"Hingga saat ini kami hanya mampu memenuhi permintaan dari sejumlah daerah di Pulau Jawa, sedangkan di luar Jawa belum bisa kami layani karena keterbatasan dalam pembibitan," kata Ketua Kelompok Mina Papilon, Untung Sugiharto, di Temanggung, Senin.
Ia menyebutkan selama ini hanya mampu memenuhi permintaan dari beberapa kota di Pulau Jawa, antara lain Semarang, Jakarta, Bogor, dan Cilacap.
"Sebenarnya kami ada permintaan bibit koi dari Batam dan Kalimantan tetapi belum bisa kami penuhi," katanya.
Ia menyebutkan dalam satu bulan dari sejumlah induk ikan koi yang dimiliki Mina Papilon hanya mampu memproduksi sekitar 2.000 bibit ikan koi dengan kualitas A, B, dan C.
Ia mengatakan Mina Papilon memiliki induk koi lokal 25 ekor terdiri atas 15 ekor jantan dan 10 ekor betina serta 20 ekor induk koi impor terdiri atas 15 ekor jantan dan lima ekor betina.
Menurut dia, dari setiap pemijahan hanya menghasilkan 20 persen bibit berkualitas untuk dibudidayakan dan dijual kepada konsumen, sedangkan yang 80 persen ditebar ke sungai.
Ia menuturkan kualitas ikan hias koi ditentukan oleh pola warna, kecerahan warna, dan bodi ikan.
Ia menyebutkan, harga bibit ikan koi lokal grade A Rp10.000 per satu centimeter, sedangkan grade B Rp5.000, dan grade C Rp3.000 per satu centimeter.
"Nilai ekonominya cukup tinggi. Harga bibit ikan koi lokal grade A umur enam bulan dengan panjang sekitar 15 centimeter Rp150 ribu per ekor, sedangkan bibit koi impor harganya bisa mencapai dua kali lipat dari koi lokal," katanya.

