Jateng ekspor perdana 300 ton biskuit ke Bangladesh

id ekspor biskuit,ekspor jawa tengah

Jateng ekspor perdana 300 ton biskuit ke Bangladesh

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Kepala Balai Karantina Pertanian Ali Jamil melihat beberapa komoditas pertanian yang diekspor ke berbagai negara. (Foto:Wisnu Adhi)

Semarang (ANTARA) - Jawa Tengah untuk pertama kali mengekspor biskuit yang diproduksi PT Tiga Pilar Sejahtera yang bekerja sama dengan United States Agency for International Development (USAID) sebanyak 300 ton atau senilai Rp5,5 miliar ke Bangladesh.
 
"Ternyata kita juga turut serta dalam pemenuhan gizi internasional. Biskuit inikan tinggi nutrisinya bisa untuk pencegahan stunting," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat melepas pemberangkatan ekspor di Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Semarang, Rabu.

Menurut Ganjar, pengiriman biskuit tersebut melengkapi jumlah ekspor produk pertanian yang dilakukan Jawa Tengah satu bulan terakhir.

Selama ini, lanjut Ganjar, Jawa Tengah juga terus mengekspor sarang walet senilai Rp4,2 miliar, daun cincau 28 kilogram ke Malaysia, gula merah 3,4 ton ke Srilanka, dan margarin ke Bangladesh sebanyak 1,2 ton.

"Tentu ini menggembirakan karena bisa berkontribusi positif pada neraca perdagangan. Pesan saya untuk eksportir, kalau makmur petaninya juga harus dimakmurkan," ujarnya.

Tercatat, produk pertanian telah memberi kontribusi besar pada neraca perdagangan di Jawa Tengah karena telah mengekspor dengan total nilai Rp586 miliar sejak 1 Agustus 2019.

Baca juga: Ekspor perikanan Jawa Tengah terus meningkat

Kepala Balai Karantina Pertanian Ali Jamil menambahkan hal itu merupakan capaian yang luar biasa.

"Naik 40 persen di periode sama pada tahun lalu. Ini akan semakin bisa melonjak jika bisa memenuhi permintaan daun pakis ke Australia, kemukus, daun pandan, terong 150 ton dari permintaan 500 ton dari Jepang," katanya.

Secara keseluruhan nilai ekspor Jawa Tengah per Mei 2019 mencapai 776,66 juta dollar Amerika atau naik 11,81 persen dibanding April 2019, yaitu 694,64 juta dollar Amerika.

Menurut dia, hal tersebut disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar 13,14 persen atau dari 685,00 juta dollar Amerika menjadi 775,03 juta dollar Amerika.

"Lonjakan tersebut karena produktivitas masyarakat dan jalinan mesra dengan pemerintah, tapi ya harus terus ditingkatkan. Pak Gubernur ini tadi siap membantu. Untuk 'flight' ke Tiongkok tadi misalnya jika eksportir kesulitan. Ini jalinan luar biasa," ujarnya. (Kom)

Baca juga: Barata ekspor komponen turbin ke Australia
Baca juga: Meningkat, ekspor mebel Soloraya tak terpengaruh perang dagang
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar