30 pembesuk jadi pemicu kericuhan di Rutan Solo

id Rutan Surakarta, pemicu ricuh

30 pembesuk jadi pemicu kericuhan di Rutan Solo

Para petugas kepolisian tampak berjaga-jaga di depan Rutan Kelas 1 Surakarta pascakericuhan (Foto: Aris Wasita)

Solo (Antaranews Jateng) - Sebanyak 30 pembesuk menjadi pemicu ricuh Rutan Kelas 1 Surakarta yang terjadi pada Kamis (10/1) siang.
 
"Sebetulnya salah paham saja antara pengunjung dengan warga binaan," kata Kepala Rutan Kelas 1 Surakarta Muhammad Ulin Nuha di Solo, Kamis.

 Ia mengatakan berawal para pembesuk dan narapidana yang saling melihat sehingga salah satu pihak merasa tidak terima. Selanjutnya, cekcok terjadi antarkedua kubu tersebut.

"Pada saat itu salah satu warga binaan ditarik bajunya sampai terjatuh. Penghuni lain spontanitas langsung membela. Meski demikian, dengan kesigapan petugas kami para pembesuk tersebut sudah diamankan dan dievakuasi," katanya.

  Ia mengatakan kericuhan yang terjadi melibatkan warga binaan yang menghuni Blok B dan Blok C. Untuk mengantisipasi kejadian serupa terjadi ke depan, pihaknya akan menambah jumlah personel di bagian kunjungan.
 
"Tujuannya untuk mengantisipasi terjadi lagi. Dulu memang sempat terjadi cek-cok dan sudah kami selesaikan. Ini terjadi lagi," katanya.

Meski enggan menyebutkan inisial warga binaan yang terlibat pada kericuhan tersebut, ia mengatakan kedua pihak memiliki kasus kriminal serupa. Sementara itu, mengenai jumlah kerugian yang dialami oleh rutan, ia masih enggan menyampaikan.
 
Pada kesempatan yang sama, Wakapolda Jawa Tengah Brigjen Pol Ahmad Luthfi mengatakan saat ini situasi sudah sangat kondusif.
 
"Pengamanan dipertebal, situasi sudah bisa dikendalikan. Mengenai antisipasi kami lakukan seperti biasa, pengamanan rutin dilakukan petugas LP berkoordinasi dengan Polres dan jajaran lain," katanya.
 
Sebelumnya, pascakericuhan tersebut terlihat sebanyak 12 warga binaan dievakuasi dengan menggunakan kendaraan polisi. Wakapolresta Surakarta AKBP Andy Rifai mengatakan mereka dikirim ke sejumlah rutan, yaitu Sragen, Semarang, dan Wonogiri.
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar