Menjaga eksistensi "Jogo Tonggo" di tatanan hidup baru

id menjaga eksistensi ,jogo tonggo,covid

Menjaga eksistensi "Jogo Tonggo" di tatanan hidup baru

Posko Jogo Tonggo di Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Santri kami wajibkan memakai masker ketika keluar kompleks pondok pesantren
Kudus (ANTARA) - Program "Jogo Tonggo" yang digagas pemerintah daerah memang layak diapresiasi karena bertujuan melibatkan semua elemen masyarakat dalam memerangi penyakit virus corona (COVID-19) yang sudah menjangkiti banyak orang hingga ada yang meninggal dunia.

Jogo tonggo sendiri bertujuan untuk saling menjaga antar tetangga, terutama tetangga yang tengah terpapar virus corona dan harus menjalani isolasi mandiri di rumah, maka tetangga yang berperan menjaganya, demikian sebaliknya.

Hanya saja, gaung Jogo Tonggo di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terlihat mulai meredup seiring aktivitas masyarakat yang mulai seperti biasa atau memasuki tatanan kehidupan baru dan terkesan rasa khawatir terpapar virus corona baru mulai menurun.

"Meskipun kesannya mulai berkurang, tetapi kami masih saling mengingatkan agar tetap mematuhi protokol kesehatan, mulai dari memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak," kata relawan Jogo Tonggo Desa Rendeng Benny Haryanto di Kudus, Rabu.

Hal itu, kata Benny, yang juga Ketua Rukun Tetangga (RT) 2 RW 1 Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, biasa dilakukan ketika berbincang-bincang di grup whatsapp warga atau ketika tengah menyampaikan informasi penting untuk warga.

Pada bagian akhir informasi, kata dia, selalu diselipkan kalimat untuk mematuhi protokol kesehatan, mulai dari memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak serta menghindari kerumunan.

Ia mengakui untuk mengingatkan secara langsung terhadap warga agar selalu memakai masker memang tidak ada karena warga dianggap sudah memiliki kesadaran.



Mulai berkurang

Tugas Jogo Tonggo di posko yang biasanya dihadiri warga dari RW 1, kata dia, saat ini beberapa orang di antaranya tidak bisa memenuhi tugas jaga di pos ronda yang juga dijadikan posko Jogo Tonggo karena mulai sibuk beraktivitas.

Meskipun demikian, masih ada warga yang rutin bertugas di posko.

"Khusus malam hari, tugas ronda juga masih aktif karena tujuannya untuk menjaga keamanan lingkungan warga," ujarnya.

Sementara kegiatan penyemprotan perkampungan warga dengan cairan disinfektan, diakui mulai berkurang, dari sebelumnya setiap akhir pekan, kini dilakukan dua pekan sekali dengan mempertimbangkan ketersediaan cairan disinfektan.

Anggaran khusus untuk posko Jogo Tonggo memang tidak ada karena sebelumnya tergantung pada donatur yang siap menanggung biaya kegiatan posko.

Bahkan untuk tempat isolasi bagi warga yang terpapar virus corona, kata dia, menempati hotel yang ada di daerah setempat, namun saat ini dimungkinkan tidak disediakan lagi karena tidak ada lagi anggaran untuk itu.

Meskipun aktivitas posko mulai meredup, namun ketika ada acara hajatan warga tetap saling bergotong-royong, terutama menyediakan tempat cuci tangan serta cairan pembersih tangan.

Hal tersebut, kata dia, juga menandakan kesadaran masyarakat mematuhi protokol kesehatan juga masih tetap terjaga.

Baca juga: "Mlaku-Mlaku Tilik Kampung" kuatkan Satgas Jogo Tonggo

Di lingkungan RT 2 Desa Rendeng tersebut, memang tampak berbeda dengan daerah lainnya karena banyak sekali poster dan spanduk yang mengingatkan warganya untuk mematuhi protokol kesehatan serta terdapat tempat cuci tangan di beberapa sudut perkampungan.

Desa Rendeng sebelumnya juga dinobatkan sebagai kampung tangguh nusantara yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan saat beraktivitas sehingga bisa menekan kasus penyebaran penyakit virus corona.

Warga setempat juga memiliki kebiasaan bersedekah setiap hari Jumat bagi warga yang mampu dengan cara menggantungkan bungkusan yang berisi aneka sayuran maupun kebutuhan pokok lain di tembok sudut jalan untuk membantu warga yang terdampak COVID-19 atau kurang mampu secara ekonomi.



Jogo Tonggo Kit

Sebelumnya pemerintah berupaya memaksimalkan peran dengan memberikan bantuan Jogo Tonggo Kit atau perlengkapan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jateng sebagai stimulan untuk mendorong masyarakat lebih aktif dalam menanggulangi penyebaran penyakit virus corona.

Kabupaten Kudus yang memiliki 132 desa/kelurahan juga mendapatkan bantuan tersebut sebagai upaya pemberdayaan masyarakat.

Upaya penanganan COVID-19, di antaranya dengan memutus mata rantai penularan, mencegah transmisi, dan mengubah perilaku masyarakat.

Baca juga: Satgas Jogo Tonggo Karimunjawa jadi garda terdepan adaptasi kebiasaan baru

Pemkab Kudus juga memberikan stimulan untuk mencegah munculnya kluster penularan COVID-19 di pondok pesantren dengan memberikan bantuan berbagai kebutuhan, seperti alat pelindung diri (APD) maupun kebutuhan lainnya.

Di antaranya untuk pengadaan masker, alat pelindung wajah (face shield), sarung tangan, sepatu bot karet, alat penyemprot, penyanitasi tangan (hand sanitizer), serta cairan disinfektan.

Selain itu, ponpes yang belum memiliki tempat cuci tangan tentunya juga bisa mengajukan bantuan untuk hal itu karena kebutuhan untuk menghadapi COVID-19 di masing-masing pondok.

Pengasuh Ponpes Yasin Kudus Agus Nafi mengaku terbantu dengan adanya bantuan APD dari Pemkab Kudus.

Untuk mencegah terjadinya penularan, maka setiap santri yang baru datang wajib menjalani pemeriksaan kesehatan dan diwajibkan mencuci tangan pakai sabun dan pakai masker.

"Jika ada gejala flu, batuk dan suhu tubuhnya di atas 37,3 derajat celsius, maka kami sarankan tetap di rumah sambil menunggu kesehatan pulih kembali, baru boleh ke ponpes," ujarnya.

Baca juga: Tim Jogo Tonggo diminta waspada COVID-19 saat libur panjang

Di pintu masuk pondok pesantren disediakan tempat cuci tangan, cairan pembersih tangan serta ada petugas yang akan mengukur suhu tubuh setiap santri yang baru masuk.

Bagi santri yang sudah menjalani pemeriksaan kesehatan dan berada di lingkungan pondok cukup lama, memang tidak selalu memakai masker karena di dalam ruangan terus menerus memakai masker juga tidak nyaman.

"Santri kami wajibkan memakai masker ketika keluar kompleks pondok pesantren," ujarnya.

Untuk menjaga agar tidak terjadi penularan virus corona baru, maka dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk saling mengingatkan pentingnya mematuhi protokol kesehatan.*

Baca juga: Bisnis helm sepeda di tengah pandemi diapresiasi wali kota
Baca juga: Wali Kota Magelang apresiasi warga buat "Lumbung Jogo Tonggo"
Pewarta :
Editor: Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar