Nuansa keberagaman dalam perayaan Imlek di Solo

id Imlek, pluralisme

Nuansa keberagaman dalam perayaan Imlek di Solo

Anggota Banser saat mengamankan perayaan Imlek di depan Kelenteng Tien Kok Sie Surakarta (Foto: Aris Wasita)

Solo (Antaranews Jateng) - Nuansa keberagaman atau pluralisme terasa pekat pada perayaan Imlek 2019 yang dipusatkan di Kelenteng Tien Kok Sie, Pasar Gede Surakarta, Jawa Tengah.
 
Bukan hanya ingin berkunjung dan melihat langsung prosesi yang dilakukan pada malam Imlek, tidak sedikit orang dari suku, agama, dan ras lain yang tumpah ruah di kawasan tersebut untuk mengais rezeki dan terlibat dalam pengamanan malam Imlek.
 
Seperti yang terlihat pada Senin (4/2), puluhan anggota Banser terlihat fokus dan total dalam memberikan pengamanan di depan Kelenteng Tien Kok Sie. Bahkan, terlihat sebagian dari anggota Banser lantang memperingatkan sejumlah orang yang ingin masuk ke dalam Kelenteng.
 
"Malam ini kami mengerahkan sebanyak 35 orang anggota kami, ini kami lakukan karena sebelumnya ada isu demo lampion Imlek," kata Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Laweyan Anwar Rasyid di sela pengamanan di Solo, Senin.
 
Untuk mengoptimalkan pengamanan anggota Banser tidak hanya fokus di sekitar Kelenteng tetapi disebar di beberapa titik. Selain itu, tidak semua anggota menggunakan seragam untuk memastikan pengawasan.
 
"Sebanyak 25 anggota mengenakan seragam Banser, sedangkan 10 orang mengenakan pakaian sipil," katanya.
 
Pengamanan dilakukan sejak pukul 17.00 WIB hingga selesainya acara, yaitu pukul 00.00 WIB. Ia mengatakan pengamanan serupa sudah dilakukan setiap perayaan Imlek sejak lima tahun lalu.
 
Bukan karena perintah, menurut Anwar, pengamanan dilakukan karena keikutsertaan Gerakan Pemuda Ansor pada Forum Lintas Pemuda Agama Surakarta binaan Kementerian Agama.
 
"Sejak keikutsertaan GP Ansor di situ, kami makin sering diajak dari sisi pengamanan, termasuk pada saat Natal," katanya.
 
Ia mengatakan keterlibatan tersebut dilakukan demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjaga solidaritas antarumat beragama.
 
"Selama ini kami juga lebih banyak merasakan pengalaman manis, kan ini sifatnya sosial. Lagi pula kami juga ingin meneruskan perjuangan Gus Dur yang dikenal sebagai Bapak Pluralisme Indonesia," katanya.

Rezeki untuk Semua
Ribuan orang yang tumpah ruah di kawasan Pasar Gede untuk ikut dalam ingar bingar Imlek rupanya juga mendatangkan keberuntungan bagi masyarakat yang justru tidak ikut merayakan Imlek, salah satunya pedagang kecil.
 
Mulai dari Jalan Jenderal Sudirman tepatnya di depan Kantor Bank Indonesia hingga depan Pasar Gede berjajar ratusan pedagang mainan, minuman, dan makanan kecil menjajakan dagangan mereka. 
 
Tidak sedikit dari mereka yang dikerubuti para pembeli yang sengaja datang untuk melihat keindahan ribuan lampion pada saat malam hari.
 
Pedagang Purwanti mengatakan setiap perayaan Imlek selalu berjualan di daerah Pasar Gede. Pedagang telur gulung ini mengaku bisa memperoleh pemasukan hingga beberapa kali lipat selama Imlek jika dibandingkan dengan hari normal.
 
"Bahkan bisa sampai ratusan ribu kalau pas Imlek, makanya saya menambah jualannya," katanya.
 
Salah satu konsumen Arimbi Purba Wardani juga mengaku senang bisa ikut merayakan Imlek. Warga Boyolali ini sengaja datang dengan orang tuanya karena ingin melakukan swafoto di bawah jejeran lampion yang tertata rapi di atas jembatan yang melintang di atas Sungai Pepe.
 
"Sekalian kulineran, saya tadi juga sempat melihat dari depan kelenteng, banyak lilin dan orang-orang sedang beribadah. Baru kali ini saya lihat langsung prosesi pada malam Imlek. Biasanya saya hanya lewat lantas foto-foto," kata gadis berhijab ini. 
 
Terkait hal itu, salah satu peserta Imlek yang juga pengurus Kelenteng Tien Kok Sie Henry Susanto menyambut gembira banyaknya UKM yang memanfaatkan momentum tersebut untuk mengais rezeki. Bahkan, ia senang karena pedagang tidak menaikkan harga dagangan mereka.
 
"Tadi saya sempat lihat juga, es teh tetap dijual Rp3.000, dawet Rp5.000, bahkan parkirnya hanya Rp3.000. Jadi kan sangat terjangkau," katanya.
 
Ia juga menganggap malam Imlek sebagai pesta rakyat, karena selain bisa berwisata kuliner dengan harga terjangkau, mereka juga bisa menikmati berbagai hiburan, salah satunya panggung musik. 

Mandi Buddha
Tidak hanya sarat dengan hiburan, malam Imlek juga kental dengan suasana magis yang datang dari kelenteng, lilin, patung Buddha, dan berbagai sesaji di altar peribadatan.
 
Semalam, sekitar pukul 21.30 WIB prosesi peribadatan malam Imlek dimulai dengan penampilan Kelompok Barongsai dari Polresta Surakarta. Usai tampil sekitar 15 menit di depan panggung, kelompok kembali masuk ke kelenteng. 
 
Selanjutnya, pada pukul 22.00 WIB prosesi mandi Budha dimulai. Seksi Ritual Kelenteng Tien Kok Sie Surakarta Budiyono Tekgianto atau Atek mengatakan prosesi mandi Budha tersebut merupakan simbolisasi membersihkan diri dari berbagai kekotoran dan kesalahan.
   
"Jadi bukan Budha-nya yang menjadi poin, tetapi itu simbol kita membersihkan diri dari kesalahan di tahun sebelumnya. Jadi saat memasuki tahun yang baru kita kembali bersih dan suci," katanya.
 
Prosesi dimulai dengan orang yang membawa alat musik genderang. Atek mengatakan alat musik tersebut dibunyikan untuk membuka jalan bagi Bodhisattva Maitreya atau Budha Meitreya atau patung Budha.
 
Selanjutnya, di belakangnya diikuti oleh orang yang membawa minyak pelita atau penerangan. Minyak tersebut sesekali dipercikkan ke arah depan, maknanya adalah agar jalan yang akan dilalui menjadi terang dan tidak ada halangan.
 
Di belakangnya yaitu Wahyu Api yang dilengkapi minyak Cendana dan urutan kelima yaitu bendera. Menurut dia, bendera tersebut memberi pesan bahwa Budha akan melewati jalan tersebut, baru kemudian tepat di belakangnya mengikuti Patung Budha.
 
"Kemudian di belakang Patung Budha ini ada beberapa sesaji pelengkap, di antaranya bunga yang nantinya dicampur dengan air untuk disiramkan ke Patung Budha dan jeruk yang artinya berkah. Kemudian ada lagi uang untuk sembahyang," katanya.
 
Ia mengatakan prosesi pemandian Patung Budha tersebut dilakukan di altar pemandian. Proses penyiraman dilakukan secara bergantian oleh para umat. Selanjutnya, sekitar pukul 22.30 WIB prosesi peribadatan selesai dan umat yang mengikuti menikmati minuman ronde.
 
Sebagaimana diketahui, ronde merupakan minuman khas tahun baru Imlek dari Tiongkok, adapun minuman tersebut merupakan salah satu sesajian kepada para dewa untuk meminta pertolongan agar diberikan keselamatan saat musim dingin tiba.
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar