Batik tak lagi sekadar motif selembar kain

id pemkot magelang,kerajinan batik

Batik tak lagi sekadar motif selembar kain

Seorang perajin di UMKM "Iwing Batik Kebonpolo" Kota Magelang membuat produk kerajinan ekonomi kreatif berbasis batik. (Foto: Hari Atmoko)

Rombongan seminaris dari Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang bertandang ke Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pulang ke asrama tempat pendidikan calon imam Katolik itu dengan masing-masing membawa topeng bermotif batik.

Kerajinan topeng dari bahan kayu lunak dengan beragam motif kreatif karya mereka di tempat perajin di daerah yang dikunjungi tersebut, menjadi kenangan atau suvenir atas lawatan studi mereka, beberapa waktu lalu.

Tentu bukan soal bagus atau tidaknya karya topeng batik yang mereka hasilkan. Akan tetapi, lawatan ke tempat perajin tersebut berguna untuk mengembangkan talenta, berupa daya-daya kreatif para seminaris muda itu.

Setidaknya, mereka makin terbuka wawasannya perihal batik yang bukan lagi sekadar sebagai motif tertentu. Bahkan bernilai adiluhung sebagai warisan kreatif leluhur bangsa, yang ditempatkan di selembar kain, sebagaimana umumnya dimengerti dalam ingatan publik selama ini.

Begitu pula, dalam musyawarah kalangan pers Kota Magelang dengan Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Magelang, beberapa waktu lalu. Sebelum menjalani program kemitraan berupa peliputan usaha mikro, kecil, dan menengah untuk pengembangan sektor potensial daerah, mereka mencapai kesepakatan untuk salah satu misinya membuka wawasan publik atas batik sebagai keragaman produk kerajinan ekonomi kreatif.

Dalam perbincangan itu, mereka membelalakan gagasan untuk meluaskan pemahaman publik atas produk kerajinan batik dari daerah. Usulan tentang sasaran peliputan di UMKM batik di daerah setempat diperluas pemahamannya agar bukan sekadar karya batik khas daerah itu dalam wujud selembar kain dengan beragam motif kreatif dan inovasinya.

Pemkot Magelang memang telah mengeluarkan surat edaran untuk berbagai instansi agar para karyawan mengenakan seragam batik dengan motif khas Kota Magelang pada hari-hari tertentu.

Tentu saja, tujuan pemkot mengeluarkan surat edaran itu, setidaknya untuk memperkuat wujud khas daerah setempat dan menggerakkan produksi batik yang dilakoni para pelaku UMKM setempat.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemkot Magelang juga mengeluarkan katalog kerajinan daerah setempat pada pertengahan tahun lalu yang 18 item di antaranya menyangkut karya-karya perajin batik dari daerah dengan tiga kecamatan dan 17 kelurahan tersebut.

Pemerintah Kota Magelang memang mendorong kebangkitkan industri kerajinan batik khas daerah supaya mampu bersaing di pasar yang lebih luas dan menyerap tenaga kerja lokal.

Kualitas batik khas daerah setempat, dinilai Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina, sebagai tidak kalah dengan produk serupa dari daerah lainnya, baik menyangkut keragaman kreasi motif maupun pewarnaan.

Motif batik khas Kota Magelang yang relatif cukup dikenal hingga saat ini, antara lain "Watertorn", "Banyeman", dan "Kebonpolo". Namun, perajin batik setempat telah jauh melampaui jumlah motif tersebut melalui kreasi masing-masing.

"Mereka harus mampu menciptakan produk batik yang lebih menarik dan menjaga kualitasnya," ujar Windarti.

Seorang pembatik dan perancang motif yang juga pengelola UMKM "Batik Lukis Protelu" Kampung Ringin Anom, Kelurahan Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara, Agus Daryanto, menyebut pentingnya kreativitas perajin untuk mengembangkan desain-desain baru atas motif batik supaya produksi kerajinan tersebut makin dinamis dan menjadi tren.

Kalau pelaku UMKM mampu membuat desain batik yang selalu baru, kreatif, dan inovatif, maka karyanya itu bukan lagi sekadar meletakkan motif batik dalam selembar kain, akan tetapi bisa juga tentunya untuk segala produk kreatif, kerajinan, dan seni bermotif batik.

Ia mengaku pernah mendapat pesanan dari salah satu instansi pemerintah untuk pembuatan batik seragam pegawai kantor itu. Lalu, ia meresponsnya dengan menawarkan kepada pihak pengorder untuk seragam batik pegawai namun bermotif beda-beda bagi setiap orang, dengan mengambil para tokoh pewayangan.

"Itu tidak akan ada habisnya karena tokoh wayang itu banyak sekali, setiap pegawai memilih sendiri-sendiri tokoh yang digandrungi lalu secara kreatif dihubungkan dengan goresan atau warna tertentu untuk menjelaskan suatu seragam pegawai," ujar Agus yang juga seniman pelukis autodidak itu.

Begitu pula komitmen pembatik yang juga pengelola UMKM "Iwing Batik Kebonpolo" Kampung Wates Tengah, Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, Iwing Sulistiyawati. Ia menargetkan setiap tahun melahirkan tiga motif baru batik secara kreatif untuk produksi UMKM-nya.

Ratusan motif batik telah dibuatnya hingga saat ini, agar produknya selalu hadir dengan kebaruan dalam persaingan pasar kerajinan ekonomi kreatif batik. Pada tahun ini, ia membuat tiga motif terkini, yang kemudian diberi nama motif "Magelang dan Gelatik", "Wates", dan "Bengkok". Sejumlah motif lain yang telah dibuat sebelumnya, seperti "Gladiol", "Bunga Sepatu", "Cempaka" (tiga versi), "Daun Suruh", dan "Lidah Api".

Motif itu bukan sekadar untuk diletakkan dalam selembar kain, akan tetapi menjadi produk kerajinan kreatif lainnya, seperti gantungan kunci, aksesoris bunga-bunga dan kalung, taplak meja, blangkon, dan tas dengan harga yang bervariasi namun sasarannya konsumen dari kalangan masyarakat umum.

"Konsumen saya bahkan menyebut harganya sebagai `Batik Sejuta Umat`, karena terjangka masyarakat umum," ujar Iwing yang omzet setiap bulan rata-rata Rp20 juta dengan mempekerjakan sejumlah tenaga terampil dari anggota keluarga dan para tetangganya itu.

Beragam produk kerajinan kreatifnya berbahan dasar batik, bukan hanya melayani pemesan untuk keperluan seragam pegawai kantor dan warga yang sedang memiliki hajatan keluarga.

Akan tetapi, juga dipajang di Magelang Crarf Center Kompleks Kantor Sekda Kota Magelang, Industri Kecil dan Menengah Center Pasar Rejowinangun Kota Magelang, toko swalayan dan hotel di Kota Magelang.

Hingga saat ini, secara rutin usaha produksinya juga untuk memasok secara rutin kepada pelanggan di beberapa daerah, seperti di Tangerang, Provinsi Banten dan Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Bahkan, seringkali ia merasa kewalahan memenuhi permintaan pasar karena datangnya dalam waktu yang hampir bersamaan, sedangkan upaya menambah tenaga kerja bukan hal yang gampang karena harus dipastikan terlebih dahulu kemampuan dan keterampilannya dalam membuat aneka produk kerajinan kreatif berbasis batik tersebut.

Batik memang karya bangsa yang bahkan telah diakui dunia, di mana leluhur menorehkan kreativitas pada masanya.

Tentu generasi pelanjut perjalanan bangsa ini harus terpanggil untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya pula melalui karya berbasis batik sesuai zamannya.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar