Memori yang tertancap Festival Lima Gunung

id festilval lima gunung, komunitas lima gunung

Memori yang tertancap Festival Lima Gunung

Sejumlah produk kaos Festival Lima Gunung XVIII/2018 dipajang di Studio Mendut Kabupaten Magelang. (Foto: Hari Atmoko)

Untuk yang panitia tidak ambil untung, semata-mata memberi semangat mereka agar giat menyiapkan festival dan jadi kenangan kerja keras mengurus festival tahun ini
Seorang bos hotel bintang empat, siang itu sudah berada di sawah tepi Dusun Wonolelo, Desa Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang disewa panitia Festival Lima Gunung XVII/2018 untuk didirikan panggung pertunjukan.

Sepeda motornya yang model automatik berwarna merah diparkir di tepi jalan aspal di areal persawahan dusun yang menjadi lokasi festival seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang pada 10-12 Agustus 2018.

Selain momong dua anaknya bermain dan berlarian di areal tersebut, bos yang juga salah satu pegiat kepariwisataan Magelang bernama Chandra Irawan itu, dengan kameranya juga mendokumentasikan aktivitas para pemuda Wonolelo melanjutkan pembuatan panggung seluas 200-an meter persegi dengan instalasi seni menggunakan berbagai bahan alam setempat.

Pihak komunitas seniman petani di kawasan Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh yang mengelilingi Kabupaten Magelang menamai tempat pertunjukan itu sebagai "Panggung Sawah". Satu panggung lainnya untuk festival tahun ini dibangun mereka di tengah permukiman warga Dusun Wonolelo, dinamai "Panggung Kampung".

Sekitar 80-an acara pementasan dan agenda seni budaya lainnya telah terdaftar dalam festival secara mandiri mendatang. Pementasan itu akan dilakukan oleh berbagai kelompok seniman komunitas, beberapa grup kesenian di Magelang, dan lainnya dari sejumlah kota di Indonesia. Dalam rangkaian festival itu juga diselenggarakan kirab budaya, pameran seni rupa, pameran foto, pengajian, peluncuran buku puisi, dan pidato kebudayaan.

Setelah pembukaan operasional pada akhir 2012, Hotel Atria Kota Magelang di mana Chandra Irawan sebagai general manajer, memasang informasi Festival Lima Gunung sebagai salah satu item atraksi wisata daerah setempat dalam bagian "I See (Aku lihat)" katalognya. Melalui cara itu, pihaknya hendak menancapkan memori kepada para tamu hotel bahwa di daerah itu ada agenda festival seniman petani yang layak dikunjungi.

Ia memang salah satu di antara para sosok rendah hati yang sering hadir dalam berbagai agenda seni budaya komunitas tersebut dan sesekali secara mendadak didaulat pidato apa saja yang dia mau di panggung pementasan Komunitas Lima Gunung.

Video pendek dan sejumlah foto tentang aktivitas warga Wonolelo membuat panggung sawah yang didokumentasikannya siang itu pun, ditancapkan ke akun media sosial terbuka maupun jejaring medsos tertutupnya. Dalam video pendek tentang lanskap panggung itu, ia menyampaikan narasi "I See" tentang festival tersebut.

"Apik, keren, `monggo dhulur-dhulur` (mari saudara-suadara) yang mau nonton, agendanya silakan dicek nanti ada selanjutnya. Pokoknya kita guyup, gayeng bareng, goblok bareng (Festival Lima Gunung XVII/2018 bertema `Masih Goblok Bareng`, red.) bersama Komunitas Lima Gunung dan warga desa sekalian. Hebat, hebat!" begitu ia menarasikan muatan video yang diunggah ke medsosnya.

Festival Lima Gunung yang tahun ini sebagai ke-17 kali diselenggarakan Komunitas Lima Gunung, memang telah menancap kuat dalam memori publik, bahkan hingga kalangan masyarakat internasional.

Mungkin kekuatan tancapan memori festival terletak pada narasi kemandirian penyelenggaraan, eksplorasi nilai-nilai lokal desa dan gunung dengan ekosistem alam sosialnya, serta pengungkapan makna atas proses dialogis inspirasi para petingginya yang dibangun oleh budayawan Magelang Sutanto Mendut.

"Jangan jadi seniman yang hanya bisa gondrong, nunggu diundang pentas, kalau tidak ada pementasan `dheleg-dheleg` (lemas, sedih, atau kesepian, red.). Setiap hari harus tetap kerja keras. Itu yang akan dikenang dan bikin umur panjang," kata Sutanto yang juga pemimpin tertinggi Komunitas Lima Gunung dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan pegiat komunitasnya.

Suvenir

Beberapa pegiat komunitas dan jejarignya memang ada yang menancapkan memori festival itu dalam wujud suvenir yang diproduksi dengan modal mandiri dan didistribusikan, baik melalui cara konvensional maupun dipasarkan dengan memanfaatkan internet secara online atau dalam jaringan/daring.

Seorang pegiat Komunitas Lima Gunung, Arie Kusuma, merintis pembuatan suvenir festival berupa kaos sejak 2009. Awalnya jumlah kaos yang dibuat dengan desain sendiri, diproduksi di Magelang dan Yogyakarta itu, sengaja dibatasi hanya sekitar 30-50 potong.

Selanjutnya, setiap festival, ia membuat kaos eksklusif tersebut. Pada festival tahun ini, Arie membuat tiga desain dengan total 150 potong kaos Festival Lima Gunung bertuliskan tema "Masih Goblok Bareng".

Harga satu potong kaos Rp70.000 dengan pemasaran di kalangan komunitas dan jejaringnya di berbagai kota, seperti Jakarta, Bandung, Madiun, Kediri, Lumajang, Aceh, Bulukumba, Surabaya, Denpasar, dan Yogyakarta.

"Belum termasuk ongkos kirim Mas, sebagian sudah dikirim kepada pemesan (sebelum festival, red.)," ujar Arie yang juga bertugas menyusun agenda padat pementasan para seniman dengan grupnya masing-masing selama tiga hari festival itu.

Begitu pula dengan Sujono, pensiunan tentara yang kini memimpin Sanggar Batara Dusun Jurang, Desa Bandongan Kabupaten Magelang, salah satu grup kesenian yang tergabung dalam Komunitas Lima Gunung. Anak buahnya didorong untuk mendesain dan memproduksi suvenir berupa kaos dan topi Festival Lima Gunung.

Total produksi topi sekitar 150 buah, sedangkan kaos sekitar 400 potong dengan modal sekitar tujuh juta rupiah. Selain dijual di kalangan komunitas, juga untuk panitia lokal festival yang warga Dusun Wonolelo dan Dusun Jurang. Ia memberdayakan pemilik usaha konveksi di Wonolelo untuk pembuatan kaos, sedangkan topi diproduksi di Tempuran, Kabupaten Magelang.

Produksi kaosnya termasuk untuk para anggota panitia lokal dengan harga tebus yang relatif murah. Ia menyebut harga khusus untuk mereka sekadar pengganti biaya jahit dan sablon, yakni Rp15 ribu untuk panitia warga Wonolelo dan Rp10 ribu untuk panitia warga Jurang, kampung tempat tinggalnya. Untuk harga topi Rp50 ribu per buah.

"Untuk yang panitia tidak ambil untung, semata-mata memberi semangat mereka agar giat menyiapkan festival dan jadi kenangan kerja keras mengurus festival tahun ini. Biar senang hati dan tetap bertanggung jawab," kata Sujono dengan kesenian utama sanggarnya berupa tarian "Goh Muko".

Ia juga berencana menurunkan sejumlah anak buahnya untuk membuka lapak penjualan kaos dan topi festival di arena pergelaran itu di Dusun Wonolelo. Keuntungan dari hasil penjualan, digunakan sebagai kas sanggar.

Pihak panitia telah menyiapkan beberapa tempat khusus di arena festival untuk para pedagang kaki lima berjualan aneka barang, seperti makanan, minuman, mainan anak-anak, dan suvenir lainnya.

Seorang pegiat kelompok Centhini Gunung, salah satu grup khusus perempuan seniman di bawah Komunitas Lima Gunung yang berkedudukan di Yogyakarta, Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar, juga memanfaatkan kesempatan Festival Lima Gunung tahun ini untuk membuat kaos. Desain kreatif kaosnya yang tidak lepas dari label "Masih Goblok Bareng", secara khusus untuk melayani pesanan jejaringnya.

Sebanyak 34 kaos lengan pendek untuk memenuhi pesanan kawan-kawan jejaringnya dengan harga Rp75 ribu per potong, sedangkan 10 kaos lainnya yang lengan panjang khusus dipesan Sutanto Mendut dengan harga Rp85 ribu per potong.

"Dua warna, hitam dan putih," kata Setya yang dalam festival mendatang bersama 20 seniman tergabung dalam grup "Duo Sandal Jepit" dan "Slendrolog Tukang Nggamel" Yogyakarta pentas karya seni kontemporer pada hari kedua.

Salah satu meja di Studio Mendut yang menjadi markas besar Komunitas Lima Gunung dan rumah tinggal budayawan Sutanto juga terpajang beberapa kaos dengan aneka desain tentang Festival Lima Gunung yang semuanya menancapkan tulisan tentang tema "Masih Goblok Bareng".

Ukuran para pemetik Festival Lima Gunung sebagai kesempatan memproduksi barang kreatif itu, memang bukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan ekonomi sesaat.

Akan tetapi, merekalah bagian penting dari keseluruhan para penancap Festival Lima Gunung agar memorial, menjadikan festival mandiri para seniman petani komunias itu berumur panjang dalam kenangan.
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar