Wali Kota Prihatin Banyak Anak Tak Sekolah

Pewarta : id wali kota semarang

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi disalami para siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 7 Semarang, Senin (13/11) (Foto: ANTARAJATENG.COM/dok Humas Setda Kota Semarang)

Semarang, ANTARA JATENG - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi prihatin dengan cukup tingginya anak tak bersekolah, seperti usia sekolah menengah pertama (SMP) yang mencapai 19 persen.

"Data tahun 2016 menyebutkan usia SMP antara 12-15 tahun yang bisa mengenyam pendidikan formal baru 81 persen. Artinya, masih 19 persen anak SMP belum sekolah," katanya di Semarang, Senin.

Hal tersebut diungkapkan sosok yang akrab disapa Hendi itu saat meninjau SMP Negeri 7 Semarang untuk memimpin upacara dan membagikan kartu T-Cash untuk kemudahan naik BRT Trans Semarang.

Menurut dia, banyak alasan dan persoalan yang mengakibatkan anak-anak usia SMP tidak bisa mengeyam pendidikan, mulai dari kecerdasan si anak sendiri hingga persoalan ekonomi orang tuanya.

"Problemnya macam-macam, mungkin karena secara IQ (intelegent quotient) memang tidak mampu dan pasti jumlahnya kecil, ada juga karena persoalan ekonomi, bisa juga karena sudah malas sekolah," katanya.

Politikus PDI Perjuangan itu menceritakan pernah bertemu dengan anak usia SMP yang tidak mau sekolah dan memilih menjadi buruh kuli panggul di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang demi mencari uang.

"Di Semarang Utara, saya ketemunya. Saya tanya, `sekolah enggak?` Enggak, Pak, jawabnya. Dia juga bilang kalau setiap pagi ke pelabuhan jadi kuli panggul yang bisa dapat Rp50-100 ribu/hari," katanya.

Artinya, kata dia, anak tersebut sudah puas sekarang ini sehari dapat Rp50 ribu, tetapi tidak menyadari bahwa kehidupan akan berjalan terus sampai 50, 70, bahkan 80 tahun ke depan.

Pernah juga, kata dia, bertemu dengan seorang anak yang mengemis di jalanan dan setelah ditanya ternyata anak itu mengemis karena disuruh oleh orang tuanya sendiri.

"Di `traffic light`, kami tangkep, tanya kenapa enggak sekolah. `Nggak boleh sama orang tua, Pak,` jawabnya. Orang tuanya kami panggil karena Dinas Pendidikan punya beasiswa bagi siswa tidak mampu," katanya.

Namun, kata dia, saat bertemu dengan orang tua si anak justru menanyakan apa yang bisa diberikan sebagai pengganti penghasilan si anak yang seharinya bisa mendapatkan Rp50 ribu.

"Orang tuanya kami datangkan, saya bilang, `Bu, besok anaknya say sekolahkan, biayanya gratis`. Ibunya bilang maturnuwun, dan ganti nanya kalau anaknya disekolahkan harus mengganti pendapatan anaknya dari mengemis," katanya, prihatin.

Oleh karena itu, Hendi berpesan kepada seluruh siswa untuk terus mengenyam pendidikan sampai tinggi dengan penuh semangat, apalagi kalau ternyata sampai bisa mencetak prestasi.

"Saya juga ajak seluruh warga Semarang untuk bersama-sama mengentaskan kemiskinan dan pengangguran dengan mendorong anak-anak muda untuk tetap bersemangat menempuh pendidikan," pungkasnya.

Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar