi jumlah lulusan SMP yang terus bertambah setiap tahunnya.
Dari 5.004 siswa, terdiri atas 2.390 murid diterima melalui program kemitraan, 526 di antaranya di SMA, dan 1.864 di SMK, dengan melibatkan 56 SMA dan 83 SMK swasta terlibat.
Kemudian, sebanyak 2.614 murid tambahan kembali difasilitasi melalui seleksi berbasis tingkat kemiskinan di sekolah mitra.
"Pendekatannya bukan sekadar administratif, melainkan memastikan tak ada anak yang kehilangan hak belajar hanya karena kondisi ekonomi," katanya.
Menurut dia, komitmen itu disertai dukungan anggaran, yakni sebanyak 2.390 murid program kemitraan didanai melalui APBD Jateng 2025 dengan bantuan Rp2 juta per siswa per tahun.
Ia menyebutkan total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 2,39 miliar melalui bantuan operasional sekolah (BOS) daerah.
"Sisanya sebanyak 2.614 murid akan diberikan dukungan pembiayaan melalui sumber dana lain yang sesuai dan mulai disalurkan pada Januari 2026," katanya.
Di luar soal pemerataan akses, Pemprov Jateng juga membuka jalur khusus bagi anak-anak dengan bakat istimewa di bidang olahraga, yakni SMA Negeri Keberbakatan Olahraga sebagai ruang belajar bagi atlet muda bertalenta.
Pada tahun ajaran 2025/2026, SMAN Keberbakatan Olahraga menampung 252 murid, terdiri atas 108 murid merupakan siswa kelas X, sementara 144 murid kelas XI, dan XII merupakan integrasi dari SMAN 11 Semarang yang sebelumnya menyelenggarakan kelas khusus olahraga.
Sebanyak 21 cabang olahraga menjadi fokus pembinaan, mulai dari atletik, angkat besi, panjat tebing, hingga wushu, sedangkan guru-guru diberi keleluasaan menerapkan Kurikulum Merdeka.
Baca juga: Wali Kota Semarang: Sekolah tak memberkan beban siswa selama liburan

