Operasional PLTSA Jatibarang molor hingga tahun depan

id jatibarang

Operasional PLTSA Jatibarang molor hingga tahun depan

Hamparan geomembran menutup permukaan sampah pada proyek pembangunan PLTSa gas metana di TPA Jatibarang, Semarang, Jumat (25/5). Foto: R. Rekotomo)

Dari 1.200 ton produksi sampah per harinya di Kota Semarang, 80 persennya sudah masuk ke sini (TPA Jatibarang, red.), sementaranya sisanya ke bank-bank sampah
Semarang (Antaranews Jateng) - Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Jatibarang Semarang yang dijadwalkan Oktober 2018 dipastikan molor hingga April tahun depan.
     
"Mesinnya sudah datang, tetapi masih perlu dilakukan penyempurnaan dalam pemasangan instalasinya," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang Muthohar di Semarang, Jumat.
     
Mesin pendorong gas untuk pembangkit, kata dia, sudah didatangkan langsung dari Spanyol pada September lalu, tetapi masih perlu penataan dalam pemasangan instalasi.
     
Ia menjelaskan mesin pendorong gas tersebut berkapasitas 0,8 megawatt dan sudah terpasang, tetapi perlu dimatangkan agar dalam operasional nantinya benar-benar siap.
     
"Ada penyambungan instalasi pipa gas yang mengalirkan gas metana dari pembakaran sampah menuju penampungan, nanti dari penampungan diolah jadi listrik," katanya.
     
Penyambungan instalasi pipa gas metana, lanjut dia, saat ini sedang dikerjakan dan dalam waktu dekat akan diuji coba untuk melihat kekurangan dalam pengoperasiannya.
     
"Jika ada yang kurang, kami akan perbaiki lagi sampai benar-benar siap dioperasikan. Ini PLTSa dari gas metana, nanti ada lagi PLTSa baru dengan teknologi insenerator berkapasitas 12 MW," katanya.
     
Proyek PLTSa tersebut merupakan bantuan Pemerintah Denmark senilai Rp45 miliar, dibangun di atas lahan sembilan hektare di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang.
     
Untuk PLTSa berteknologi insenerator, Muthohar menyebutkan rencananya November 2018 sudah bisa dilelang sehingga pengerjaan fisiknya bisa dimulai pada Januari 2019.
     
"Nanti, pengelolaan dilakukan PT Bumi Pandanaran Sejahtera selaku 'holding company' BUMD Pemerintah Kota Semarang, tetapi penjualan listrik tetap oleh PLN," katanya.
     
Selain membantu memenuhi kebutuhan listrik, kata dia, keberadaan PLTSa itu juga dimaksudkan mengurangi tumpukan sampah yang selama ini masuk TPA Jatibarang.
     
"Dari 1.200 ton produksi sampah per harinya di Kota Semarang, 80 persennya sudah masuk ke sini (TPA Jatibarang, red.), sementaranya sisanya ke bank-bank sampah," katanya.
     
Dengan dioperasikannya PLTSa Jatibarang, kata dia, masyarakat Semarang akan terbantu dalam pemenuhan kebutuhan listrik, khususnya di sekitar TPA tersebut.
 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar