"Tahun ini, kita dapat bantuan untuk anggrek di Baturraden," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin.
Menurut dia, tanaman anggrek merupakan salah satu unggulan di Kabupaten Banyumas.
"Nantinya Baturraden menjadi kawasan wisata yang orang bisa pulang membawa sesuatu," katanya.
Dalam hal ini, wisatawan yang berkunjung ke Baturraden bisa pulang dengan membawa tanaman anggrek yang dibudidayakan di kawasan wisata itu.
Oleh karena itu, kata dia, pihaknya akan berupaya keras agar bisa menampilan berbagai tanaman unggulan Kabupaten Banyumas.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas Deskart Setyo Jatmiko mengatakan bahwa di Lokawisata Baturraden sebenarnya sudah ada dua pusat penjualan tanaman anggrek.
"Ada dua, satu di dalam dan satu di luar Lokawisata Baturraden. Pengelolanya pensiunan pegawai Lokawisata Baturraden dan yang dijual anggrek bulan," katanya.
Akan tetapi, kata dia, pemasaran tanaman anggrek di Lokawisata Baturraden tidak secepat yang diharapkan karena pembelinya merupakan wisatawan yang uang sakunya terbatas.
Selain itu, lanjut dia, daya serap masyarakat kota Purwokerto terhadap anggrek masih rendah karena belum menjadikan tanaman tersebut sebagai buah tangan seperti halnya di kota-kota besar.
"Sebenarnya penjualan anggrek di Baturraden sudah jalan tapi kalau memang mau ditambah, ya 'monggo-monggo' (silakan, red.) saja," katanya.
Menurut dia, di wilayah Baturraden sebenarnya banyak pusat budi daya serta penjualan tanaman tanaman hias, bunga, dan anggrek.
Akan tetapi, kata dia, tempat-tempat itu lebih banyak menjual tanaman untuk kebutuhan pembuatan taman.
"Penyerapannya yang besar untuk taman," jelasnya.

