Tersebar di puluhan desa, ratusan balita di Temanggung belum diimunisasi

id balita belum diimunisasi

Tersebar di puluhan desa, ratusan balita di Temanggung belum diimunisasi

Seorang bidan memberikan imunisasi di Posyandu RW06, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta, Selasa (26/6/2019) (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Temanggung (ANTARA) - Sekitar 266 dari total 10.272 balita di Kabupaten Temanggung belum diimunisasi karena terlewatkan atau ada penolakan dari orang tuanya, kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung Supardjo.

"Balita yang belum diimunisasi ini tersebar di 39 desa dan bahkan ada puluhan yang terkonsentrasi di satu desa," katanya di Temanggung, Senin.

Ia menyampaikan hal tersebut pada pertemuan penguatan program imunisasi melalui pendekatan lintas sektoral yang digelar LPPM Undip dan Dinas Kesehatan Temanggung yang diikuti dari Polri, TNI, camat, kader kesehatan, MUI, dan tokoh agama.

Dia mengatakan jumlah balita yang terkonsentrasi belum diimunisasi 22 anak, yakni di Desa Bonjor, Kecamatan Tretep, sedangkan di desa lain rata-rata satu atau dua balita per desa.

Baca juga: Boyolali genjot sosialisasi pentingnya imunisasi

Ia menyampaikan terkonsentrasinya balita belum diimunisasi itu jika tidak tertangani maka akan membahayakan dan timbul jatuh korban seandainya muncul penyakit menular dan membahayakan, seperti TBC atau difteri.

"Beberapa waktu lalu ada KLB difteri, satu orang meninggal karena ternyata tidak mendapat imunisasi, sehingga lingkungannya harus diimunisasi ulang," katanya.

Ia mengatakan capaian target imunisasi di Kabupaten Temanggung 97,92 persen atau di atas target 95 persen. Adanya penolakan dilakukan sebagian masyarakat harus menjadi permasalahan dan dihadapi bersama.

"Menjadi hak dari bayi untuk hidup sehat dalam hidupnya, yakni mendapat imunisasi, juga keterjaminan kesehatan generasi mendatang," katanya.

Anggota Tim Penelitian Kesehatan LPPM Undip Martini mengatakan penolakan imunisasi karena berbagai alasan, antara lain tidak percaya kualitas vaksin, meragukan kehalalannya dan pemahaman tertentu.

Padahal, katanya, vaksin imunisasi telah mendapat sertifikasi halal dari MUI dan bahkan negara-negara Islam di Timur Tengah membeli dari Indonesia.

"Negara lain membeli dari Indonesia tetapi yang dari Indonesia justru meragukan," katanya.

Ia mengatakan tidak mendapat imunisasi adalah tanggung jawab sosial dan bukan pribadi saja, karena bila terkena penyakit tidak hanya yang bersangkutan tetapi juga lingkungannya.

"Maka perlu keterlibatan lintas sektoral dalam penanganan," katanya.

Ia menyampaikan dalam hasil survei cepat target imunisasi di Temanggung memang sudah tercapai, tetapi variabel ketepatan imunisasi masih kurang.

"Balita yang baru lahir akan tepat dalam imunisasi, tetapi setelah pulang dari klinik biasanya terlambat diimunisasi," katanya. 

Baca juga: TMMD, anak Desa Cilibang terima imunisasi
Pewarta :
Editor: Wisnu Adhi Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar