Festival Lima Gunung tabungan komunitasnya

id festival lima gunung,komunitas lima gunung

Festival Lima Gunung tabungan komunitasnya

Ilustrasi - Sejumlah warga menyiapkan panggung sawah untuk pementasan Festival Lima Gunung XVII/2018 di Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kabupaten Magelang, Minggu (29/7). (Foto: Hari Atmoko)

Itulah "sumpah tanah" kami
Setiap kali para seniman petani dusun-dusun di kawasan lima gunung di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah menggelar hajatan tahunan secara mandiri mereka dalam wujud Festival Lima Gunung, di situlah arena mereka membongkar tabungan bukan hanya setahun terakhir, akan tetapi selama ini.

Tabungan tersebut berupa berbagai jejak pergaulan dan pustaka makna atas aktivitas berkesenian, berkebudayaan, dan menggali nilai-nilai kearifan lokal secara Komunitas Lima Gunung maupun secara kelompok dusun masing-masing dan secara individu mereka dengan siapa saja.

Komunitas Lima Gunung beranggotakan para pegiat seni dari kalangan petani dan masyarakat dusun-dusun di kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.

Pembentukan komunitas itu dirintis oleh budayawan Magelang Sutanto Mendut. Ia menggalang pemberdayaan berbagai kelompok kesenian dan masyarakat dusun-dusun di kawasan yang dikelilingi lima gunung tersebut.

Kalau tahun ini mereka berfestival untuk 17 kalinya, artinya rintisan komunitas itu telah terjadi jauh tahun sebelumnya. Hingga saat ini, tidak diketahui kapan bangunan komunitas itu terbentuk. Sutanto sendiri tidak pernah menyebut dengan pasti kapan komunitas nirlaba itu mulai dibentuk.

Atas kiprah selama ini, mereka yang bergiat dalam Komunitas Lima Gunung bukan lagi sebatas kalangan seniman petani dusun-dusun, akan tetapi siapa saja dari berbagai kalangan yang merasa diri dan kelompoknya berjodoh dengan komunitas itu. Mereka selain dari daerah setempat, juga dari luar Magelang, antara lain aktris, dosen, pelukis, penari, dalang, pembatik, wartawan, pemilik usaha, pemikir, agamawan, penyair, dan pensiunan tentara.

"Ini komunitas adalah kumpulan manusia yang bertemu dan berjodoh," ujar dia.

Dialah yang mengumpulkan mereka dari satu dusun dengan dusun lainnya untuk berjodoh dan bergerak dalam aktivitas seni budaya, serta menggaungkan tradisi masyarakat berdasarkan kalender dusun masing-masing, seperti saparan, ruwahan, merti dusun, suran, berlebaran, dan pitulasan.

Sutanto jugalah yang membawa mereka menggelar pementasan seni tradisional maupun kontemporer desanya dalam berbagai agenda lokal, regional, nasional, maupun internasional di berbagai kota sehingga nama komunitas itu makin moncer hingga luar negeri.

Markas besar komunitas mereka di Studio Mendut, sekitar 100 meter timur Candi Mendut Kabupaten Magelang. Tempat itu selain untuk menggelar berbagai pementasan kesenian mereka atau pun pentas kolaborasi dengan berbagai pihak dari berbagai kota dan dunia, juga menjadi tempat para petinggi komunitas dan Sutanto membincangkan banyak isu dan persoalan tingkat lokal hingga global yang melahirkan inspirasi untuk memaknai pementasan-pementasan mereka.

Setiap tahun mereka menggelar festival, yang dikenal sebagai Festival Lima Gunung. Tempatnya berpindah-pindah di dusun-dusun anggota komunitas sesuai dengan hasil musyawarah. Hingga festival keempat, penyelenggaraan secara khusus untuk melayani tamu berkelas internasional dari hotel mewah di kawasan Candi Borobudur. Beberapa kali pada tahun-tahun berikutnya, festival mengandalkan kemampuan komunitas itu didukung dengan sejumlah sponsor dan donatur.

Mereka yang pentas, awalnya masih sebatas kelompok-kelompok seniman petani yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung, seperti wayang orang dari Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, tarian topeng ireng Sanggar Warangan Merbabu, soreng Padepokan Warga Budoyo Gejayan, kuda lumping Sanggar Andong Jinawi Mantran Wetan, grasak dari Sanggar Saujan Keron, dan lengger dari Padepokan Cahyo Budaya Sumbing.

Akan tetapi mulai festival kesembilan atau pada 2010, komunitas itu melakukan "sumpah tanah" sebagai tekad menggelar festival tanpa sponsor dan proposal kepada pengusaha, pemerintah, maupun donatur. Mereka berfestival sebagai puncak pertemuan seni budaya komunitas itu melalui daya kemampuan sendiri.

"Waktu itu para tokoh membuat tanda tangan masing-masing di atas tanah Studio Mendut. Itulah "sumpah tanah" kami," kata Riyadi, salah seorang pemimpin tinggi Komunitas Lima Gunung.

Daya festival yang tanpa sponsor dan proposal sumbangan itu, ucap dia, malah dirasakan menarik, bergereget, dan menjadi tantangan menghadirkan kecerdasan pribadi-pribadi dalam komunitas.

Berbagai komunitas dan kelompok-kelompok kesenian tradisonal, modern, dan kontemporer dari luar kota menjadi ikut terlibat. Kalangan pemerhati seni dan budaya dari dalam dan luar negeri pun juga berminat untuk selalu menyimak. Tamu-tamu dari luar kota berdatangan dan menginap di rumah-rumah warga yang menjadi tuan rumah festival.

"Kalau mau menyelenggarakan lagi festival, terasa geregetnya. Selalu ada tekad, niat, dan tentu bercampur nekat," ujar Riyadi yang juga pimpinan Padepokan Warga Budaya Gejayan di kawasan Gunung Merbabu.

Dalam beberapa tahun terakhir, festival bukan lagi berupa kirab budaya dan pementasan kesenian tradisional komunitas, akan tetapi juga merambah rupa kegiatan seni budaya lain, terutama karena keterlibatan para seniman dengan grup masing-masing dari luar komunitas.

Berbagai agenda pemeriah festival, antara lain pameran seni rupa, pameran foto, seni instalasi berbahan alam desa, seni teater, musik kontemporer, performa gerak seni, pembacaan puisi, peluncuran buku, pengajian, dan pidato kebudayaan.

Tema-tema festival pun disematkan sebagai tangkapan komunitas atas refleksi bersama terhadap situasi kekinian. Dalam ingatan Riyadi, tema-tema Festival? Lima Gunung, yakni "Sudra Satria Ngulandara" (2010), "Tambang Kautaman" (2011), "Ngudi Banyu Sejati" (2012), "Cakra Manggilingan Jiwa" (2013), "Tapa ing Rame" (2014), "Mantra Gunung" (2015), "Pala Kependem" (2016), dan "Mari Goblok Bareng" (2017).

Festival tahun ini bakal berlangsung di Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kabupaten Magelang pada 10-12 Agustus mendatang. Di dusun itu para seniman desa tergabung dalam Sanggar Wonoseni pimpinan Kepala Dusun Wonolelo Pangadi (Ki Ipang). Sejak sekitar tujuh tahun terakhir, mereka bagian dari Komunitas Lima Gunung. Tema yang diusung dalam festival ke-17 tahun ini dengan sekitar 80-an pementasan kesenian dan acara budaya lainnya, adalah "Masih Goblok Bareng".

Festival Lima Gunung 2018 tidak diketahui juntrungannya oleh komunitas itu, masuk dalam 100 agenda Pesona Indonesia yang dikeluarkan Kementeraian Pariwisata. Di situ festival festival tersebut tertulis pada 20-22 Juli 2018.

Dengan bersumber dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Jawa Tengah pula keluar berita di media dalam jaringan bahwa festival ke-17 itu pada 20-22 Juli 2018 berlangsung di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan.

Sementara pihak komunitas tidak pernah menyiapkan setahun sebelumnya untuk penyelenggaraan Festival Lima Gunung pada tahun kemudian, sebagaimana lazimnya suatu festival dipromosikan sesuai standar untuk mereka dari tempat jauh dan luar negeri supaya mengagendakan hadir.

Maka sejumlah aparatur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng pun kecele ketika antara 20-22 Juli 2018 mendatangi Dusun Keron, tempat Sanggar Saujana pimpinan Sujono. Mereka pun diarahkan ke Wonolelo untuk mengetahui kepastian persiapan festival tahun ini.

Begitu pula beredar di media sosial, video pendek "Pesona Indonesia" tentang Festival Lima Gunung 2018 dengan narasi menyebut "di Kota Magelang" dan "telah mendunia". Magelang meliputi dua wilayah adminstrasi pemerintahan, yakni Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, sedangkan Festival Lima Gunung selalu dilaksanakan di dusun-dusun di wilayah Kabupaten Magelang.

Ganjar Pranowo dalam acara debat Pemilihan Gubernur Jateng di salah satu stasiun televisi nasional beberapa waktu lalu, juga menyinggung soal penyelenggaraan Festival Lima Gunung yang berangkat dari kemandirian Komunitas Lima Gunung.

Dalam beberapa kali kesempatan acara seni budaya diselenggarakan komunitas itu, termasuk Festival Lima Gunung, Ganjar memang menyempatkan hadir dan bergembira bersama mereka. Oleh karena itu, dia memahami dengan baik manajemen dan gereget penyelenggaraan festival itu, termasuk tentang tidak perlunya pemerintah "cawe-cawe" (campur tangan).

"Hadir saja ikut `njatil" (menari jatilan, yang maksudnya pemerintah tinggal datang saja memeriahkan festival, red.)" kata Ganjar yang menang Pilgub Jateng 2018 dan akan menjabat gubernur setempat untuk periode kedua, lima tahun ke depan ini.

Ganjar Pranowo memang dipandang oleh Komunitas Lima Gunung sebagai berjodoh dengan komunitas tersebut. Selain hadir dalam beberapa kali agenda komunitas, dia juga menghadirkan Komunitas Lima Gunung dalam sejumlah agenda Provinsi Jateng di Semarang, untuk menyuguhkan pementasan garapan.

Begitu pula untuk dua kali peluncuran buku tentang dirinya, yakni "Gubernur Jelata" di Candi Gunung Wukir Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang (akhir 2016) dan Buku "Anak Negeri" di tepi sawah Desa Kunthi, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali (awal 2018) , Komunitas Lima Gunung didaulat mengemas dalam balutan kental makna atas seni budaya.

Dalam penyelenggaraan Festival Lima Gunung tahun ini pun, pihak komunitas membincangkan kemungkinan Ganjar Pranowo hadir untuk ikut "njathil". Hadir tanpa diundang, diterima dengan senang gembira.

"Festival tahun ini juga bagian dari tabungan Lima Gunung," kata Sutanto.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar