103 desa di Temanggung rawan longsor

id longsor temanggung

103 desa di Temanggung rawan longsor

Ilustrasi - Pengendera sepeda motor melintas di lokasi longsor di ruas jalan Kedu-Jumo Desa Ngadimulyo, Kedu, Temanggung, Jateng, Minggu (11/11/2018). Hujan lebat sehari sebelumnya mengakibatkan longsor di jalan raya antar kecamatan, untuk sementara kendaraan roda empat dilarang melintas di jalur tersebut. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/tom.

Temanggung (Antaranews Jateng) - Sebanyak 103 desa/kelurahan di wilayah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah rawan bencana longsor berdasarkan pemetaan dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi di Temanggung, Senin, mengatakan dari 289 desa/kelurahan di daerah itu, sedikitnya terdapat 103 desa/kelurahan berpotensi longsor, terutama saat musim hujan.

Ia menuturkan sejumlah desa/kelurahan itu tersebar di seluruh kecamatan di Temanggung.

Ia menyebutkan wilayah kecamatan paling banyak desa/kelurahan rawan longsor, yakni Kaloran sebanyak sembilan desa/kelurahan, Kemudian Pringsurat dan Wonoboyo masing-masing delapan desa/kelurahan dan paling sedikit di Kecamatan Jumo terdapat satu desa.

"Untuk Kecamatan Gemawang memiliki tujuh desa dan Wonoboyo delapan desa, semuanya merupakan daerah rawan longsor," katanya.

Ia mengatakan sejumlah desa rawan longsor karena kondisi geografis berupa perbukitan.

Gito menuturkan guna mengantisipasi kejadian bencana BPBD Kabupaten Temanggung menyiapkan posko bencana di beberapa daerah rawan bencana pada musim hujan ini.

Ia menyebutkan posko tersebut meliputi Temanggung untuk mengampu wilayah Kecamatan Temanggung, Tlogomulyo, Bulu, Tembarak, dan Kedu. Posko Parakan mengampu wilayah Kecamatan Ngadirejo, Parakan, Kledung, dan Bansari.

Kemudian posko Candiroto mengampu wilayah Kecamatan Candiroto, Tretep, Bejen, dan Wonoboyo. Posko Kaloran mengampu wilayah kecamatan Kaloran, Pringsurat, Kandangan, Gemawang, dan Kranggan.

"Masing-masing posko ada 10 personel, mereka siaga 24 jam secara bergantian," ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat di daerah rawan bencana untuk selalu waspada, terutama jika terjadi hujan deras dalam durasi lama.

"Kalau memang kondisi mengkhawatirkan segera mengungsi ke daerah yang lebih aman," lanjutnya. 

Ia menyebutkan imbauan kepada masyarakat yang paling penting adalah tanggap atau respon cepat ketika hujan deras, hujan lebat disertai angin.

"Saya kira masyarakat lebih paham baik dengan ilmu titen atau ilmu tradisional. Kalau hujan lebat mereka berteduh di tetangga yang lebih aman," katanya.  
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar