Urgensi Komunikasi Media Bentuk Karakter

id anna,undip

Urgensi Komunikasi Media Bentuk Karakter

Anna Puji Lestari. (Foto: Dok.)

Etika tidak dapat dipisahkan dari produksi program televisi.
         Baru-baru ini masyarakat dikejutkan oleh peristiwa meninggalnya seorang guru SMA di  Sampang, Madura, Jawa Timur yang disebabkan oleh pemukulan siswanya.

          Peristiwa tersebut lantas meninggalkan trauma mendalam sekaligus menjadi indikator kemunduran atau degradasi moral para remaja zaman sekarang.

        Terdapat indikator lain terjadinya degradasi moral di kalangan remaja, seperti penyalahgunaan narkoba, pornografi dan pornoaksi, plagiarisme, menurunnya nilai kebanggaan berbangsa dan bernegara serta perundungan (bullying).

        Pada kasus perundungan, berdasarkan data Kementerian Sosial terungkap bahwa sebanyak 84 persen anak usia 12 tahun hingga 17 tahun pernah menjadi korban perundungan yang dilakukan oleh teman sebayanya. Perundungan merupakan masalah serius karena memiliki dampak buruk pada korban berupa depresi, menutup diri, atau paling fatal, korban bisa bunuh diri.

        Berbagai indikator tersebut menunjukkan degradasi moral di kalangan remaja zaman sekarang. Semua pihak sepakat bahwa solusi bagi masalah tersebut adalah penanaman pendidikan karakter bagi siswa. Melalui pendidikan karakter, siswa dididik agar memiliki sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti luhur. Siswa yang memiliki karakter adalah siswa yang memiliki toleransi, disiplin, dan menghargai prestasi.

        Toleransi merupakan sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda.

        Disiplin merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

        Menghargai prestasi merupakan sikap dan tindakan yang mendorong siswa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakui, dan menghormati keberhasilan orang lain.

        Selama ini, pendidikan karakter telah diberikan di sekolah. Guru-guru di sekolah telah melakukan inovasi dalam mengembangkan pendidikan karakter dalam upaya menumbuhkembangkan karakter dalam diri peserta didik.

        Namun, pendidikan karakter yang diberikan di sekolah belum memberikan hasil yang memadai/signifikan. Masih banyak degradasi moral remaja yang terjadi, bahkan mengalami peningkatan. Dengan demikian, bisa dikatakan pendidikan karakter yang diberikan belum maksimal.

        Pendidikan karakter dinilai belum maksimal karena hanya melibatkan guru dan orang tua siswa. Sebenarnya, sinetron yang ditayangkan oleh televisi memiliki peran besar membentuk karakter remaja yang menontonnya.

        Remaja kekinian selain mencari hiburan dan informasi melalui internet juga menyukai menonton sinetron dengan tema remaja. Hal tersebut bisa diketahui berdasarkan survei yang dilakukan Nielsen Media Research.

        Survei tersebut menunjukkan bahwa televisi masih menjadi medium utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia (95 persen), disusul oleh internet (33 persen).

   
                   Minim Kualitas
   Sinetron zaman sekarang bisa dikatakan minim kualitas karena hanya mempertontonkan adegan seputar pacaran yang kelewat batas, naik motor gede tanpa mengenakan helm, merundung teman sekelas yang berbeda pendapat, dan sebagainya yang memiliki tema negatif.

        Jarang sekali sinetron yang bertema positif semacam persahabatan, toleransi, dan bekerja keras meraih nilai maksimal tanpa curang. Padahal, sinetron-sinetron bertema positif sangat dibutuhkan keberadaannya guna menunjang pendidikan karakter bagi remaja yang menontonnya.

        Relevansi antara remaja yang menonton sinetron bagi pendidikan karakter bisa dijelaskan oleh teori kognitif sosial yang dikemukakan Albert Bandura. Teori ini memberikan kerangka pemikiran untuk menganalisis pengetahuan manusia yang akan menghasilkan perilaku tertentu.

        Penelitian yang dilakukan dengan mendasarkan pada teori ini telah memberikan gambaran bahwa proses mental penonton ketika belajar memahami lingkungannya secara lebih luas dan komprehensif akan memengaruhi perilakunya (Bryant dan Thompson, 2002).

        Usia remaja merupakan usia ketika seseorang sedang mencari jati diri. Dengan demikian, usia remaja rentan meniru perilaku negatif yang disaksikannya di televisi. Berdasarkan berbagai penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa remaja meniru perilaku yang dilihatnya, terutama dari media massa. Proses peniruan ini terjadi melalui imitasi dan identifikasi.

        Imitasi adalah peniruan secara langsung dari perilaku yang dilihat di televisi, sedangkan identifikasi merupakan perilaku meniru ketika penonton tidak meniru secara sama persis adegan yang disaksikan di televisi, tetapi memiliki tanggapan berhubungan.

        Berdasarkan berbagai hasil penelitian diketahui bahwa makin sering remaja menonton tayangan kekerasan di televisi, maka yang bersangkutan akan cenderung melakukan kekerasan pula terhadap teman sebayanya. Hal tersebut terjadi lantaran para remaja tersebut memiliki gambaran salah ketika belajar memahami lingkungannya.

   
   Gambaran yang Salah
   Apabila penonton yang berusia remaja memiliki gambaran salah mengenai lingkungan, gambaran dunia yang mereka dapatkan juga akan keliru. Misalnya, kekeliruan menganggap bahwa merundung teman sekelas merupakan hiburan, melawan guru dianggap sebagai tindakan keren, memiliki pacar merupakan keharusan sehingga melupakan tugas utama untuk belajar.

        Akibatnya, para penonton remaja juga akan melakukan perilaku sejenis. Perilaku sejenis yang cenderung merusak ini dinamakan proses identifikasi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa para remaja lebih banyak melakukan identifikasi daripada imitasi ketika menonton tayangan dengan tema negatif.

        Remaja yang masih berada dalam pencarian jati diri harus disuguhi tayangan bertema positif yang dapat membentuk karakter. Artinya, komunikasi media melalui sinetron turut memegang peran vital bagi pengembangan karakter remaja. Dengan demikian, produksi sinetron zaman sekarang memang harus melibatkan etika.

        Etika tidak dapat dipisahkan dari produksi program televisi. Etika adalah jantung  program televisi guna memandu ke arah moral yang baik (Hill, 2005). Anthony Giddens dan Michael Foucault juga menyatakan bahwa suatu program televisi dinyatakan sehat jika memiliki aturan etis.

        Dengan demikian, mutlak diperlukan tontonan yang tidak hanya mengibur tetapi juga mencerahkan dengan melibatkan prinsip-prinsip etika.

        Dari sisi komunikasi, sinetron harus menekankan pentingnya tanggung jawab secara etis. Prinsip etika komunikasi adalah membela kebenaran dan kejujuran sebagai hal dasar mewujudkan integritas komunikasi, serta adanya tanggung jawab terhadap apa yang disiarkan.

         Tanggung jawab melibatkan konsekuensi jangka panjang dan jangka pendek dari proses komunikasi yang telah dilakukan (Griffin, 2006).

        Proses komunikasi media melalui sinetron yang ditayangkan telah mengakibatkan konsekuensi kentara akhir-akhir ini. Berbagai penelitian yang dilakukan dengan mendasarkan pada teori kognitif sosial telah mengentarakan konsekuensi tersebut. Konsekuensi tersebut adalah terjadinya degradasi moral remaja yang menontonnya.

        Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, meningkatnya degradasi moral di kalangan remaja bisa dipicu oleh tontonan minim kualitas. Oleh karena itu, diperlukan partisipasi dari semua kalangan, termasuk dari para pelaku industri media televisi. Pelaku industri media televisi diharapkan mau menanamkan pendidikan karakter bagi remaja dengan memproduksi sinetron-sinetron bertema positif.

        Komunikasi media melalui tayangan-tayangan dengan tema positif diharapkan banyak diproduksi karena bisa dijadikan sebagai sarana vital bagi penanaman pendidikan karakter para remaja. Memvitalkan komunikasi media bagi pendidikan karakter generasi muda urgen dilakukan.

*) Penulis adalah mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (Mikom) Universitas Diponegoro Semarang.
Pewarta :
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar