Ada sarana hiburan pasien COVID-19 di RSD Wisma Atlet meski belum variatif

id rumah sakit darurat wisma atlet,virus corona, COVID 19

Ada sarana hiburan pasien COVID-19 di RSD Wisma Atlet meski belum variatif

Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran itu siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA/Hafidz Mubarak A/Pool/hp.

Jakarta (ANTARA) - Dansatgas Kesehatan Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, Brigjen TNI Dr Agung H mengatakan fasilitas RSD tempat pasien COVID-19 dirawat belum memiliki sarana hiburan yang variatif.

"Di masing-masing lantai kami sadar ada kekurangan, khususnya tidak ada sarana hiburan," kata Agung di Jakarta, Jumat.

Baca juga: 71 pasien COVID-19 dirawat di RS Wisma Atlet hingga Selasa

Kendati begitu, katanya, RSD Wisma Atlet didukung jaringan internet dari Telkom melalui sambungan Wi-Fi yang bisa dipakai untuk penjajakan mandiri atau "self assesment" dari pasien COVID-19 melalui aplikasi dari Kementerian Kesehatan.

Melalui aplikasi tersebut, kata dia, pasien dapat menyampaikan keluhannya soal perkembangan kesehatannya. Selain itu, di tiap-tiap lantai RSD memiliki grup percakapan instan WhatsApp atau grup WA sehingga menjadi forum komunikasi pasien dan perawat.

Agung mengatakan jaringan Wi-Fi juga bisa dipakai pasien RSD Wisma Atlet untuk berselancar internet, termasuk untuk menyimak siaran televisi melalui gadget yang dibawa.

Dengan begitu, kata dia, pasien memiliki alternatif hiburan dan bisa mengurangi kejenuhan pada masa penyembuhan dan perawatan di rumah sakit darurat tersebut.

Pasien, lanjut dia, juga bisa meminta tolong keluarganya untuk mengirimkan sejumlah barang seperti laptop, pakaian dan kebutuhan pribadi lainnya, sehingga mereka dapat nyaman di ruang perawatan.

Baca juga: Wisma Atlet jadi RS Darurat COVID-19 mulai beroperasi 23 Maret 2020

Dia mengaku paham dengan kejenuhan pasien di ruang isolasi. Oleh karena itu, selain Wi-Fi juga ada ruang rekreasi di lantai tiga dengan mereka tetap menjaga protokol keselamatan, sehingga tidak membahayakan.

"Selanjutnya, pasien boleh berjalan-jalan di lorong tersebut. Harapan kami, karantina bukan 'strict' seperti menahan pasien. Pasti merasa terkungkung hampir 14 jam di kamar, tapi kamar tidak terkunci, jadi pasien bisa jalan keluar. Ada dispenser di setiap lantai," kata dia.
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar