Solo (ANTARA) - Perum Bulog melalui kebijakan tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL) memberdayakan masyarakat di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah melalui budidaya jamur tiram.
Pada program tersebut, Bulog menyerahkan bantuan sekaligus mengimplementasikan program Bulog Industry Ecosociosystem berupa pengembangan budidaya jamur tiram berbasis pemanfaatan limbah sekam padi serta bantuan air bersih kepada masyarakat Desa Jekani, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Minggu.
Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog Sudarsono Hardjosoekarto mengatakan program tersebut sejalan dengan banyaknya penggilingan beras yang dimiliki oleh Bulog yang selama ini menghasilkan banyak sekam.
Oleh karena itu, pihaknya menginisiasi pembibitan dan pengembangan jamur tiram dengan media sekam. Ke depan, pihaknya berencana melakukan pendampingan sampai dengan pengolahan jamur tersebut.
"Selain itu perlu dipikirkan lagi sampai dengan suplai ke SPPG. Harapannya ke depan tidak hanya diimplementasikan di Desa Jekani tetapi juga perlu replikasi dari desa ke desa. Dalam hal ini yang lebih banyak jadi motor bapak bupati dan jajarannya," katanya.
Selain itu, ke depan juga akan dikembangkan jamur dengan jenis premium sehingga diharapkan bisa menjadi ikon Sragen, yakni menjadi daerah dengan produk pangan premium.
Program Industry Ecosociosystem difokuskan pada tiga pilar utama, yaitu pendidikan, lingkungan, dan pengembangan Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Program ini sejalan dengan core business Bulog di sektor hulu pangan melalui optimalisasi produk samping hasil penggilingan padi di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Bulog Sragen.
Program Industry Ecosociosystem ini mencakup pelatihan dan pendampingan budidaya jamur tiram, pembangunan kumbung berkapasitas 6.500 baglog, pengadaan alat steamer, serta penerapan teknologi Smart Kumbung berbasis Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi. Program ini juga mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB), khususnya TPB 6 tentang air bersih dan sanitasi layak serta TPB 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Program Studi D3 Agribisnis Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dengan sasaran Kelompok Tani Jamur Tiram Makmur Mondokan yang sebelumnya terdampak penurunan aktivitas ekonomi akibat pandemi COVID-19.
Bupati Sragen Sigit Pamungkas menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Perum Bulog atas berbagai program yang telah dilaksanakan di Kabupaten Sragen, baik melalui program TJSL maupun pelaksanaan tugas utama Bulog sebagai BUMN pangan.
"Pemerintah Kabupaten Sragen mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Perum Bulog atas seluruh program yang telah dan terus dijalankan di Sragen. Baik program CSR seperti Industry Ecosociosystem dan bantuan air bersih, maupun program-program kewajiban Bulog dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan," ujar Sigit Pamungkas.
Ia menilai sinergi antara Bulog, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi sebagai langkah strategis dalam mendorong pemulihan dan penguatan ekonomi desa secara berkelanjutan.
"Program ini tidak hanya membantu pemulihan ekonomi masyarakat desa, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus diperluas dan berkelanjutan di wilayah lain," tambahnya.
Dekan Sekolah Vokasi UNS Prof. Herman Saputro mengatakan keterlibatan tersebut merupakan bentuk kepedulian UNS yang hadir di tengah masyarakat.
"Ini jadi penggerak ekonomi masyarakat, mudah-mudahan bisa berkembang. Kami akan support tidak hanya jamur tiram tapi juga benih melon yang dikembangkan teman-teman agribisnis UNS dan produk lain seperti cabai rawit. Mudah-mudahan kampus tidak hanya mercusuar tapi kami ada dampaknya untuk masyarakat," katanya.
Sementara itu, selain penguatan ekonomi masyarakat, Bulog juga menyalurkan bantuan melalui program TJSL Bulog Peduli Air Bersih dan Sanitasi berupa pembangunan sumur air bersih bagi warga Kebayanan Garut, Desa Jekani. Selama hampir dua dekade, sekitar 300 kepala keluarga serta sejumlah fasilitas ibadah di wilayah tersebut mengalami keterbatasan akses air bersih.

