Doni Monardo: Sekali lagi tidak ada mudik

id Doni Monardo,Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona,virus corona

Doni Monardo:   Sekali lagi tidak ada mudik

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Virus Corona (COVID-19) sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta agar masyarakat membatalkan niat untuk mudik sepanjang pandemi COVID-19 masih terjadi.

"Perintah Presiden, tidak ada mudik, sekali lagi tidak ada mudik, semuanya kita bisa menahan diri dan bersabar untuk tidak mudik terlebih dahulu," kata Doni Monardo di kantornya di Jakarta, Senin.

Doni menyampaikan hal tersebut seusai mengikuti rapat terbatas dengan tema "Laporan Tim Gugus Tugas COVUD-19" yang dipimpin Presiden Joko Widodo melalui video conference.

Presiden Joko Widodo menyatakan larangan mudik bagi seluruh masyarakat Indonesia sejak 21 April 2020 untuk mencegah penyebaran COVID-19 lebih luas lagi.

Baca juga: Ketua gugus tugas: Tes COVID-19 masih terkendala sumber daya manusia

Baca juga: Puluhan karyawan Sampoerna yang positif COVID-19 telah diisolasi


Kementerian Perhubungan juga telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan No 25 tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Ruang lingkup dari peraturan tersebut adalah, larangan sementara penggunaan sarana transportasi umum, baik untuk transportasi darat, laut, udara, dan kereta api, serta kendaraan pribadi dan sepeda motor, dengan tujuan keluar dan atau masuk wilayah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau pembatasan sosial berskala besar, wilayah zona merah penyebaran COVID-19, dan Jabodetabek atau wilayah aglomerasi lainnya yang telah ditetapkan pembatasan sosial berskala besar

"Masyarakat diingatkan jangan mencuri-curi kesempatan karena kalau hal itu masih dilakukan maka akan menimbulkan risiko bagi kampung halaman. Kebiasaan kita untuk bertemu dan berpelukan, bersalaman dengan orang-orang yang kita sayangi, berdekatan justru membahayakan mereka," kata Doni.

Karena pemudik bisa saja tidak sadar bahwa mereka menderita COVID-19, namun dalam kategori Orang Tanpa Gejala (OTG).

"Kita telah menjadi carrier sebagai pembawa virus dan ketika kita menyentuh saudara kita, kita malah menulari. Bila yang tertular adalah kelompok rentan dan memiliki penyakit penyerta maka risiko terpapar dan terinfeksi, sakit ringan, sedang bahkan bisa meninggal. Apabila kita sayang keluarga, untuk sementara ini tahan untuk tidak pulang dulu," kata Doni.

Ia mengajak agar masyarakat betul-betul patuh larangan pemerintah.

"Betul-betul kita bisa menghindari keinginan untuk pulang agar kita semua menjaga diri tidak terpapar dan tidak tertular. Di beberapa provinsi bahkan kasusnya nihil, jangan sampai ada pemudik malah ada kasus baru sementara di daerah dokter, perawat, rumah sakit terbatas. Jumlah dokter paru kita adalah 1.973 artinya 1 dokter paru melayani 1,2 juta warga negara Indonesia," ungkap Doni.

Dengan ketaatan masyarakat tidak mudik maka dokter dan tenaga medis lainnya tidak akan menjadi kelelahan dan malah menurun imunitas tubuhnya hingga berpotensi terpapar COVID-19.

"Kalau kita sayang dokter kita jangan merepotkan para dokter dan perawat termasuk juga bagi ODP (Orang dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) ang tidak disiplin dan masih keluar dari tempat isolasi ODP dan PDP bisa membahayakan kesehatan masyarakat," tambah Doni.

Hingga Ahad (3/5) jumlah terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia mencapai 11.192 orang dengan 1.876 orang dinyatakan sembuh dan 845 orang meninggal dunia dengan jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) mencapai 23.130 orang dan orang dalam pemantauan (ODP) berjumlah 236.369 orang dengan jumlah spesimen yang diperiksa adalah 112.965.

Kasus positif COVID-19 ini sudah menyebar di  34 provinsi di Indonesia dengan daerah terbanyak positif yaitu DKI Jakarta (4.463), Jawa Timur (1.117), Jawa Barat (1.054), Jawa Tengah (776), Sulawesi Selatan (601), Banten (432), Nusa Tenggara Barat (269), Bali (262), Papua (240), Sumatera Barat (195), Kalimantan Selatan (195), Sumatera Selatan (185).

Berdasarkan data dari situs Worldometers, hingga Senin (4/5) pagi terkonfirmasi di dunia ada 3.566.004 orang yang terinfeksi virus Corona dengan 248.282 kematian dan 1.154.004 orang yang dinyatakan sembuh.

Kasus di Amerika Serikat mencapai 1.188.122 kasus, di Spanyol 247.122 kasus, di Italia 210.717 kasus, di Inggris 186.599, di Prancis 168.693, di Jerman sebanyak 165.664, di Rusia 134.687 dan di Turki 126.045.

Jumlah kematian tertinggi bahkan saat ini terjadi di Amerika Serikat yaitu sebanyak 68.598 orang, disusul Italia yaitu sebanyak 28.884 orang, Inggris sebanyak 28.446 orang, Prancis sebanyak 24.895 orang, Belgia sebanyak 7.844 orang. Saat ini sudah ada lebih dari 213 negara dan teritori yang mengonfirmasi kasus positif COVID-19.*

Baca juga: Ada 168 pabrik di Jakarta disegel karena langgar protokol kesehatan

Baca juga: Gugus Tugas sebut kasus baru COVID-19 turun hingga 11 persen


 

Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar