Atal janji tingkatkan kemampuan wartawan

id Pwi, atal depari

Atal janji tingkatkan kemampuan wartawan

Atal S Depari saat terpilih menjadi Ketua Umum PWI periode 2018-2023 (Foto: Mohammad Ayudha)

Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia periode 2018-2023 Atal Sembiring Depari berjanji meningkatkan kemampuan wartawan melalui berbagai program kependidikan yang selama ini dilaksanakan oleh PWI.

Hal yang harus dilakukan oleh PWI bagaimana bisa meningkatkan kompetensi dan martabat wartawan, baik itu melalui Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI) maupun Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Pelaksanaan UKW dan SJI selama ini dinilainya sudah baik, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan wartawan karena kapasitas kepesertaan yang masih sedikit dan biaya yang cukup mahal.

"Untuk melaksanakan kegiatan seperti ini paling tidak daerah harus menyediakan anggaran lebih dari Rp200 juta. Selain itu, waktu pelaksanaan juga lebih lama sehingga peserta enggan karena harus izin kantor hingga dua minggu," katanya.

Sebagai salah satu solusinya, ia akan mengadakan kelas dalam jaringan. Satu hal yang pasti, PWI tidak boleh ketinggalan zaman, termasuk dalam hal menyesuaikan diri dengan zaman "now".

"Online` ini merupakan program yang akan kami laksanakan pada tahun pertama kepemimpinan saya," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Atal juga mengatakan wartawan harus beradaptasi dengan semua media, salah satunya media digital.

"Saat ini dagangan tidak bisa laku jika cukup dengan satu `gadget`. Media juga begitu, selama ini banyak ulasan, koran bisa mati, televisi 10-20 tahun lagi pindah ke TV streaming. Kita harus siap," katanya.

Meski demikian, dia optimistis bahwa profesi wartawan tidak akan mati, asalkan wartawan beradaptasi dengan kemajuan pesat teknologi.

"Di satu sisi teknologi mengancam kita, tetapi di sisi lain juga memberikan peluang," katanya.

Sampai kapan pun profesi wartawan tidak akan bisa digantikan oleh robot karena ada Kode Etik Jurnalistik yang harus dipatuhi.

"Robot kan tidak pakai hati, tidak tahu apa itu Kode Etik Jurnalistik, jadi yang membuat berita tetap wartawan. Ini yang harus kita latih," katanya.


Sebelumnya

Atal yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Bidang Daerah PWI Pusat pada Kongres XXIV PWI berhasil mengalahkan Hendry Ch Bangun yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PWI Pusat

Pada kesempatan tersebut, dari 73 suara yang diperebutkan, pria kelahiran Seberaya pada 4 Januari 1954 ini berhasil mengumpulkan 38 suara.

Pesaingnya, Hendry Ch Bangun mengumpulkan 35 suara sehingga dengan demikian Atal dinyatakan terpilih menjadi Ketua Umum PWI, menggantikan Margiono yang sebelumnya menjabat selama dua periode.

Pada awal penjaringan calon ketua umum, mencuat tiga nama, yakni Hendry Ch Bangun, Atal Sembiring Depari, dan Sasongko Tedjo. Namun, Sasongko menyatakan tidak bersedia dicalonkan.

Dengan demikian hanya Hendry dan Atal yang menjadi calon. Pada awal penjaringan calon, Atal meraih 19 suara, Hendry 16 suara, Sasongko 1 suara, dan dua suara tidak sah.

Meski berhasil mengalahkan Hendry, Atal berjanji merangkul Hendry untuk merealisasikan proram-programnya. Bahkan, ia juga mengapresiasi salah satu program Hendry, yaitu mengusulkan tunjangan dari pemerintah untuk wartawan yang sudah memiliki sertifikat kompetensi.

"Itu tadi idenya Pak Hendry, diperjuangkan mungkin bisa, dibiayai oleh pemerintah. Kita bisa bersama-sama mewujudkan itu," katanya.

Saat ini, Atal merupakan Pempimpin Umum sekaligus Penanggung Jawa online sportanews.com dan media suarakarya.id.

Atal pertama kali terjun di dunia media massa pada 1975 sebagai korektor, "layoutman", dan "draftman" Harian Umum Sinar Pagi.

Selanjutnya, pada 1977 Atal yang saat ini tinggal di Tangerang Selatan tersebut, menjadi wartawan hiburan di harian yang sama, dan pada 1997 berhasil menjadi Pemimpin Redaksi Harian Umum Sinar Pagi.

Pada 1999, ia berhasil menjadi Pemimpin Umum Redaksi Harian Umum Berita Kota.


Berharap 

Pada pembukaan kongres di Hotel Sunan, Jumat (28/9), Presiden Joko Widodo berharap PWI bisa menjadi pedoman untuk memberikan berita yang benar.

Menurut Kepala Negara, saat ini masyarakat membutuhkan informasi berkualitas mengingat terlalu banyak berita yang tidak jelas juntrungannya.

Buktikan kepada rakyat bahwa media merupakan sumber informasi yang kredibel dan berkualitas. Indonesia butuh wartawan berdedikasi tinggi dan menjaga martabat. Satu artikel dari dirinya turut menentukan persepsi publik dan masa depan negara kita," katanya.

Menurut dia, media massa harus membangun "check and balance" serta memperkuat partisipasi warga dan mewujudkan pemerintahan yang akuntabel.

Presiden juga mengatakan bahwa kritik yang disuarakan media massa dalam demokrasi adalah sesuatu yang wajar karena dengan kritik, pemerintah bisa membenahi kekurangan yang ada.

"Akan tetapi kritik beda dengan fitnah dan provokasi, juga bukan mencari kesalahan dan nyinyir," katanya.

Presiden Jokowi mengingatkan semua pihak agar tidak menghalangi kerja wartawan dan melakukan kekerasan kepada jurnalis.

"Kebebasan pers menjadi hal utama. Saya juga meminta pemilik media massa agar memperhatikan ?kesejahteraan wartawan," katanya.

Ia juga meminta wartawan menjadi pencegah hoaks mengingat saat ini banyak informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Dengan hadirnya media sosial, setiap orang bisa menjadi wartawan dan pemimpin redaksi. Rapat redaksi yang tertata diganti oleh medsos. Tantangan lain adalah munculnya hoaks, memanfatkan peluang kebebasan dan demokrasi yang tersedia. Di sinilah saya melihat pentingnya PWI, pentingnya media massa untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat," katanya. 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar