Apresiasi pelestari wayang, PDI Perjuangan tekankan pentingnya karakter

id wayang pdi perjuangan

Apresiasi pelestari wayang, PDI Perjuangan tekankan pentingnya karakter

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah Bambang Kusriyanto menyerahkan penghargaan kepada dalang Ki Manteb Soedarsono. (ANTARA/Wisnu Adhi)

Semarang (ANTARA) - PDI Perjuangan mengapresiasi para pegiat kebudayaan dan kesenian yang memiliki jasa besar dalam melestarikan wayang sehingga salah satu budaya asli Indonesia ibi diakui dunia internasional.

"Jerih payah mereka kita hargai dong, tanpa mereka ini, mungkin kepunahan wayang berlangsung lebih cepat," kata Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah Bambang Wuryanto di sela Pagelaran Wayang dengan lakon "Bima Bangkit" di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang, Sabtu (16/11) malam.

Pria yang akrab disapa Bambang Pacul ini menjelaskan wayang merupakan orkestra yang luar biasa dengan gamelan dari logam yang sudah tercipta sejak abad 16.

Pewayangan merupakan contoh karakter orang yang pada hari ini sudah mulai terkikis misalnya karakter seorang Bima, Kresna atau Kumbokarno, serta masih banyak karakter lainnya.

"Hari ini kita sudah tidak terlalu banyak kenal karakter. Saat ini kita lebih bicara yang sifatnya praktis, hal-hal yang pragmatis," ujarnya.

Pagelaran wayang yang menampilkan dalang kondang Ki Manteb Soedharsono tersebut digelar DPD PDI Perjuangan Jateng dan dalam acara itu, sebanyak tujuh pegiat wayang dan delapan lembaga pelestari budaya wayang diberi penghargaan.

Penghargaan diberikan karena dedikasi mereka dalam melestarikan wayang yang saat ini sudah diakui sebagai budaya dunia oleh UNESCO.

Baca juga: 15 insan pewayangan dapat penghargaan dari PDIP Jateng

Ketujuh orang yang mendapat penghargaan adalah Nyi Ngatirah (Semarang), Ki Sunarno (Semarang), Ki Suradji Hadi Kusumo (Semarang), Ki Noto Carito (Klaten), Reso Wiguno Dakir (Sukoharjo), Ki Manteb Soedharsono (Karanganyar), dan Heru Sudjarwo (Banyumas).

Kedelapan lembaga yang juga menerima penghargaan adalah Ngesti Pandawa (Semarang), Puji Langgeng (Semarang), Sanggar Sarotomo (Karanganyar), Suko Raras (Semarang), Teater Lingkar (Semarang), Sri Wedari (Semarang), Sobokarti (Semarang), dan Pepadi (Jawa Tengah).

Menurut Bambang Pacul, saat ini banyak orang sudah tidak peduli lagi dengan dunia wayang, banyak yang tak berminat menonton wayang akibat gempuran budaya asing dan dampak perkembangan teknologi.

"Sangat sedikit orang yang masih mau nonton pagelaran wayang sampai semalam suntuk," katanya.

Dengan pagelaran wayang, pihaknya ingin menciptakan kepedulian dan kesadaran kembali bahwa kita punya warisan budaya yang hebat dan diakui dunia, bahkan kalau ditelisik lebih ke dalam, wayang bisa menjadi jalan kehidupan (way of life). 

"Bung Karno pernah mengatakan jangan bangun apapun sebelum karakternya terbangun," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Peringatan Hari Wayang Nasional DPD PDI Perjuangan Jateng Sumanto mengatakan bahwa lakon "Bima Bangkit" yang dibawakan merupakan representasi dari kesatria yang bisa merangkul semua komponen bangsa.
 
Pewarta :
Editor: Wisnu Adhi Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar