PKL Barito minta penyelesaian akses jalan tempat relokasi

id lapak sementara

PKL Barito minta penyelesaian akses jalan tempat relokasi

Ilustrasi - lapak sementara bagi pedagang kaki lima (PKL) yang direlokasi. (Foto: R. Rekotomo)

Semarang (Antaranews Jateng) - Para pedagang kaki lima (PKL) di bantaran Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang dikenal dengan PKL Barito mendesak penyelesaian pembangunan akses jalan menuju tempat relokasi.
     
"Akses masuk (jalan, red.) itu penting. Lihat saja jalannya masih berupa tanah dan sering banjir. Listrik apalagi," kata perwakilan PKL Barito Semarang Sugiyanto di Semarang, Kamis.
     
Menurut dia, pedagang sudah berkomitmen untuk pindah ke tempat relokasi dan membangun kios secara swadaya sehingga pemerintah juga harus memenuhi komitmennya.
     
"Kami minta Pemkot (Pemerintah Kota Semarang, red.) juga memahami. Kami sudah bangun kios sendiri, swadaya. Kalau ingin kami segera pindah, perbaiki infrastrukturnya segera," katanya.
     
Jika infrastruktur sudah tersedia, mulai jalan, drainase, listrik, dan air bersih sudah ada, lanjut dia, dengan sendirinya pedagang akan menempati tanpa harus dikejar-kejar.
     
Ketua Paguyuban PKL Karya Mandiri di Kelurahan Karangtempel Rahmat Yulianto menyebutkan jumlah pedagang yang tergabung dalam paguyuuban ada 452 orang.
     
Meski sudah puluhan tahun menempati kawasan Barito, kata dia, para pedagang bersedia pindah ke tempat relokasi di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang.
     
Namun, kata dia, PKL meminta Pemkot Semarang berkomitmen memenuhi dan melengkapi fasilitas dan infrastruktur yang dijanjikan, seperti jalan, listrik, dan air bersih.
     
"Kami sudah sepakat membuat lapak secara mandiri, tetapi harus diimbangi pembangunan infrastruktur sehingga Desember ini bisa geser (ke tempat relokasi, red.)," katanya.
     
Dari Pemkot Semarang, kata dia, sudah membangun akses jalan masuk menuju tempat relokasi, namun baru terlaksana sekitar 40 persen dan kini sudah tidak dilanjutkan kembali.
     
Untuk fasilitas air dan listrik, termasuk saluran drainase malah belum ada, lanjut dia, padahal berbagai fasilitas itu sangat dibutuhkan PKL agar bisa berjualan di tempat relokasi tersebut.
     
"Fasilitas ini kami pakai untuk menyempurnakan kios, kan butuh listrik juga. Kalau tidak ada listrik dan air, bagaimana kami bisa berjualan? Ini kios sudah hampir selesai dibangun," katanya.
     
Akan tetapi, Rahmat menegaskan PKL sepakat tidak akan pindah sebelum infrastruktur sebagaimana dijanjikan saat prosesi "boyongan" akhir November lalu dipenuhi pemerintah. 
Pewarta :
Editor: Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar