Tingkatkan ketahanan pangan, petani tanam padi, jagung, dan kedelai

id tanam kedelai

Tingkatkan ketahanan pangan, petani tanam padi, jagung, dan kedelai

Anggota Kelompok Tani Bojongsari, Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungreja, Cilacap, Kamis (12-7-2018), melakukan penanaman kedelai menggunakan metode "superbodi" pada lahan sawah yang telah selesai panen padi sebagai upaya mendukung program Upsus Pajale. (Foto: Sumarwoto)

Cilacap (Antaranews Jateng) - Petani di Desa Bojongsari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, siap mendukung program Upaya Khusus Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale) yang dilaksanakan pemerintah dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan.

"Kami berusaha maksimal untuk mendukung program Upsus Pajale dari pemerintah agar hasil pertanian khususnya petani Bojongsarai bisa lebih meningkat sehingga perekonomiannya menjadi lebih bagus," kata Ketua Kelompok Tani Bojongsari Agus Asy`ari di Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungreja, Cilacap, Kamis.

Oleh karena itu, kata dia, petani Bojongsari yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat langsung menanam kedelai pada lahan mereka setelah selesai memanen padi.

Ia mengharapkan langkah tersebut dapat mendukung upaya pemerintah dalam mencapai swasembada kedelai.

Terkait dengan tanaman padi, dia mengatakan pihaknya mendapat program "demonstrasi farming (demfarm) yang didanai APBD Provinsi Jateng untuk menanam padi hibrida Sembada 989 pada lahan seluas 25 hektare.

"Alhamdulillah padi hibrida Sembada 989 ini diterima dengan baik oleh petani Bojongsari karena hasil panennya sangat tinggi, bisa dua kali lipat dari padi biasa. Padi hibrida Sembada 989 mendapat respons positif dari petani dan mereka mengharapkan varietas tersebut dapat ditanam kembali pada musim tanam pertama tahun 2018/2019," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Cilacap Erma Syahyuni mengatakan pihaknya menyambut baik upaya yang dilakukan anggota Kelompok Tani Bojongsari yang langsung menanam kedelai pada lahan sawahnya yang sudah selesai panen padi.

Menurut dia, kedelai yang ditanam petani Bojongsari merupakan varietas Grobogan yang memiliki potensi produksi sebesar 3-4 ton per hektare namun pihaknya mengharapkan minimal bisa menghasilkan 1,5 ton per hektare.

"Penanaman kedelai ini untuk mengisi pola tanam pada MT (Musim Tanam) III yang berbarengan dengan musim kemarau sehingga ketersediaan airnya sedikit," katanya.

Selain itu, kata dia, kegiatan tersebut juga merupakan upaya untuk mendukung program swasembada kedelai yang dicanangkan pemerintah.

Menurut dia, Kelompok Tani Bojongsari merupakan salah satu kelompok yang mendapat bantuan untuk menyukseskan swasembada kedelai dengan menggunakan metode tanam "superbodi" atau memasukkan biji kedelai di tengah bonggol padi.

"Kami menargetkan luas tanaman kedelai di Kabupaten Cilacap mencapai 20.000 hektare, khusus untuk Kecamatan Kedungreja seluas 1.940 hektare," katanya.

Ia mengatakan berdasarkan perhitungan, Kabupaten Cilacap agar bisa mencapai swasembada kedelai minimal dibutuhkan lahan seluas 14.000 hektare sehingga pihaknya menargetkan luasan tanaman kedelai mencapai 20.000 hektare. 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar