BI: Pertumbuhan ekonomi Kudus di bawah 4 persen

id BI, pertumbuhan ekonomi, kudus

BI: Pertumbuhan ekonomi Kudus di bawah 4 persen

Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah V Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta Hamid Ponco Wibowo menyerahkan kenang-kenangan kepada Penjabat Sekda Kudus Sudjatmiko pada sarasehan.

Kudus (Antaranews Jateng) - Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, selama lima tahun terakhir menunjukkan tren melambat, kata Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah V Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta Hamid Ponco Wibowo.

"Tren melambat selama lima tahun terakhir dimulai 2012-2016, khususnya pada 2015 dan 2016 mengingat pertumbuhan ekonominya tercatat di bawah 4 persen," ujarnya saat membuka sarasehan "Wisata Religi di Kawasan Kudus-Demak" dalam rangka Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2018 di Pendopo Kabupaten Kudus, Senin.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Kudus selama 2012-2016 cenderung berada di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.

Ia mengatakan kabupaten Kudus memiliki peran besar terhadap perkembangan perekonomian di Jateng.

Bahkan, lanjut dia, perekonomian Kabupaten Kudus menyumbang 8,30 persen terhadap perekonomian Jateng dan menjadi kabupaten penyumbang PDRB terbesar ketiga setelah Kota Semarang dan Kabupaten Cilacap.

Perekonomian di Kabupaten Kudus, lanjut dia, didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan yang mencapai 81,06 persen, disusul perdagangan 5,37 persen, dan konstruksi 3,27 persen.

Kabupaten Kudus, lanjut dia, juga memiliki daya tarik bagi pencari kerja di luar Kudus.

"Banyaknya industri pengolahan yang berorientasi ekspor agak menurun atau stagnan, tentunya harus mencari alternatif lain," ujarnya.

Salah satunya, kata dia, melalui penggalian potensi wisata yang bisa dieksplorasi di Kudus dan Demak.

Kegiatan ini, lanjut dia, merupakan salah satu rangkaian kegiatan BI untuk menggali potensi ekonomi di masing-masing daerah yang dikemas dengan FESyar.

Sementara di Kabupaten Demak yang memiliki pangsa 1,92 persen terhadap perekonomian Jateng, kata dia, menunjukkan rata-rata pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni sebesar 5 persen dalam lima tahun terakhir.

Sektor industri pengolahan juga memiliki pangsa terbesar terhadap PDRB Kabupaten Demak sebesar 29,63 persen, meskipun tidak terlalu dominan seperti di Kabupaten Kudus.

Akan tetapi, kata dia, sektor tersebut mampu menggeser pangsa sektor pertanian sejak 2014 sehingga sektor pertanian menduduki posisi kedua dengan pangsa sebesar 24,28 persen, diikuti sektor perdagangan sebesar 15,65 persen.

Terkait dengan perkembangan harga, inflasi di Kudus dan Demak sampai dengan triwulan I tahun 2018 masih relatif terkendali, atau berada dalam target inflasi sebesar 3,5 persen ? 1 persen.

Inflasi di Kudus relatif lebih tinggi dibanding inflasi di Jateng, dimana per Maret 2018 inflasi di kota tersebut tercatat 3,54 persen untuk (year on year/yoy) atau 1,63 persen untuk inflasi tahun kalender (year to date/ytd).

Capaian inflasi tersebut lebih tinggi dibanding inflasi Jateng sebesar 3,39 persen (yoy) atau 1,24 persen (ytd).

Sementara itu, inflasi di Demak relatif lebih rendah yaitu sebesar 3,38 persen (yoy) atau 1,22% (ytd).

 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar