Rifan Financindo Prihatin Maraknya Investasi Bodong

id rifan financindo, investasi bodong, Semarang

Rifan Financindo Prihatin Maraknya Investasi Bodong

Chief Business Officer PT Rifan Financindo Berjangka Teddy Prasetya (dua dari kiri) menjelaskan tentang investasi, didampingi Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) Sthepanus Paulus Lumintang (kiri), dan Syaiful Bachri selaku Kepala Cabang RFC

Semarang, ANTARA JATENG - Perseroan Terbatas Rifan Financindo Berjangka prihatin dengan kian maraknya investasi bodong yang membuat masyarakat menjadi korban karena kurangnya pengetahuan mengenai investasi.

"Selama ini harus diakui masyarakat masih awam. Banyak yang belum mengerti perbedaan investasi legal dan ilegal," kata Chief Business Officer PT Rifan Financindo Berjangka Teddy Prasetya, di Semarang, Selasa.

Seperti terjadi baru-baru ini dengan investasi First Travel yang diduga ilegal, kemudian di Semarang sempat mencuat juga kisruh investasi di Iqro Management, dan berbagai kasus lainnya yang serupa.

Menurut Teddy, masyarakat hanya mengenal secara umum jenis investasi sebatas saham, obligasi, reksadana, deposito, dan sebagainya, ditambah citra negatif yang melekat di kalangan pelaku perusahaan pialang.

Sebagai pelaku industri perdagangan berjangka komoditi (PBK), kata dia, RFB yang juga anggota Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI) merasa perlu ikut mengedukasi masyarakat.

"Kami bersama BBJ dan KBI menggelar edukasi dan sosialisasi mengenai investasi di lima kota, yakni Pekanbaru, Semarang, Medan, Palembang, dan Surabaya pada Agustus-September 2017," katanya.

Sasarannya, kata Teddy, para jurnalis melalui kegiatan berbentuk "media workshop" dengan harapan bisa menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa berinvestasi harus secara legal dan logis.

Direktur Utama BBJ Sthepanus Paulus Lumintang mengatakan dinamika industri perdagangan berjangka selama 17 tahun mengalami perkembangan luar biasa meski masih tertinggal 100 tahunan dari Amerika Serikat.

"BBJ merupakan bursa berjangka pertama di Indonesia, yakni sejak 1999. Di AS, sudah dikenal sejak 1840 di Chicago. Salah satu pemegang sahamnya, RFB, sekaligus penyumbang transaksi terbesar," katanya.

Edukasi terhadap masyarakat, diakuinya sangat penting karena sebenarnya tidak ada aktivitas investasi yang tanpa risiko, tetapi yang terpenting bagaimana meminimalkan risiko untuk hasil yang baik.

Investasi bodong, kata Sthepanus, umumnya tidak berusia panjang karena mereka hanya bergerak sebentar untuk meraup untung dengan waktu yang secepatnya dan nominal yang sebesar-besarnya.

"Pilihlah investasi yang legal, ketahui jenis investasi yang mau dipilih, dan pahami risiko, serta cara bertransaksi. Ini semua akan kami jelaskan secara rinci dalam wokshop nanti," katanya.

Sementara itu, Kepala Cabang RFB Semarang Syaiful Bachri selama ini banyak masyarakat menjadi korban investasi bodong karena mereka hanya berinvestasi tanpa disertai edukasi.

"Maunya cepat untung, tetapi tanpa edukasi. Kami selama ini sudah melakukan sosialisasi dan selalu menjelaskan kepada calon nasabah tentang investasi yang efektif, aman, dan nyaman," pungkasnya.
Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar