
Industri padat modal di Jateng tumbuh bergairah

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyampaikan bahwa sektor industri padat modal atau "capital intensive" mulai tumbuh bergairah mengejar capaian investasi sektor alas kaki yang selama ini didominasi sektor padat karya.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng Sakina Rosellasari, di Semarang, Kamis, mengakui selama ini Jateng identik dengan ekosistem investasi industri alas kaki.
Namun, diungkapkannya, belakangan ini sektor-sektor dengan nilai investasi besar mulai melirik prospek industri di Jateng.
"Ada realisasi investasi yang memang signifikan di sektor padat modal. Mulai dari fiber optik, alat kesehatan, hingga industri karet dan plastik serta baterai," katanya.
Ia mencontohkan pembangunan pabrik anoda baterai di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal, dengan nilai investasi Rp1,5 triliun.
Kemudian, terdapat penanaman modal dari industri ban di Jatengland Kabupaten Demak senilai Rp1,08 triliun.
Menanggapi tren tersebut, Pemprov Jateng memastikan pelayanan optimal, baik bagi investasi padat modal yang mendongkrak nilai investasi, maupun padat karya yang menyerap tenaga kerja dan menekan angka pengangguran.
"Kami menginginkan keduanya berjalan seiring. Sejumlah kawasan industri memang sudah dilirik sektor padat modal, namun sektor padat karya tetap kami harapkan, karena ekosistem industri alas kaki kuat di Jateng," katanya.
Ia mengatakan bahwa kinerja penanaman modal Jawa Tengah pada 2025 tercatat impresif, dengan realisasi investasi mencapai Rp88,50 triliun atau 112,98 persen dari target Rp78,33 triliun.
Realisasi investasi tersebut, terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp37,64 triliun, dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun.
Dari realisasi tersebut, tercatat 105.078 proyek, dengan penyerapan tenaga kerja Indonesia mencapai 418.138 orang.
Lima besar sektor realisasi investasi, meliputi industri barang dari kulit dan alas kaki (Rp11,37 triliun), industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik, dan jam (Rp9,70 triliun).
Kemudian, industri karet dan plastik (Rp8,96 triliun), industri tekstil (Rp7,97 triliun), serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran (Rp7,47 triliun).
Adapun lokasi favorit penanaman modal meliputi Kabupaten Kendal (Rp15,86 triliun), Kota Semarang (Rp11,15 triliun), Kabupaten Demak (Rp9,06 triliun), Kabupaten Batang (Rp6,73 triliun), dan Kabupaten Semarang (Rp4,38 triliun).
Investor asal Hong Kong masih menempati posisi teratas penanam modal, diikuti Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, dan Samoa Barat.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2026
